3 Indikator Sentimen Pasar Ini Penting Bagi Trader Forex

Indikator sentimen pasar adalah alat untuk mengukur minat risiko pasar. Indikator-indikator seperti ini bukan hanya populer di kalangan investor saham Wall Street, melainkan juga termasuk wawasan penting untuk trading forex.

Indikator Sentimen Pasar Ini Penting Bagi Trader Forex

Trader forex dapat menggunakan indikator sentimen pasar untuk menakar minat beli dan minat jual pasar terhadap pasangan mata uang tertentu. Berikut ini beberapa jenis indikator sentimen pasar yang paling penting untuk diperhatikan:

  • Laporan Komitmen Trader (COT)

COT adalah laporan mingguan yang dirilis oleh Komisi Trading Berjangka Komoditas AS (CFTC), merangkum data semua posisi yang sedang dipegang oleh para partisipan pasar berjangka se-Amerika Serikat.

Trader dapat mengetahui tekanan bullish/bearish terhadap suatu pasangan mata uang dari data COT. Contohnya, jika total posisi jual (short) Euro lebih banyak daripada posisi beli (long) Euro, maka Euro sedang mengalami “net short” dan cenderung bearish.

  • Indeks Volatilitas (VIX)

VIX merupakan indikator pengukur volatilitas yang dibuat berdasarkan dinamika pasar kontrak opsi S&P 500. Jika angka VIX kurang dari 15, berarti bursa saham cenderung bullish. Sedangkan jika VIX lebih dari 25 berarti bursa saham cenderung bearish atau terkoreksi.

Mata uang safe haven biasanya menguat ketika angka VIX meningkat, termasuk Dolar AS, Yen Jepang, dan Franc Swiss. Sebaliknya, mata uang high risk seperti Dolar Australia dan Pound Sterling cenderung menguat saat volatilitas sedang rendah.

  • Indeks Sentimen SWFX

SWFX merangkum data semua posisi beli dan jual terbuka di antara para penyedia likuiditas yang terhubung dengan Dukascopy, sebuah perusahaan perbankan dan broker yang berbasis di Swiss. Datanya diperbarui setiap 30 menit, tersedia dalam bentuk grafik yang dapat diakses publik pada situs Dukascopy.

Mirip dengan laporan COT, trader juga bisa menyimpulkan seberapa kuat tendensi bullish/bearish dengan membandingkan total posisi jual dan beli pada suatu pasangan mata uang. Contohnya, USD/CAD memiliki 63,45% posisi beli dan 36,55% posisi jual. Hal ini berarti USD/CAD cenderung bullish.

Ketika suatu pasangan mata uang sedang bullish, apakah itu berarti kita mesti ikut beli? Belum tentu. Keputusan jual/beli semestinya tergantung pada strategi trading masing-masing. Seorang trader yang menganut strategi “trend following” kemungkinan akan ikut pasang posisi beli, tetapi trader pengikut strategi “contrarian” justru akan menjual mata uang tersebut.

Tagged With :

Leave a Comment