Mengenal Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC) dan Dampaknya

Bank sentral Prancis, Singapura, dan Swiss kemarin meluncurkan uji bersama mata uang digital bank sentral (central bank digital currencies/CBDC) yang akan berlangsung selama enam bulan. Popularitas tipe mata uang baru ini memang terus meningkat, sehingga banyak negara berupaya menelaah potensi penerapannya –termasuk Indonesia–. Namun, kehadirannya juga menimbulkan banyak pertanyaan.

Apa itu mata uang digital bank sentral? Bagaimana dampaknya untuk mata uang fiat yang kita punya? apa pula bedanya dengan cryptocurrency biasa? Mari bahas pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu.

Mata Uang Digital Bank Sentral (CDBC) dan Dampaknya

Mata uang digital bank sentral (CBDC) adalah suatu tipe uang digital yang tidak terdesentralisasi, melainkan dikendalikan oleh bank sentral. Sederhananya: CBDC serupa dengan uang kertas dan uang koin yang biasa kita pergunakan, tetapi berbentuk digital.

Dengan demikian, CBDC tentu memiliki banyak sekali perbedaan dengan cryptocurrency. Pertama, CBDC tidak terbentuk dalam sebuah jaringan terdesentralisasi. Kedua, bank sentral mengendalikan sepenuhnya peredaran CBDC. Ketiga, CBDC berstatus sebagai alat pembayaran yang sah –sedangkan mata uang kripto belum tentu memiliki status yang sama–. Keempat, CBDC tidak bersifat anonim dan rahasia seperti crypto.

Suatu mata uang digital bank sentral akan diterapkan berdasarkan database yang dikelola oleh bank sentral, pemerintah, atau kontraktor pihak ketiga yang disetujui oleh otoritas. Database tersebut mengontrol jumlah yang yang dipegang oleh tiap entitas, sehingga ini merupakan jaringan terpusat (sentralisasi). Mata uang digital bank sentral pun mungkin tak membutuhkan blockchain dalam penerapannya, meskipun kehadirannya sendiri terinspirasi oleh blockchain Bitcoin.

Kalau status mata uangnya sama saja dengan fiat, lantas apa gunanya bank sentral menerbitkan uang digital? Penerbitan mata uang digital oleh bank sentral umumnya ditujukan untuk mempermudah dan menghemat biaya transfer melalui sistem online. Selain itu, mata uang digital dapat mempercepat transmisi kebijakan moneter dan meningkatkan keamanan dalam sistem perbankan.

Per Juli 2022, negara yang sudah menerbitkan uang digital seperti ini antara lain China (Digital RMB), Bahama (Sand Dollar), Karibia Timur (DCash), dan Jamaika (JamDex). Total keseluruhan sekitar 10 negara menggunakan mata uang digital bank sentral seperti ini, karena Karibia Timur merupakan organisasi persatuan tujuh negara yang bertetangga di wilayah kepulauan yang sama. Lebih banyak lagi bank sentral dari negara lain memasuki tahap riset atau eksperimen untuk membuat uang digital.

Apakah penerbitan mata uang digital berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang negara terkait? Mengingat kehadiran mata uang digital semata-mata menyederhanakan sistem transfer dan kliring, maka penerbitannya tak berpengaruh langsung pada nilai tukar mata uang. Hanya saja, peredaran mata uang digital dalam jangka panjang kemungkinan akan mendorong peningkatan sirkulasi uang dalam perekonomian.

Tagged With :

Leave a Comment