Kiat Cerdas Mencontek Rekomendasi Saham di Media Sosial

Kemajuan teknologi informasi membuat para bandar semakin mudah dalam “menggoreng” saham. Pom-pom saham cukup dilakukan dengan membuat serangkaian konten viral pada akun media sosial populer. Hal ini semestinya membuat investor menjadi semakin waspada dalam menyikapi rekomendasi saham di media sosial. Namun, follower sejumlah “influencer saham” malah semakin meningkat.

Kiat Cerdas Mencontek Rekomendasi Saham Di Media Sosial

Kebanyakan follower rekomendasi saham di media sosial merupakan investor pemula yang belum memiliki pengetahuan memadai dan sedang mencari jalan pintas untuk memperoleh profit cepat. Akibatnya, bermunculanlah banyak “korban” dari rekomendasi saham di media sosial.

Para “influencer saham” itu belum tentu memberikan rekomendasi yang menyesatkan. Bahkan, sebagian besar rekomendasinya mungkin benar. Tapi masalahnya, pembacanya belum memahami cara yang bijak dalam menyikapi rekomendasi saham orang lain.

Bagaimana cara menyikapi rekomendasi saham di media sosial agar tetap untung dan tidak terjebak pomo-pom? Berikut ini empat (4) kiat pentingnya.

  1. Pahamilah bahwa tujuan investasi setiap orang berbeda-beda, sehingga saham yang tepat bagi si A mungkin kurang sesuai bagi si B. Contohnya jika si A ingin berinvestasi jangka panjang, ia mungkin tetap membeli saham XYZ yang sudah “overvalue” dan harganya akan terkoreksi dalam waktu dekat. Si A bisa untung dari saham itu, karena harganya akan meningkat berkali lipat dalam jangka panjang. Tapi saham XYZ tidak cocok untuk si B yang berorientasi trading saham, karena ia berharap bisa langsung ambil untung secuil dalam hitungan hari.
  2. Pahamilah bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memprediksi pergerakan pasar secara akurat sepenuhnya. Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak menginvestasikan seluruh dana pada satu saham saja. Bagilah modal menjadi beberapa bagian untuk membuat portofolio yang beragam dan dana cadangan guna menghadapi situasi yang di luar dugaan.
  3. Hindari FOMO (Fear of Missing Out). Banyak orang merasa tergesa-gesa untuk segera membeli suatu saham yang baru saja direkomendasikan, karena takut kehilangan peluang. Padahal mereka mungkin belum membaca isi rekomendasinya secara lengkap, atau bahkan sama sekali tidak mengenal fundamental saham tersebut. Akibatnya, mereka mengalami situasi “saham nyangkut di pucuk” atau bahkan terjebak dalam saham gorengan bandar.
  4. Jangan ikuti rekomendasi saham begitu saja, melainkan manfaatkanlah sebagai bahan untuk belajar menganalisis saham sendiri. Umpamanya analis dari sekuritas A merekomendasikan saham FGH. Bacalah analisisnya secara lengkap agar mengetahui mengapa sang analis merekomendasikan saham itu. Mungkin karena teknikal? fundamental? Semua itu merupakan bekal pengetahuan tambahan bagi kita.

Rekomendasi saham di media sosial itu tak selalu buruk. Tapi, pilihan saham terbaik adalah saham yang sesuai dengan tujuan investasi kita dan benar-benar terkonfirmasi memiliki fundamental yang baik.

Tagged With :

Leave a Comment