Program Kiriman Kilat Walmart Menuai Kontroversi Saat Pandemi

Beberapa hari lalu, Walmart mengumumkan sebuah pernyataan di blog perusahaan tentang cara dan penyebab diluncurkannya program kiriman kilat Walmart. Program baru ini memungkinkan konsumen meminta barang yang dibelinya di e-commerce perusahaan dikirim ke rumah dalam waktu kurang dari 2 jam. Namun untuk layanan ini, konsumen harus membayar biaya tambahan sebesar $10. Biaya kiriman kilat ini ditambahkan ke biaya pengiriman regulernya yakni $7,95 atau $9.95. Artinya, konsumen yang menginginkan pengiriman kilat harus membayar biaya pengiriman sebesar $17,95 atau $19,5.

Sejak pertama kali diumumkan sekitar dua minggu lalu, program kiriman kilat Walmart ini sebenarnya sudah menuai banyak pertanyaan. Misalnya, program ini dapat memberikan dampak besar bagi penduduk miskin, karena biaya pengiriman yang memberatkan. Program ini dinilai perlu diuji secara mendalam. Sayangnya, pernyataan yang keluard dari perwakilan perusahaan beberapa waktu lalu tidaklah meredam berbagai pertanyaan yang muncul.

Program Kiriman Kilat Walmart

Kontroversi Seputar Program Kiriman Kilat Walmart

Banyak pihak yang mempertanyakan motif di balik program kiriman kilat Walmart tersebut. Sebenarnya, program pengiriman seperti ini bukanlah hal baru. Amazon juga memiliki program sejenis, seperti Amazon Prime Now. Namun, yang dipermasalahkan adalah waktu pengiriman dan dampak potensialnya bagi konsumen di tengah himpitan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Beberapa hal yang dipertanyakan, antara lain:

Tanggal Pengumuman

Waktu pengumuman ini memicu pertanyaan besar. Mengapa perusahaan mengeluarkan pernyataan seperti ini dalam waktu kurang dari dua minggu setelah press release program? Alasan pihak perusahaan adalah karena layanan ini tersedia di hampir 1000 toko minggu ini. Sekitar tanggal 16 April, sebanyak 100 toko telah menguji coba program kiriman kilat Walmat ini. Dalam waktu satu minggu, sekitar 1000 toko telah menyediakan layanan yang sama, dan sekitar 1000 lagi diharapkan akan online di akhir bulan Mei ini.

Baca Juga:   Kesalahan Dalam Karir dan Apa Yang Harus Anda Lakukan

Alasan ini sepertinya tidak begitu masuk akal. Semua orang mengetahui bahwa perusahaan ini memiliki ratusan department store. Namun, itu tidak cukup menjadi alasan untuk meluncurkan program yang memungut biaya tambahan kepada konsumen yang sedang terdampak secara sosial maupun ekonomi akibat wabah virus corona.

Alasan di Balik Program

Pertanyaan kedua muncul seputar motif sesungguhnya di balik program kiriman kilat Walmart ini, terutama jika dilihat dari dampaknya terhadap penduduk miskin. Layanan ini semakin memperkuat menara pemisah antara penduduk miskin dan tidak miskin. Dalam pernyataannya, pihak Walmart beralasan bahwa saat ini penduduk mengandalkan layanan pengiriman online karena pandemi virus corona. Oleh sebab itu, Malmart memiliki misi untuk menghemat waktu dan uang konsumen, sehingga mereka bisa menjalani hari-harinya dengan baik di rumah.

Alasan pertama mungkin dapat diterima. Program kiriman kilat Walmart menghemat waktu tunggu konsumen. Mereka bisa mendapatkan barang yang dibeli dalam waktu kurang dari dua jam. Namun, konsumen harus membayar hampir dua kali lipat biaya pengiriman untuk layanan tersebut. “Menghemat waktu, membayar lebih, hidup lebih baik” sepertinya merupakan kata-kata yang sempurna bagi orang mampu. Namun, bagaimana dengan mereka yang sedang mengalami kesulitan finansial di tengah krisis akibat pandemi Covid-19?

Semua orang setuju bahwa konsumen menginginkan pengiriman cepat untuk barang-barang yang mereka beli. Namun, tidak semua orang mau membayar biaya pengiriman ekstra dengan senang hati. Lebih penting lagi, jika alasannya adalah untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan, seperti ibu yang baru melahirkan, orang tua, anak yang sakit, dan semacamnya, mengapa tidak membuat program subsidi saja bagi orang-orang ini?

Cara Membangun Program

Pertanyaan berikutnya muncul seputar bagaimana perusahaan membangun program kiriman kilat Walmart. Menurut pihak perusahaan, mereka mempertimbangkan sejumlah variabel, seperti jumlah barang yang dipesan, ketersediaan staf, jenis armada pengiriman yang tersedia, dan perkiraan waktu pengiriman antara toko dengan alamat konsumen. Perusahaan juga mengumpulkan data-data terkait kondisi cuaca saat memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan pesanan konsumen.

Baca Juga:   Industri Retail Menciptakan Standar Baru Karena Virus Corona?

Semua variabel ini dimasukkan dalam algoritma yang dibangun perusahaan dengan harapan Walmart bisa mempercepat waktu pengiriman pada pesanan berikutnya. Pihak perusahaan juga menyampaikan bahwa algoritma yang digunakan pada program kiriman kilat Walmart ini berhasil diuji dan dirilis dengan baik hanya dalam waktu sekitar dua minggu.

Semua penjelasan di atas sangat masuk akal, bukan? Perusahaan sepertinya menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk menghitung kecepatan pengiriman. Namun sekali lagi, secanggih apapun teknologi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, jika hal itu memberatkan bagi konsumen, maka motif sesungguhnya perlu dipertanyakan, apalagi ditengah krisis seperti ini.

Kesimpulan

Program Kiriman Kilat Walmart pada dasarnya dibangun untuk memberikan layanan yang lebih baik bagi konsumen yang membutuhkan produk tertentu dalam waktu cepat. Dengan program ini, produk yang dipesan bisa sampai di alamat konsumen dalam waktu kurang dari 2 jam. Untuk kepentingan darurat, program ini sepertinya sangat membantu. Namun, banyak pihak yang mempertanyakan motifnya karena program ini dikenakan biaya tambahan bagi konsumen, apalagi di tengah pandemi covid-19 seperti sekarang, di mana banyak penduduk yang tiba-tiba jatuh miskin akibat kehilangan pekerjaan.

 

Tagged With :

Leave a Comment