Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berulang kali anjlok selama dua pekan terakhir hingga ditutup pada 6258 dalam perdagangan hari Jumat, 21 Maret 2025. Posisinya saat ini terpuruk pada rekor terendah sejak Oktober 2021.

Kemerosotan setajam itu tentu berdampak langsung terhadap portofolio investor. Hampir semua portofolio investor se-Indonesia memerah, tak peduli baik berisi saham blue chip, saham lapis dua, ataupun saham gorengan. Pertanyaannya, bagaimana cara memperbaiki portofolio saat IHSG jatuh seperti ini?
Ada empat kiat memperbaiki portofolio yang bisa langsung diterapkan mulai hari bursa selanjutnya. Berikut ini kiat-kiat tersebut:
1. Memilah saham dalam portofolio
Kejatuhan IHSG menandakan kepanikan sedemikian luas hingga banyak harga saham berkualitas yang ikut merosot. Kalau kamu memiliki saham-saham berkualitas ini dalam portofolio, maka tenang saja—tidak perlu buru-buru cut loss. Di saat yang sama, kamu harus tegas melepas saham-saham yang tidak bermutu.
Beberapa tanda saham berkualitas antara lain kondisi keuangan perusahaan lancar, masih menghasilkan laba, dan mampu membayar dividen jumbo. Sedangkan pertanda saham tidak bermutu antara lain rasio utang banding ekuitas (DER) lebih dari 100%, arus kas negatif, dan perseroan tekor dalam tahun fiskal yang lalu.
2. Menambah cadangan uang tunai
Sejarah telah menunjukkan bahwa naik-turun pasar itu wajar. Setelah jatuh, IHSG lambat laun akan pulih kembali. Kita belum tahu kapan IHSG akan mulai bangkit, tetapi kita bisa menyiapkan modal mulai dari sekarang untuk “serok bawah” segera setelah munculnya tanda-tanda rebound.
Sementara menunggu, kamu bisa menyimpan uang tunai dalam deposito bank yang bebas penalti ataupun reksa dana pasar uang. Dana akan terus bertumbuh dengan risiko sangat rendah.
3. Mengoleksi saham yang akan buyback
Beberapa emiten telah mengumumkan akan melaksanakan buyback saham dalam tahun ini. Aksi korporasi tersebut menandakan perseroan masih memiliki cukup banyak persediaan kas dan berpandangan optimistis terhadap prospek bisnisnya ke depan.
Tindakan buyback juga akan menaikkan bid terhadap suatu saham, sehingga harganya berpotensi meningkat lebih cepat daripada saham-saham yang lebih sepi. Dalam hal ini, kamu perlu memerhatikan target harga buyback agar jangan sampai membeli saham yang terlalu mahal.
4. Beralih ke investasi yang lebih aman
Kalau kamu merasa risiko saham saat ini terlalu tinggi, ada baiknya cut loss saja lalu memindahkan dana ke investasi lain. Beberapa opsi investasi aman yang bisa dipilih antara lain Surat Berharga Negara (SBN) dan emas fisik.
Kamu juga bisa menjajaki investasi saham di negara lain, seperti saham-saham Amerika Serikat, Eropa, atau Jepang. Namun, penting sekali untuk mempelajari mekanisme bursa terlebih dahulu sebelum berkecimpung di dalamnya. Setiap bursa saham memiliki aturan yang berbeda-beda.
Tagged With : analisa fundamental • investasi jangka panjang • saham