Ketika karyawan di berbagai perusahaan kembali bekerja di kantor, banyak yang mulai mengkhawatirkan kondisi lingkungan di masa mendatang. Para pemimpin industri memahami sumber kekhawatiran ini. Untuk itu, mereka mulai menyuarakan tiga kata yang dianggap bisa meminimalisir apa keresahan tersebut: sistem kerja hybrid. Bagi pekerja di masa kini, sistem kerja ini bukanlah sesuatu yang baru, bukan juga sebuah sistem kerja baru yang tidak diingini.
Menurut sebuah studi yang dilakukan Accenture, 83% pekerja lebih menyukai model kerja hybrid dibandin sistem kerja jarak jauh 100% atau bekerja di kantor 100%. Selain itu, Accenture menemukan bahwa sistem hybrid sudah diterapkan di sekiar 63% besar. Kenapa? Karena perusahaan memahami nilainya.

Mengapa Sistem Kerja Hybrid Menjadi Pilihan?
Sistem kerja hybrid bukan hanya sebuah hadiah atau pemberian bagi karyawan yang sedang berusaha lebih produktif dan efisien dalam bekerja. Sistem ini juga memberikan kebebasan untuk berfikir ‘outside-the-box’ dan menghasilkan solusi-solusi inovatif. Itulah sebabnya, sistem kerja hybrid dapat menjadi solusi bagi perusahaan yang ingin tetap produktif di masa pandemi. Berikut adalah tiga cara bagi pemimpin untuk memanfaatkan model kerja hibrid sekaligus mendorong inovasi:
Mendorong Kerjasama Lintas-Departemen
Para pemimpin hebat memahami pentingnya kolaborasi lintas-sektor di sebuah organisasi. Mereka bisa bekerja dengan mengundang pekerja dari fungsi yang berbeda-beda untuk hadir dalam rapat-rapat, meskipun tema yang dibahas tidak mesti terikat dengan tugas pokok dan fungsi mereka. Mengapa?
Sebuah laporan yang dikumpulkan oleh tim Industry X.0 Research dari Accenture menunjukkan bahwa banyak perushaaan besar masih mempertahankan proses kerja konvensional. Dari 500 eksekutif senior dan C-Suite level lobal yang disurvei, 75% mengatakan bahwa beberapa bagian di perusahaan (mis., riset dan pengembangan, rekayasa, pemasaran, operasi, dan penjualan) justru bekerja dengan cara yang saling bertentangan, bukannya bersama-sama.
Kolaborasi lintas-departmen dapat membawa semua orang di perusahaan anda ke dalam satu frekuensi. Ketika setiap departemen sinkron satu sama lain, maka inovasi akan muncul secara organik dan lebih mudah diterapkan. Menurut Direktur Digital dan Brand dari Pantheon, Sarah Fruy, kolaborasi lintas-departemen adalah bagian penting dari alur kerja di perusahaan mereka.
Mereka biasanya mengundang rekan kerja dari bidang lain untuk bergabung pada sesi review perencanaan dan analisis yang mereka laksanakan. Mengapa? Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa apapun yang dilaksanakan di satu bidang, tetap sejalan dengan pekerjaan di bidang lain. Dengan demikian, progress kerja mereka lebih maju. Ketika anda sedang mempertimbangkan apakah sebuah proyek sudah sesuai, maka periksa apakah proyek itu sejalan dengan departemen lain, seperti penjualan, IT, produk, atau customer service.
Perusahaan-perusahaan sukses memastikan bahwa proyek yang dikerjakan sesuai dengan prioritas, sehingga mereka bisa mengalokasi sumber daya secara maksimal dan terfokus. Dengan cara ini, anda sedang meningkatkan skala produktivitas perusahaan, sekaligus meningkatkan peluang pertumbungan pendapatan. Manfaat sampingan dari hal ini adalah bahwa karyawan anda merasa lebih dilibatkan. Hal ini juga positif untuk mendorong produktivitas mereka.
Jadikan “Orang” Sebagai Prioritas Utama
Ini bukan hanya sebuah anekdot. Sebuah survey yang dilakukan ADP teradap para pekerja di AS menunjukkan bahwa karyawan yang merasa ‘terikat kuat’ dengan perusahaannya ternyata 75 kali lebih giat dalam bekerja. Ketika lingkungan kerja beralih ke suatu kondisi di mana pekerja menjadi penggerak pasar, maka perusahaan harus memastikan bahwa pekerja merasa terkoneksi dan merasa dihargai. Hal ini jauh lebih penting dibanding sebelumnya.
Untuk melakukan hal ini, perusahaan harus membagi lingkungan yang berwawasan manusia, yakni sebuah lingkungan yang mendukung sistem kerja fleksibel, tunjangan dan kebijakan yang pro-karyawan. Misalnya, perusahaan sudah menggunakan teknologi untuk mengerjakan tugas-tugas yang berulang, sehingga karyawan bisa fokus mencari inisitif-inisiatif baru demi pertumbuhan bisnis. Peralihan ini menunjukkan bahwa perusahaan sudah semakin memahami nilai dari karyawan di lingkungan kerja yang cepat berubah.
Kita juga melihat trend kenaikan pada bidang-bidang pekerjaan yang membutuhkan keahlian tertentu. Ketika lingkungan kerja berubah, maka banyak karyawan yang diharapkan bekerja di luar zona amannya, dan harus mempelajari keahlian yang terkadang tidak sesuai dengan deskripsi tugasnya. Di pasar kerja yang semakin ketat, karyawan justru membutuhkan keahlian tersebut untuk mendapatkan pekerjaan dan posisi yang lebih baik.
Melakukan Brainstorming Secara Virtual
Ketika banyak pemimpin menerapkan konsep hybrid, ternyata ada juga yang lamban dalam melakukannya. Mengapa? Karena mereka berfikir bahwa karyawan paling inovatif ketika mereka bekerja di kantor. Selama masa lockdown, mereka mencoba melakukan brainstorming seolah-olah mereka masih bekerja di kantor.
Ternyata, brainstorming secara virtual telah menghasilkan sejumlah keahlian dan pengalaman baru dalam proses mencari ide-ide kreatif untuk pengembangan bisnis. Faktanya, studi menunjukkan bahwa brainstorming secara virtual menghasilkan ide-ide yang lebih berkualitas, karena karyawan lebih percaya diri dalam menyampaikan pemikirannya. Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan pemimpin untuk mengoptimalkan sistem kerja hybrid demi kemajuan perusahaan.
Tagged With : manajemen bisnis • Manajemen Usaha