Aplikasi Buy Now Pay Later Afterpay Sedang Booming di AS

Di tengah banyaknya opsi pembayaran bagi konsumen saat berbelanja online, pilihan aplikasi Buy Now Pay Later sepertinya semakin marak. Salah satu aplikasi yang sedang booming saat ini adalah Afterpay. Aplikasi ini dipersembahkan oleh sebuah perusahaan fintech asal Australia. Setelah berada di pasar Amerika Serikat selama 15 bulan, perusahaan ini mengumumkan bahwa hasil penjualannya sangat bagus di Tahun 2019, terutama karena terjadinya kenaikan penjualan online secara global sebesar 140%, hingga mencapai $5.2 triliun.

Afterpay: Aplikasi Buy Now Pay Later Teranyar

Sebagai sebuah perusahaan fintech baru, Afterpay menunjukkan kinerja yang cukup baik. Perusahaan pemilik aplikasi Buy Now, Pay Later ini mengaku memiliki 4.6 juta pengguna aktif. Angka ini naik hingga 130% dari tahun sebelumnya. Bahkan setiap harinya, tidak kurang dari 12.500 konsumen baru menggunakan aplikasi ini.  Salah satu pendiri Afterpay, Nick Molnar, mengaku bahwa pihaknya merasa sangat puas dengan kinerja aplikasi di awal peluncurannya, baik dari aspek konsumen, retailer, margin transaksi netto, maupun keuntungan.

aplikasi Buy Now, Pay Later

Kinerja positif yang didapatkan Afterpay diperoleh dari model bisnis yang mengedepankan kepentingan konsumen. Bahkan, kinerjanya di Amerika Serikat dan UK melebihi ekspektasi awal. Dalam satu tahun penuh, penjualan di Amerika Serikat naik hingga mencapai $1 triliyun. Jadi, tahun ini Afterpay menargetkan kenaikan penjualan mencapai $1.7 triliyun. Pengguna aplikasi Buy Now Pay Later ini bervariasi. Bahkan, lebih dari 6.500 merchant sedang menggunakan sistem Afterpay. Merchant sebanyak 6.500 ini saja mampu mendatangkan lebih dari 2.1 konsumen aktif di Amerika Serikat.

Meski demikian, Molnar mengaku bahwa mereka masih memiliki banyak ‘pekerjaan rumah.’ Perusahaan terus berupaya agar terintegrasi dengan merchant maupun konsumen baru dan terus mengembangkan platform teknologi untuk memudahkan konsumen.

Baca Juga:   Cara Membuat Pakan Fermentasi Untuk Kambing

Mengapa Afterpay Memimpin di Pasaran?

Afterpay Menyasar Millenial dan Gen Z

Salah satu kiat yang digunakan aplikasi Buy Now Pay Later ini adalah memilih target konsumen yang paling potensial. Afterpay menyasar kaum millenial dan Gen Z. Menurut Molnar, dua segmen konsumen ini adalah penggerak perubahan dalam kebiasaan berbelanja secara global. Apa yang dilakukan kaum millenial dan Gen Z sangat berarti saat ini dan akan lebih berarti lagi dalam 10 tahun ke depan. Untuk itu, pihaknya memposisikan Afterpay untuk mendapatkan keuntungan dari segmen konsumen ini.

Di Australia, perusahaan melaporkan bahwa 27% kaum millenial telah menggunakan Afterpay. Menurut Molnar, kaum millenial dan Gen Z di Amerika Serikat memiliki kecenderungan yang sama dengan kaum millenial di Australia. Mereka lebih menyukai suatu sistem pembayaran yang fleksibel, tanpa harus menimbulkan hutang, membayar bunga, atau fee, terutama saat berbelanja produk fashion maupun kecantikan.

Tingkat Retensi Tinggi

Satu lagi kelebihan Afterpay adalah tingkat retensi konsumen yang cukup kuat. Menurut perusahaan, konsumen yang sudah menggunakan Afterpay untuk pembayaran lebih dari 3 tahun lalu masih menggunakannya saat ini hingga lebih dari 20 kali per tahun. Logikanya cukup jelas: semakin lama seorang konsumen bertahan menggunakan suatu platform, berarti mereka semakin puas dengan aplikasi tersebut.

Selain itu, batas minimum transaksi yang diperbolehkan menggunakan aplikasi Buy Now Pay Later ini jauh lebih rendah dibanding batas transaksi menggunakan kartu kredit. Sebagai perbandingan, Afterpay melayani transaksi rata-rata $150, sedangkan pemegang kartu kredit baru bisa menggunakan kartunya jika berbelanja rata-rata $3.260. Lebih dari itu, platform ini bekerja sama dengan lebih banyak retailer dibanding platform seperti kartu kredit. Sejumlah brand kosmetik dan fashion sudah bergabung dengan Afterpay.

Baca Juga:   Automatisasi di Bidang Keuangan dan Industri Penagihan Kredit
Kerja Sama dengan Visa

Untuk semakin mendorong pertumbuhannya, Afterpay membangun kemitraan strategis dengan VISA. Kesepakatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Afterpay dalam memberikan pelayanan kepada merchant maupun konsumen dengan cara yang lebih fleksibel dan efisien. Pasar pembayaran seperti Buy Now Pay Later sangatlah luas. Jadi, Afterpay maupun VISA sama-sama melihat potensi kolaborasi yang saling menguntungkan.

Buy Now Pay Later Akan Mempengaruhi Industri Perbankan?

Sejumlah pihak memperkirakan bahwa layanan fintech seperti Afterpay dapat mengancam sistem perbankan retail. Pasalnya, perusahaan fintech lain juga menunjukkan pertumbuhan yang sama dengan Afterpay. Misalnya, perusahaan sejenis bernama Klarna asal Stockholm saat ini sepertinya menjadi startup fintech terbesar di Eropa. Klarna juga melaporkan bahwa aplikasi Buy Now, Pay Later sedang booming dan siap untuk memicu revolusi di sektor perbankan.

Banyak yang percaya bahwa layanan keuangan ini akan mempengaruhi perbankan retail dalam waktu beberapa tahun ke depan. Perusahaan-perusahaan Fintech yang baru beroperasi selama beberapa tahun ini sepertinya akan menjadi penggerak dalam transisi industri keuangan. Artinya, perbankan konvensional juga harus menyesuaikan diri jika tidak ingin ketinggal atau ditinggalkan oleh konsumennya. Aplikasi Buy Now Pay Later membuktikan bahwa perusahaan fintech pemula juga bisa menyasar segmen konsumen yang sangat luas dalam waktu singkat.

Tagged With :

Leave a Comment