Tidak diragukan bahwa kata-kata “kehidupan, kebebesan, dan pencarian kebahagiaan” telah tertanam dan membudaya dalam kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Bayangkan jika semua orang diberi waktu, ruang, dan uang untuk melakukan apapun yang mereka inginkan, apa yang akan mereka lalukan? Pastilah mereka akan mencari kebahagiaan. Kita semua ingin bahagia, dan kita tidak perlu diajari untuk mengejarnya. Nah, dalam konteks pengelolaan bisnis, meningkatkan kebahagiaan karyawan merupakan suatu keharusan. Ada yang memandangnya sebagai salah satu bentuk benefit atau tunjangan yang tak ternilai harganya. Lalu, bagaimana cara mewujudkannya?
Namun, untuk memikirkan dan mencari kebahagiaan dalam kaitannya dengan usaha, maka kita perlu mendefinisikannya terlebih dahulu. Kita coba membahasnya dari filosofi Aristotle. Filsuf Yunani yang berkontribusi besar terhadap berbagai bidang kehidupan manusia ini mengelompokkan kehagiaan ke dalam empat tingkatan: Leatus, felix, baetitudo, dan sublime baetitudo. Mari kita lihat cara kerjanya, jika anda ingin menjadikannya sebagai bagian dari upaya meningkatkan kebahagiaan karyawan.

Meningkatkan Kebahagiaan Karyawan: 4 Tingkat Kebahagiaan
Level 1: Leatus
Laetus diartikan sebagai pencarian kesenangan secara sederhana. Ini adalah gratifikasi sensual berdasarkan hal-hal eksternal: menceburkan diri ke kolam untuk mendinginkan tubuh saat cuaca panas, atau menikmati satu porsi makanan segar. Setiap kali perasaan kita menjadi senang karena stimulus dari luar, maka inilah yang disebut Laetus. Anda bisa memandangnya sebagai kepuasan mendasar dan sifatnya sejenak.
Level 2: Felix
Felix adalah gratifikasi ego manusia. Penjelasan sederhananya mungkin sama dengan kata menang. Ketika kita berhasil mencapai tujuan jangka pendek dan merasa senang dengan pencapaian tersebut, maka itulah yang disebut Felix. Dalam dunia kerja misalnya, ketika anda mendapat promosi, penghargaan, atau semacam pengakuan dari perusahaan, artinya anda menikmati kebahagiaan Level 2 menurut Aristotle. Felix adalah alasan adanya mekanisme reward atau penghargaan bagi karyawan di sebuah perusahaan.
Level 4: Sublime Beatitudo
Bentuk kebahagiaan yang terakhir ini hanya bisa difikirkan di dunia spiritual atau transenden. Oleh sebab itu, tingkat kebahagiaan ini menurut definisinya tidak bisa dicapai secara eksplisit atau secara langsung secara en masse oleh sekelompok orang yang jumlahnya banyak. Anda bisa mengejar bentuk kebahagiaan ini melalui seni, filosofi, agama, atau spiritualitas. Sebagai pemimpin bagi orang lain atau pemimpin di perusahaan, kita mesti mampu mendorong dan menyediakan ruang bagi karyawan untuk mencapai kebahagiaan yang menurut mereka sesuai.
Level 3: Beatitudo
Aristotle Baetitudo sebagai Kebahagiaan Level Tiga, namun kenapa dibahas terakhir? Menurut pendapat penulis, ini adalah titik kumpul ideal untuk pencarian kebahagiaan di dunia kerja. Kebahagiaan ini didasarkan pada keinginan manusia untuk terhubung, berteman, berbuat baik, dan menunjukkan kasih sayang. Manusia mengalami jenis kebahagiaan ini ketika mereka melihat tidak hanya semata-mata diri sendiri, namun juga kebahagiaan orang lain. Jenis kebahagiaan ini tidak permanen dan bukan tanpa interupsi.
Rasa bahagia tidak melampaui ruang dan waktu, karena manusia hidup di dunia yang dipenuhi manusia yang tidak sempurna dan hubungan yang tidak sempurna. Namun, tingkat kebahagiaan ini bisa jadi sangat mendalam dan berlangsung lama. Beaitutdo adalah alasan mengapa sebuah bisnis atau organisasi memiliki visi dan misi. Pada dasarnya, kita memiliki keinginan yang sama untuk meningkatkan kebahagiaan karyawan atau menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan lebih baik.
Oleh sebab itu, misi atau visi diterjemahkan sebagai “tujuan” ketika kita berbicara tentang individu. Pada akhirnya, tujuan inilah yang mesti ditetapkan, sehingga upaya mencari kebahagiaan bisa berjalan. Hal ini tidak hanya membantu kita menentukan tujuan, namun kita juga bisa menyusun sebuah kerangka untuk bertindak mencapai keinginan tersebut.
Meningkatkan Kebahagiaan Karyawan di Tempat Kerja
Lalu, setelah kita memahami empat tingkat kebahagiaan menurut Aristotle, apa kaitannya dengan lingkungan kerja? Atau lebih sepsifik lagi, mengapa para eksekutif atau pimpinan perlu meningkatkan kebahagiaan karyawan di perusahaannya? Jawabannya ada tiga: Imbal-Balik, Penyebaran, dan Produktivitas.
- Imbal-balik. Kita sudah membahas bahwa beatitudo adalah rasa puas yang mendalam, berarti, dan berlangsung lama. Perasaan ini secara langsung datang dari upaya untuk mempengaruhi orang lain. Artinya, kebahagiaan ini terkait dengan sesuatu. Jika pimpinan di perusahaan ingin merasa bahagia, maka pertama-tama, mereka harus mengupayakan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kepuasan orang-orang yang mereka pimpin.
- Kebahagiaan adalah anugerah besar yang mempengaruhi produktivitas karyawan. Kebahagiaan erat kaitannya dengan pencapaian tujuan bisnis, seperti proses rekrutmen, retensi, dan produktivitas. Bahkan, disebutkan bahwa rasa bahagia dalam diri karyawan adalah ukuran yang dapat menentukan produktivias mereka.
- Sama dengan imbal-balik, kebahagiaan bisa menyebar cepat seperti virus. Sama seperti pemahaman kita bahwa karyawan yang bahagia lebih produktif dibanding yang lainnya, maka survey yang dilakukan selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa karyawan yang bahagia juga lebih loyal kepada perusahaan.
Dengan kata lain, jika perusahaan ingin meningkatkan produktivitasnya, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kebahagiaan karyawan. Untuk meningkatkan kebahagiaan tersebut, tentunya perusahaan harus merancang sejumlah kebijakan yang berpihak kepada karyawan.
Tagged With : manajemen bisnis • manajemen SDM