Digitalisasi Industri Makanan: Urgensi dan Tantangan Utamanya

Digitalisasi sepertinya sudah memasuki hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk industri makanan. Industri ini mengalami tekanan yang semakin besar. Digitalisasi industri makanan sepertinya dihadapkan pada dua hal yang saling bertentangan, yakni jumlah penduduk yang semakin besar diiringi dengan semakin terbatasnya persediaan air, degradasi tanah, penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan, serta perubahan iklim. Lalu, apa kaitannya dengan digitalisasi?

Digitalisasi Industri Makanan: Apa Urgensinya?

Sejumlah alat digital diharapkan dapat membantu para pelaku di bidang industri makanan untuk menjawab tantangan yang semakin besar dan semakin mendesak tersebut. Namun hingga saat ini, adopsinya masih relatif rendah dan banyak di antaranya bahkan tidak berhasil melakukan penetrasi pasar. Akibatnya, alat-alat yang tadinya diharapkan dapat mempermudah pekerjaan para pelaku di industri ini belum cukup membantu.

digitalisasi industri makanan

digitalisasi industri makanan

Namun, digitalisasi industri makanan sebenarnya terus berkembang, terutama dalam ekosistem industri makanan berbasis pertanian. Memang, para pelaku di industri makanan masih dihadapkan dengan sejumlah tantangan. Di antaranya adalah tantangan untuk mengembangkan dan memanfaatkan alat-alat digital yang dapat membantu mengatasi masalah tersebut di tahap pengolahan makanan, produksi, makanan rantai pasok, hingga masalah nutrisi makanan.

Meski demikian, perusahaan harus memiliki pandangan strategis tentang digitalisasi industri makanan. Selain itu, mereka harus mampu mengidentifikasi masalah yang ingin diselesaikan dan menganalisis apakah teknologi dapat membantu dalam penyelesaiannya. Langkah semacam ini jauh lebih baik daripada sekedar menggunakan teknologi yang tampak menarik, lalu  kemudian melihat peluang untuk menggunakannya dalam mengatasi masalah.

Bahkan, para pakar memperkirakan bahwa perusahaan yang menolak konversi digital tidak akan mampu mengejar ketertinggalannya dari para inovator. Perusahaan semacam ini akan menghadapi biaya R&D yang tinggi, jangka waktu pengembangan produk menjadi lebih lama, danp pangsa pasarnya semakin menurun.

Baca Juga:   10 Ide Usaha Modal 1 Juta untuk Pemula

Digitalisasi Industri Makanan: Apa Tantangannya?

Menurut para pakar, salah satu tantangan terbesar dalam upaya menerapkan teknologi dalam produksi makanan adalah kecenderungan untuk bertindak terlalu gegabah. Mereka memandang semuanya dari sudut pandanga teknologi terlebih dahulu, dan bukannya mengambil langkah strategis untuk mengatasi masalah terlebih dahulu. Ada beberapa tantangan yang harus dijawab dalam digitalisasi industri makanan, antara lain:

Lingkungan Yang Berubah-Ubah

Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan konsumen di masa mendatang adalah kekuatan penggerak di belakang pesatnya pertumbuhan sektor industri makanan berbasis pertanian. Jadi, agar bisa beradaptasi dengan lingkungan yang berubah-ubah, para pelaku utama di industri ini harus bertindak untuk membangun suatu strategi digital yang kokoh. Strategi ini diharapkan dapat mengidentifikasi serangkaian alat digital yang mampu memaksimalkan nilai tambah produk bagi perusahaan.

Industri Makanan Masih Tertinggal

Harus diakui bahwa industri makanan berbasis pertanian masih relatif tertinggal dibanding industri lain seperti penerbangan dan otomotif. Kedua industri ini telah mengadopsi teknologi digital terbaru, seperti Artificial Intelligence, IoT, Augmented Reality, dan teknologi robot. Namun sesungguhnya, industri makanan berkembang cukup pesat untuk mengejar ketertinggalannya.

Teknologi digital akan membuat sektor ini mampu menawarkan produk-produk yang lebih personal. Namun, upaya untuk menciptakan rantai pasok global yang terintegrasi dan berbasis digital tidaklah kalah pentingnya. Digitalisasi industri makanan akan menciptakan suatu benang merah ke seluruh ekosistem makanan berbasis pertanian. Dengan demikian, para pelaku di industri ini diharapkan akan mampu memenuhi kebutuhan konsumen di masa mendatang.

Perubahan Masif

Industri makanan sedang mengalami perubahan yang masif. Transformasi digital pada sistem makanan dapat membantu mengatasi masalah-masalah pokok. Ada beberapa contoh di mana teknologi digital dapat meningkatkan rantai nilai makanan. Di antaranya adalah informasi bahan makanan, pemantauan rantai dingin, pemeriksaan kualitas makanan menggunakan sistem otomatis, fitur untuk menjajaki makanan serta transparansi.

Baca Juga:   Bentuk Bentuk Bisnis

Namun tentunya, tetap ada masalah yang menghadang. Untuk itu, ada beberapa strategi agar transformasi digital dapat memberikan nilai tambah terhadap semua fungsi usaha. Di antaranya:

  • Meningkatkan keahlian karyawan
  • Menemukan pandangan-pandangan baru
  • Memprediksi masa depan
  • Melakukan automatisasi terhadap proses dalam perusahaan
  • Mengoptimalkan proses
  • Serta memastikan bahwa informasi dapat diakses
Persaingan pada Retail Makanan

Banyak pelaku usaha di bidang industri makanan mengabaikan peran perusahaan retail makanan. Padahal, sektor ini telah menjadi ‘arena perang’ bagi e-commerce ternama seperti Amazon atau Alibaba. Perusahaan-perusahaan e-commerce skala dunia ini berusaha menciptakan dan mengembangkan platform digital yang memungkinkan perusahaan untuk berinteraksi dengan konsumen menggunakan cara baru yang lebih revolusioner.

Terakhir, digitalisasi industri makanan tentunya akan membawa dampak yang besar terhadap aspek pasokan. Dalam jangka panjang, alat-alat digital seperti robot dan aplikasi yang digerakkan secara digital akan memainkan peran yang penting, ketika industri sudah semakin dekat dengan konsumen.

Kemudian, saat industri makanan semakin mengarah pada masa depan yang transparan, maka sejumlah pelaku dalam industri makanan juga akan mengadopsi solusi-solusi berbasis teknologi seperti AI. Alat-alat yang menggunakan sensor AI tentunya bisa dimanfaatkan dalam menangani masalah yang berkaitan dengan keamanan makanan sepanjang rantai pasok.

Tagged With :

Leave a Comment