8 Risiko Investasi yang Harus Dipahami Investor Pemula

Risiko investasi itu pasti ditemukan saat kita mulai berinvestasi. Risiko investasi adalah sebuah kenyataan yang tidak diharapkan saat memulai berinvestasi. Sebelumnya ketahuilah bahwa dalam investasi saham, ada istilah high risk, high return untuk menjelaskan tingginya risiko investasi saham.

Salah satunya risiko investasi yang biasa terjadi adalah turunnya harga saham yang kita investasikan setelah dibeli. So, buat investor pemula, agar tidak kehilangan banyak dana di rekeningnya, harus bisa meminimalisir risiko investasi. Berikut adalah 8 jenis risiko yang pasti ada dalam investasi:

Untuk mengetahui risiko apa saja yang biasa terjadi saat investasi saham Berikut ada 8 risiko investasi yang mungkin bakal kita temui saat mulai menjadi investor.

1.  Risiko Gagal Bayar

Biasanya risiko jenis ini terjadi pada investasi P2P lending. Risiko ini terjadi karena karena peminjam tidak bisa lagi memenuhi kewajiban pembayaran yang sudah disepakati bersama di awal. 

2. Risiko Suku Bunga

Risiko jenis ini biasanya muncul karena nilai relative asset berbunga, seperti pinjaman atau obligasi yang bakal memburuk karena adanya peningkatan suku bunga. Risiko suku bunga, bisa diartikan juga sebagai risiko yang diakibatkan karena adanya perubahan suku bunga di pasar, sehingga mempengaruhi pendapatan investasi. Secara umum, jika suku bunga meningkat, harga obligasi akan turun, dan sebaliknya.

3. Risiko pasar

Risiko jenis ini adalah risiko fluktuasi atau naik turunnya nilai aset yang disebabkan oleh perubahan sentimen pasar keuangan. Biasa juga disebut dengan risiko sistematik atau risiko ini tidak bisa dihindari dan pasti akan selalu dialami oleh investor.

Hal ini berdampak membuat investor mengalami penurunan atas pokok investasinya (capital loss). Perubahan ini terjadi bisa karena resesi ekonomi, isu, kerusuhan, hingga spekulasi termasuk juga perubahan politik.

4. Risiko inflasi

Risiko inflasi biasa disebut juga risiko daya beli. Risiko ini adalah peluang bahwa arus kas dari investasi tidak akan bernilai sebanyak di masa depan. Hal ini karena perubahan daya beli yang tergerus inflasi. Risiko ini berpotensi merugikan daya beli masyarakat dikarenakan adanya kenaikan rata-rata dari harga konsumsi.

Risiko inflasi biasanya diambil oleh investor saat memegang uang tunai atau berinvestasi dalam aset yang tidak terkait dengan inflasi. Kemudian nilai tunainya akan berkurang oleh inflasi. Contohnya, jika seorang investor memegang dana tunai sebesar Rp10 juta dan inflasi tahunan adalah sebesar 5%, maka dana investor akan tergerus inflasi sebesar Rp 500 ribu per tahun (Rp10 juta x 5%).

5. Risiko likuiditas

Risiko likuiditas adalah risiko yang muncul akibat kesulitan menyediakan uang tunai dalam jangka waktu tertentu. Risiko ini terjadi jika penghutang tidak dapat menjual hartanya, karena pihak lain di pasar yang tidak ada yang berminat membelinya.

Perlu ditekankan bahwa hal ini berbeda dengan penurunan drastis harga aset, karena pada kasus penurunan harga, pasar berpendapat bahwa aset tersebut tak bernilai. Tidak adanya pihak yang berminat menukar (membeli) aktiva kemungkinan hanya disebabkan karena kesulitan mempertemukan pihak pembeli dan penjual. Oleh karena itu, risiko likuiditas biasanya lebih besar kemungkinan terjadi pada pasar yang baru tumbuh atau bervolume kecil.

6. Risiko valuta asing/ nilai tukar mata uang

Risiko jenis ini biasanya disebabkan oleh perubahan kurs valuta asing di pasaran yang tidak sesuai lagi dengan yang diharapkan. Terutama pada saat dikonversikan ke mata uang domestik. Risiko valuta asing berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Pada umumnya, risiko jenis ini juga disebut sebagai currency risk atau dengan exchange rate risk. Oleh sebab itu, menguatnya dolar terhadap rupiah bisa memberikan dampak negatif yaitu kerugian.

7. Risiko negara

Risiko negara dikenal dengan istilah sovereign risk, dan berkaitan dengan kondisi perpolitikan negara. Risiko jenis ini juga punya kaitan dengan perubahan ketentuan perundang-undangan yang berimbas pada perekonomian suatu negara, yang pada gilirannya berpengaruh terhadap iklim investasi.

8. Risiko reinvestasi

Risiko ini merupakan risiko yang terjadi pada penghasilan dari suatu asset keuangan yang mengharuskan perusahaan untuk melakukan aktivitas re-invest. Jadi, ketika hendak melakukan re-invest, investor harus benar-benar memahami apa itu re-invest serta bagaimana caranya agar bisa mengatur atau mengelola risiko investasi ini. 

Risiko reinvestasi adalah kemungkinan bahwa arus kas investasi akan menghasilkan imbal hasil yang lebih rendah setelah diinvestasikan kembali ke instrumen investasi yang baru.

Itulah 8 jenis risiko investasi yang patut diketahui investor pemula. Semua jenis investasi pasti punya risikonya masing-masing. Sehingga diharapkan dengan adanya 8 jenis risiko ini, kita bisa menanggulangi kesalahan berinvestasi dan menjauhkan kerugian akibat menerima risiko dari investasi.

Tagged With :

Leave a Comment