Pajak Bunga Obligasi Turun, Bagaimana Dengan Deposito?

Awal pekan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan bahwa tarif PPh untuk bunga obligasi infrastruktur diturunkan dari 15 persen menjadi 5 persen. Hal ini membuat obligasi infrastruktur menjadi lebih menarik bagi calon investor daripada produk deposito perbankan yang pajaknya mencapai 20 persen per tahun. Namun, apakah itu artinya kita perlu beralih dari deposito ke obligasi?

Aturan Pajak Investasi Saham Di Indonesia

Saat diwawancara oleh CNBC Indonesia mengenai berita pemangkasan pajak bunga obligasi ini, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa obligasi infrastruktur dan deposito memiliki karakter yang berbeda, sehingga pemangkasan pajak bunga obligasi infrastruktur tidak akan mengambil pangsa pasar investasi deposito. Ia merujuk pada jangka waktu obligasi yang panjang, berbeda dengan deposito yang bisa menampung kelebihan uang dalam kurun waktu lebih pendek seperti 3 bulan saja.

Tanggapan Dirut BCA ini merupakan pengingat bagi calon investor bahwa pertimbangan utama saat memilih wahana investasi bukanlah besar kecilnya pajak, melainkan kecocokan kita dengan produk investasi tersebut. Meskipun pajak bunga obligasi turun, itu tak lantas berarti kita perlu langsung beralih ke aset investasi tersebut.

Bercermin dari beragam produk obligasi yang sudah ada, tenornya bisa mencapai tiga tahun atau bahkan lebih dari itu. Sebelum jatuh tempo, obligasi tidak bisa diperjualbelikan secara bebas di pasar sekunder seperti saham. Apabila Anda telanjur membeli obligasi dan ingin mencairkan investasi lebih dini, maka Anda hanya bisa menjualnya kembali ke pembeli siaga yang telah ditunjuk pemerintah, tanpa ada peluang untuk membelinya lagi di masa depan. Saat melakukan early redemption seperti ini, Anda juga mengorbankan semua potensi keuntungan dan bunga yang semestinya bisa diperoleh secara berkala.

Baca Juga:   3 Penyebab Investor Saham Pemula Gagal Cuan

Dibandingkan karakter obligasi yang kaku, deposito perbankan lebih fleksibel. Anda bisa memilih tenor mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan seterusnya. Pencairan dan pembukaan deposito juga bisa dilakukan sewaktu-waktu, meski tetap ada penalti yang harus dibayar untuk pencairan dini. Bunga deposito di sejumlah bank kecil juga bisa lebih tinggi dibandingkan kupon obligasi.

Singkatnya, apabila Anda sedang memilih aset investasi antara obligasi dan deposito, maka lebih baik kesampingkan dulu kabar mengenai turunnya pajak bunga obligasi. Evaluasi ulang rencana investasi Anda; berapa besar modal yang disiapkan dan berapa jangka waktu yang ditargetkan. Apabila semua itu sesuai dengan karakter investasi obligasi, maka pilihlah itu. Namun, jika Anda hanya mampu mendiamkan modal selama beberapa bulan saja, maka deposito bisa jadi lebih tepat.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar