Kesenjangan Layanan Perbankan : Masihkan Relevan Saat Ini?

Pandemi Covid-19 semakin memperjelas nasib buruk yang dialami penduduk yang tidak terlayani perbankan atau kurang terjangkau oleh layanan perbankan di seluruh dunia. Kesenjangan layanan perbankan terlihat jelas, bahkan termasuk di negara besar seperti Amerika Serikat. Data menunjukkan bahwa lebih seperempat penduduk belum mendapatkan akses yang memadai terhadap pelayanan berbankan. Hal ini terlihat nyata ketika pemerintah menyalurkan bantuan sosial untuk pemulihan sosial ekonomi. Karena banyaknya penduduk, terutama penduduk miskin yang tidak memiliki rekening bank, bantuan sosial tunai dari pemerintah disalurkan melalui kantor pos setempat.

Segmen populasi ini adalah mereka yang mengalami dampak terberat dari krisis akibat pandemi ini. Banyak yang kehilangan pekerjaan. Namun, karena mereka juga menjadi korban kesenjangan layanan perbankan, banyak diantara mereka akhirnya juga menjadi korban para rentenir lokal. Namun, berita baiknya adalah bahwa kondisi semacam ini telah mendorong munculnya sejumlah inovasi untuk membuat segmen populasi ini lebih mudah dijangkau oleh layanan perbankan.

Kesenjangan layanan perbankan

Korban Kesenjangan Layanan Perbankan: Siapa Mereka?

Menurut definisinya, penduduk yang tidak terlayani perbankan (unbanked) ini adalah mereka yang tidak memiliki rekening bank. Aliran pendapatan dan pengeluaran mereka biasanya tidak teratur. Demografi penduduk pada kelompok ini sangat dinamis. Mereka berasal dari status ekonomi dan umur yang berbeda-beda, mulai dari mahasiswa, dewasa, hingga penduduk senior (usia di atas 65 tahun).

Meskipun demografi mereka sangat bervariasi, kelompok unbanked ini memiliki tantangan yang sama dalam mendapatkan layanan perbankan secara tradisional. Lebih separuh dari korban kesenjangan layanan perbankan ini merasa tidak mempunyai uang yang cukup, atau merasa tidak butuh, untuk membuka rekening di lembaga keuangan seperti bank. Sekitar 30% di antaranya tidak mempercayai bank, dan hampir 10% di antaranya merasa tidak nyaman menggunakan bank karena tempat tinggal mereka yang jauh dari pusat kota.

Baca Juga:   Mengatur Keuangan Saat Liburan Agar Tidak ‘Kalap’ Berbelanja

Karena hambatan-hambatan tersebut, kelompok unbanked ini memilih menggunakan uang tunai di setiap transaksi. Saat membutuhkan bantuan keuangan, mereka biasanya akan pergi ke lembaga simpan-pinjam lokal, atau bahkan menggunakan jasa rentenir. Sebenarnya, pilihan ini justru membuat mereka membayar lebih mahal dibanding jasa perbankan yang sesungguhnya.

Untungnya, sejumlah inovasi dalam teknologi finansial (FinTech) mulai bermunculan dalam beberapa tahun terakhir untuk mendekatkan layanan keuangan kepada mereka yang menjadi korban kesenjangan layanan perbankan. Inovasi-inovasi tersebut telah membuka jalan untuk terciptanya pelayanan perbankan yang lancar di semua lini, mulai dari atas hingga ke bawah, atau sebaliknya.

Inovasi Mengatasi Kesenjangan Layanan Perbankan

Pada dasarnya, kelompok unbanked ini memiliki tiga kebutuhan dasar: akses terhadap dana elektronik, kartu debit (ATM), dan kemampuan untuk mendapatkan uang tunai dengan cepat. Karena lembaga-lembaga keuangan tradisional dianggap belum berhasil memenuhi seluruh kebutuhan tersebut, maka layanan perbankan non-tradisional hadir menawarkan solusinya.  Sejumlah inovasipun bermunculan. Di antaranya adalah Layanan Perbankan Digital dan kartu pra-bayar serba guna.

Meski demikian, layanan ini juga belum terjangkau semua segmen penduduk, karena belum meratanya infrastruktur telekomunikasi di seluruh wilayah nusantara. Di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, bahkan muncul organisasi non-komersil seperti Bill and Melinda Gates Foundation yang berupaya mengembangkan sistem pembayaran digital untuk memperluas pemanfaatan layanan keuangan digital secara cepat dan hemat.

Karena besarnya peluang untuk menarik kelompok unbanked, bank-bank tradisional mulai melakukan penyeimbangan terhadap portofolio resiko mereka untuk menarik segmen penduduk yang menjadi korban kesenjangan pelayanan perbankan ini. Meski demikian, mereka tetap menggunakan beberapa kriteria. Jika sebelumnya mereka lebih banyak mengendalkan riwayat kredit di masa lalu, bank-bank tradisional saat ini menggunakan kriteria lain, seperti tagihan listrik dan air.

Baca Juga:   Trend Dunia FinTech Yang Perlu Diperhatikan di Tahun 2020

Ada beberapa aspek inovasi yang dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga keuangan berbasis FinTech ini untuk melayani kelompok penduduk unbanked, antara lain:

  • Layanan yang lebih kreatif. Bank-bank tradisional diharapkan akan lebih kreatif dalam memberikan penawaran kepada segmen pasar yang sangat potensial ini. Misalnya adalah solusi layanan finansial seperti kartu kredit yang sekaligus berfungsi sebagai kartu debit. Contoh kreatif lainnya adalah kartu prabayar untuk remaja, yang kemudian bisa diubah menjadi kartu kredit atau kartu kredit begitu pemiliknya dewasa.
  • Teknologi digital. Teknologi, data, dan akses digital bisa membantu kelompok unbanked untuk mempermudah mengakses layanan perbankan. Mengingat tingginya permintaan terhadap transaksi finansial bebas hambatan, maka lembaga-lembaga keuangan berbasis FinTech pada akhirnya akan mengandalkan saluran digital dalam pelayanannya.

Gerakan menuju pelayanan finansial berbasis digital pastinya akan mengubah definisi tentang apa itu perbankan dan siapa yang dilayani oleh bank. Ketika semua penduduk telah memanfaatkan teknologi yang sama kelak, maka tidak akan ada lagi kesenjangan pelayanan perbankan. Semua orang akan menikmati pelayanan yang lebih baik dan lebih hemat. Di masa mendatang,  ketika anda sedang mentransfer dana dari satu rekening ke rekening lain, atau ketika anda sedang membayar tagihan air atau listrik, anda akan lebih mempertimbangkan teknologi yang mendukung layanan tersebut.

Tagged With :

Leave a Comment