Model Franchise Transportasi Atasi Masalah Hukum Uber dan Lyft?

Beberapa bulan terakhir adalah masa-masa yang sulit bagi aplikasi taksi online dunia, yakni Uber dan Lyft. Pandemi covid-19 tidak hanya menyebabkan terjadinya penurunan jumlah penumpang secara drastis. Kedua perusahaan ini sedang mengadapi masalah hukum di negara bagian California, Amerika Serikat. Pertarungan di ruang pengadilan berfokus pada aturan tentang tenaga kerja yang baru di California (AB5). Akibatnya, kedua brand taksi online ini diharuskan untuk mengadopsi lisensi atau model franchise transportasi di California.

Aturan baru, AB5, memperkenalkan sebuah uji tiga-bagian (yang disebut ABC test) untuk menentukan apakah seorang pekerja termasuk pekerja kontrak independen atau karyawan. Tentunya, aturan baru ini tentunya bertujuan untuk memberikan proteksi bagi para pekerja dengan memberikan hak asasi atau tunjangan kepada mereka. Meski demikian, aturan ini ditanggapi dengan kontroversi dari banyak pekerja kontrak independen di California yang mengalami kehilangan pendapatan secara langsung akibat aturan baru tersebut.

model franchise transportasi

Model Franchise Transportasi vs Hak Pengemudi

Pada bulan Mei, sekelompok pengacara bergabung untuk mengajukan gugatan ke Uber dan Lyft, dan menuntut agar para pengemudi dikelompokkan sebagai karyawan, bukan pekerja kontrak. Mereka mengajukan tuntutan agar perusahaan taksi online ini mengganti klasifikasi pengemudi, karena dampaknya sangat terasa. Tuntutan tersebut disampaikan pada tanggal 10 Agustus oleh Hakim Ethan Schilman, yang menolak argumen dari Uber maupun Lyft.

Selama persidangan, pengadilan memutuskan bahwa pengemudi sangat penting bagi operasi perusahaan. Jadi, pengemudi harus diklasifikasikan sebagai karyawan. Ia mengatakan  bahwa perusahaan tidak semestinya berupaya membebaskan diri dari tanggung jawab terhadap pekerjanya maupun kepada publik akibat implementasi dari model franchise transportasi yang diatur dalam AB5.

Seperti yang diperkirakan, kedua perusahaan ini keputusan tersebut. Mereka beralasan bahwa usaha mereka bersifat multi-platform dan mereka adalah perusahaan teknologi yang menghubungkan konsumen dengan pengemudi. Uber dan Lyft bukanlah perusahaan transportasi, namun lebih ke platform. Mereka juga menyatakan kalau para pengemudi yang bergabung dengan mereka lebih menyukai fleksibilitas bekerja sebagai pekerja paruh waktu (freelancer).

Baca Juga:   Cara Menambah Pelanggan Baru yang Wajib Anda Ketahui

Jika tuntutan tersebut dipenuhi, akan ada implikasi legal dan finansial yang sangat signifikan bagi kedua perusahaan maupun perusahaan lain yang beroperasi dengan cara yang sama. Uber maupun Lyft menyatakan bahwa kebijakan ini akan sangat membatasi operasi bisnis mereka. Namun tidak lama setelah menyampaikan pernyataan tersbeut, CEO Uber, yakni Dara Khosrowshahi menulis pernyataan resmi di New York Times, di mana ia mengakui bahwa sudah saatnya ada perubahan dan harus ada ‘jalan tengah’ bagi para pekerja tersebut.

Peluang Penerapan Model Franchise Transportasi Online

Proses hukum masih berlanjut. Kedua belah pihak sedang mempersiapkan langkah berikutnya. Jika tidak ada kesepakatan, maka skenario terburuk adalah penarikan layanan transportasi online ini dari California. Bahkan, baik Uber maupun Lyft telah menunjukkan sinyal kalau opsi ini bisa saja terjadi, paling tidak untuk sementara waktu. Tidak mengherankan jika mereka sedang berupaya mencari model operasi alternatif.

Uber menyatakan saat ini perusahaan justru sedang mempertimbangkan untuk menjadi operator armada sendiri, sebagai salah satu opsinya. Saat Uber pertama kali masuk ke marketplace, inilah yang sebenarnya disampaikan Uber. Dengan mengadopsi model seperti ini, perusahaan akan menjadi franchise atau memberikan lisensi eknologinya ke organisasi-organisasi angkutan yang lebih kecil dan mengoperasikan armada kendaraan. Dengan demikian, perusahaan perantara ini akan bertanggung jawab terhadap para pengemudinya.

Perusahaan transportasi online, Uber, sudah mengoperasikan hal yang hampir sama di Jerman dan beberapa negara lainnya. Perusahaan bekerja sama dengan perusahaan sewa swasta berlisensi dan profesional di Jerman, setelah adanya masalah hukum yang melibakan asosiasi perusahaan taksi di Jerman. Lyft juga telah mengkonfirmasi bahwa perusahaan sedang mencari alternatif. Namun, perusahaan tidak mengonformasi bahwa mereka akan menerapkan model franchise transportasi sebagai salah satu opsinya.

Baca Juga:   10 Bisnis Online yang Menjanjikan untuk Generasi Milenial

Masa Depan Model Franchise Transportasi Online

Di satu sisi, beralih ke sistem lisensi atau model franchise transportasi secara teori bisa menjadi salah satu cara mengatasi ‘sakit kepala’ yang dialami Uber dan Lyft saat ini. Namun, apakah itu bisa menjadi solusi jangka panjang dan bisa membuka jalan bagi bisnis berbasis online lainnya yang beroperasi dengan cara yang sama? Salah satu masalah utama yang harus dijawab adalah kondisi yang sedang terjadi saat ini. Pandemi covid-19 telah menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap volume penumpang di kedua perusahaan.

Bahkan, baru-baru ini Khosrowshahi menyatakan bahwa restrukturisasi operasinya secara permanen di California dapat memicu pengurangan skala operasi namun kenaikan tarif. Akibatnya, kondisi tersebut akan berakibat buruk bagi pengemudi maupun konsumen. Di Polandia, di mana Uber telah memperkenalkan model bisnis mirip Franchise setelah melalui masalah regulasi di daerah tersebut, perusahaan perantara mendaftarkan para pengemudinya sebagai tenaga kontrak lepas, bukan pengemudi yang terhubung langsung dengan Uber. Artinya, sekalipun model franchise diterapkan, tantangan untuk menjadikan pengemudian sebagai karyawan tetap masih sangat tinggi, karena banyak hal yang harus ditangani.

Tagged With :

Leave a Comment