Rotasi saham atau rotasi sektor adalah salah satu pola trading yang paling umum di pasar saham. Pada praktiknya, investor mengalihkan alokasi modal dari satu sektor saham ke sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan untuk kinerja portofolio dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Rotasi saham paling sering terjadi seusai publikasi laporan keuangan emiten tiap kuartal, terutama pada akhir tahun. Investor mengevaluasi kinerja saham sejak awal tahun sampai kuartal ketiga, kemudian membuat perkiraan mengenai kuartal keempat dan tahun berikutnya. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, investor akan melepas saham pada sektor-sektor yang sudah overvalued atau berkinerja kurang baik, lalu memindahkan modalnya ke sektor yang masih undervalued atau lebih prospektif.
Pola trading ini bertumpu pada dua asumsi dasar. Pertama, saham-saham dalam satu sektor cenderung menampilkan kinerja senada. Kedua, semua sektor mengalami siklus bisnis yang sama, yaitu ekspansi – puncak – kontraksi (resesi) – palung (lembah) – pemulihan. Sektor yang populer baru-baru ini akan terus naik daun hingga mencapai puncaknya, meskipun lambat laun tetap akan menurun juga.
Investor akan menerapkan pola trading ini sesuai dengan perkembangan ekonomi terkini dan kinerja laporan keuangan emiten dari tiap sektor. Berikut ini beberapa contohnya:
- Saat kondisi ekonomi global dan nasional memburuk, investor biasanya melakukan rotasi saham dari sektor siklikal ke sektor defensif. Sektor siklikal mencakup saham-saham pertambangan dan otomotif, sedangkan sektor defensif antara lain barang konsumsi (FMCG), farmasi, dan infrastruktur.
- Saat kondisi ekonomi mulai membaik, investor cenderung beralih dari sektor defensif ke sektor siklikal. Dinamika ini pula yang melatarbelakangi kejatuhan saham-saham farmasi dan kebangkitan saham-saham pertambangan segera seusai pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.
- Saat salah satu sektor yang sedang ngetren di bursa saham dunia baru saja mengalami pecah gelembung (bubble burst), contohnya berakhirnya tren bisnis dotcom pada tahun 2000-an, investor biasanya beralih dari growth stocks ke value stocks yang lebih stabil dari segi fundamental.
Menyusul gonjang-ganjing saham-saham berteknologi tinggi di Wall Street belakangan ini, banyak pakar mulai mempertimbangkan rotasi saham ke sektor lain. Mereka mulai melirik beberapa sektor saham tradisional yang sudah terkenal memiliki kondisi keuangan yang mapan dan rutin membagikan dividen setiap tahun, seperti sektor energi dan FMCG. Hal ini terbilang wajar berdasarkan teori rotasi saham.
Tagged With : analisa fundamental • saham • strategi trading