5 Fakta Tentang Selat Bab Al-Mandeb yang Terancam Blokade

Harga minyak mentah tipe Brent hari ini meroket lebih dari tujuh persen sampai tembus USD100 per barel. Pasalnya, pelaku pasar keuangan internasional khawatir kalau eskalasi konflik AS-Iran bakal meluas hingga mengakibatkan blokade atas Selat Bab al-Mandeb juga.

Selat Bab Al-Mandeb yang Terancam Blokade

Beberapa waktu lalu, Iran mengancam akan mendorong kelompok militan Houthi yang berbasis di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb jika Amerika Serikat terus menyerang infrastruktur sipil mereka. Hari ini, kelompok militan Houthi menyatakan telah menyerang dua kapal tanker milik Arab Saudi di laut Merah.

Perkembangan situasi yang semakin kritis ini memicu aksi jual atas beragam instrumen keuangan yang rentan energi, termasuk mata uang EUR, JPY, dan GBP. Wall Street juga rontok. Sementara itu, kurs Dolar AS justru menguat pesat.

Dinamika ini terjadi karena peran penting Selat Bab Al-Mandeb dalam perdagangan dunia. Berikut ini beberapa fakta mengenai Selat Bab Al-Mandeb yang perlu diketahui trader.

  1. Dalam bahasa Arab, Bab al-Mandeb berarti “Gerbang Air Mata”. Nama ini berkaitan dengan legenda kuno tentang gempa yang memisahkan benua Asia dan Afrika. Selain itu, nama tersebut mungkin juga terlahir karena navigasi perairan yang sulit bagi para pelaut kuno.
  2. Sebagai pemisah dua benua raksasa, selat Bab al-Mandeb berbatasan langsung dengan Yaman di sisi Asia serta Jibuti dan Eritrea di sisi Afrika. Beberapa negara asing memiliki pangkalan militer di Jibuti, termasuk Amerika Serikat dan China.
  3. Selat Bab al-Mandeb merupakan rute maritim paling dekat antara Laut Merah dengan Samudera Hindia. Apabila rute ini terblokade, kapal-kapal dari Eropa yang ingin mencapai Samudera Hindia harus memutari benua Afrika dan melewati Tanjung Harapan yang lebih sulit dilayari.
  4. Selat Bab al-Mandeb merupakan satu-satunya perairan yang menghubungkan terusan Suez dengan Samudera Hindia. Apabila perairan ini terblokir, kapal-kapal akan menghindari terusan Suez. Ini bukan hanya dapat mematikan ekonomi Mesir, melainkan juga meningkatkan biaya pelayaran secara signifikan karena rute alternatif via Tanjung Harapan butuh waktu 10-14 hari lebih lama.
  5. Sekitar 5-12% perdagangan global mengalir via selat Bab al-Mandeb, mencakup minyak mentah dan kargo barang lainnya. Setiap hari, sekitar 6 juta barel minyak mentah dan turunannya melewatinya untuk mencapai Eropa, Amerika, dan Asia.

Kesimpulannya, risiko blokade Selat Bab al-Mandeb kemungkinan lebih tinggi dibandingkan blokade Selat Hormuz yang sudah berlangsung. Sebagian besar negara di tiga benua terancam terdampak. Masyarakat harus menghadapi dampak kenaikan harga minyak mentah sekaligus risiko perlambatan ekonomi dalam kurun waktu yang sama.

Tagged With :

Leave a Comment