Kembali Ke Sistem Kerja Sebelum Pandemi: Peluang dan Resikonya

XM broker promo bonus

Percaya atau tidak, masyarakat tidak lagi menyiapkan diri untuk kembali ke cara bekerja sebelum pandemi. Jika terpaksa harus kembali, malahan akan banyak yang memilih berhenti dari pekerjaannya. Ketika pandemi global menunjukkan tanda-tanda berkurang, banyak perusahaan yang memutuskan untuk kembali ke sistem kerja sebelum pandemi. Ketika angka vaksinasi semakin meningkat di seluruh dunia, perusahaan mulai mengambil keputusan untuk memanggil kembali karyawannya, namun mereka dihadapkan dengan satu realita yang tidak menyenangkan: kebutuhan dan kesukaan karyawan ternyata berubah.

Kenyataannya, banyak karyawan yang tidak siap untuk kembali ke sistem kerja sebelum pandemi. Bahkan jika dipaksa, jutaan orang siap meninggalkan pekerjaannya. Fleksibilitas yang dirasakan saat mereka bekerja dari rumah benar-benar menjadi pertimbangan bagi karyawan saat mereka diminta kembali lagi bekerja dengan jam kerja teratur seperti biasa. Hal itu bahkan membuat frustrasi bagi banyak orang.

kembali ke sistem kerja sebelum pandemi

Kembali ke Sistem Kerja Sebelum Pandemi, Mungkinkah?

Trend di atas semakin mendapatkan momentumnya ketika banyak akademisi saat ini berbicara tentang peralihan dinamika kekuasaan dari karyawan menjadi pekerja. Jika perusahaan ingin mempertahankan talent setia yang diperlukan agar tetap kompetitif, maka menurut para ahli, mereka harus mencarinya di pasar tenaga kerja dan beradaptasi secara cepat. Sebelum memutuskan untuk kembali ke sistem kerja sebelum pandemi di perusahaan, cobalah timbang beberapa fakta berikut:

Belajar Dari Kehilangan

Seorang dekan profesor dari Birkbeck University London bernama Almuth McDowall menjelaskan bahwa kerugian selama 18 bulan terakhir memang sangat signifikan. Semua mengalami kehilangan, kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan kemerdekaan, dan kehilangan kontak dengan manusia. Kejadian-kejadian penting dalam hidup dapat membuat kita melihat kembali prioritas kita dan berusaha mencari sesuatu yang lebih berguna, yakni pekerja yang mendatangkan arti lebih banyak.

Baca Juga:   Membangun Budaya Kerja Yang Positif Dalam Organisasi

Pada saat yang sama, setelah melihat apa yang mungkin terjadi di bawah kondisi ekstrim, banyak pekerja merasa siap untuk menantang asumsi-asumsi yang berkembang mengenai lingkungan kerja yang ideal. Dampak dari pemikiran ini sudah mulai terlihat. Dalam sebuah survei yang melibatkan sekitar 2.000 orang di UK dan Irlandia pada bulan Maret, ditemukan bahwa lebih sepertiga responden melaporkan bahwa mereka berencana ganti peran dalam 6 hingga 12 minggu ke depannya, begitu perekonomian sudah kembali menguat.

Sementara itu, di Amerika Serikat, data menunjukkan bahwa telah terjadi semacam eksodus. Tercatat sebanyak 4 juta orang keluar dari pekerjaannya pada bulan April saja. Sejak saat itu, angka pengunduran diri sedikit berkurang, namun masih kategori tinggi.

Titik Perubahan Loyalitas

Setelah mengamati terjadinya gelombang pengunduran diri secara besar-besaran selama tahun 2020, Anthony Klotz, seorang profesor manajemen di Texas A&M Univesity memprediksi bahwa begitu pandemi berkurang,  akan banyak orang yang mulai mengambil langkah untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Terlihat jelas bahwa terjadi penurunan komitmen atau kesetiaan terhadap pekerjaan akibat pengaruh dari berbagai faktor. Para pemilik usaha mendapatkan perspektif baru tentang apa yang benar-benar penting bagi mereka. Pandemi telah menimbulkan matinya mata pencaharian banyak orang;  sehingga, masyarakat harus bereaksi, bertindak, dan mengubah strategi. Namun, ada juga alasan lain mengapa loyalitas atau komitmen keorganisasian cenderung berkurang.

Pekerjaan menyita banyak hal. Selama pendemi, identitas kita berubah. Masyarakat menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga. Sebagian bahkan sudah beralih ke wirausaha, pekerjaan sampingan, dan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan utama sebelum pandemi. Mungkin saja, sebagian tidak lagi mengaitkan diri mereka dengan pekerjaan sebelumnya. Artinya, secara emosional mereka tidak merasa begitu terikat lagi dengan pekerjaannya.

Baca Juga:   Resesi Akibat Covid-19: Mampukah UMKM Bertahan?
Fleksibilitas Keuangan

Elemen lain yang berpengaruh terhadap berkurangnya komitmen adalah keputusan dari sejumah perusahaan untuk meminta karyawannya kembali bekerja di kantor. Faktor keuangan secara khusus berpengaruh ketika mereka mempertimbangkan apakah akan kembali ke kantor atau tidak. Secara global, budaya perbankan masih berakar pada pelayanan langsung. Sebagian besar lembaga keuangan masih mengutamakan transaksi langsung. Artinya, pelayanan virtual atau jarak jauh ini hanya akan berlangsung sementara.  Namun, kembali ke sistem kerja sebelum pandemi justru menjadi masalah bagi karyawan.

Apapun sektornya, perusahaan yang menginstruksikan karyawannya untuk kembali ke kantor tanpa pengecualian harus mencari cara yang tepat dan menarik. Agar tetap kompetitif, badan usaha seperti bank dan perusahaan teknologi harus memahami bahwa sekalipun sistem kerja jarak jauh tidak banyak tersedia di masa lalu, teknologi ini akan tersedia semakin luas sejak saat ini. Mereka bisa kehilangan karyawan-karyawan terbaik jika tidak hati-hati dalam mengambil kebijakan untuk kembali ke sistem kerja sebelum pandemi.

Kembali ke Sistem Kerja Sebelum Pandemi: Kesimpulan

Saat ini, sistem kerja menjadi kriteria baru yang sangat penting bagi talent muda dalam menentukan apakah akan bergabung dengan sebuah perusahaan atau tidak. Jadi, para pelaku usaha harus melakukan strukturisasi terhadap lingkungan kerja pasca-pandemi. Meminta karyawan untuk kembali ke sistem kerja sebelum pandemi mesti dilakukan dengan pertimbangan matang. Jika tidak, perusahaanlah yang akan merugi.

Tagged With :

Leave a Comment