Kejatuhan IHSG pada pertengahan tahun 2022 ini memicu kepanikan banyak investor. Ada yang ikut-ikutan aksi jual saham, dan ada juga yang memilih untuk berhenti trading dulu. Namun, ada pula sebagian investor yang cukup bijak untuk memanfaatkan anggaran investasi cadangan dan bersiap mengangkut saham terdiskon.

Suatu saham biasanya dikatakan “terdiskon” ketika harganya menurun hingga mencapai valuasi yang lebih murah daripada biasanya, tetapi kinerja perusahaan tak mengalami perubahan ataupun kabar negatif yang signifikan. Situasi seperti itu membuat banyak investor mengincar saham terdiskon.
Untuk mencari saham terdiskon, kita perlu memantau valuasi PBV di bawah 1.0x dan/atau rasio PE di bawah 15.0x dari saham-saham berkualitas. Salah satunya, saham-saham yang tercakup dalam indeks LQ45.
Daftar saham LQ45 yang terdiskon berdasarkan perhitungan PBV dan/atau PER-nya berikut ini bisa menjadi referensi awal untuk berburu saham terdiskon (data diambil per penutupan pasar tanggal 15 Juli 2022):
- PT Medco Energi Tbk (MEDC) memiliki PBV 0.85x dan PER 2.65x pada tingkat harga Rp545 per lembar.
- PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) memiliki PBV 0.77x dan PER 5.47x pada tingkat harga Rp900 per lembar.
- PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) memiliki PBV 0.74 dan PER 4.57x pada harga Rp6250.
- PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) memiliki PBV 0.69x dan PER 4.77x pada harga Rp1395.
- PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) memiliki PBV 0.63x dan PER 69.37x pada harga Rp910.
- PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) memiliki PBV 0.58x dan PER 4.02x pada harga Rp7450.
- Perusahaan BUMN konstruksi ternama PT PP Tbk (PTPP) memiliki PBV 0.51x dan PER 48.96x pada harga Rp890.
Ketujuh saham itu berbasis pada perusahaan yang memiliki bisnis dengan rekam jejak panjang dan punya pangsa pasar cukup besar dalam bidangnya. Dengan mengoleksinya saat valuasi yang murah saat ini, kita bisa memetik keuntungan melimpah saat valuasinya meningkat di masa depan. Kendati demikian, sebaiknya periksa juga laporan keuangan dan berita-berita terbaru seputar ketujuh saham itu. Rasio PBV dan PER saja tidak cukup untuk dijadikan acuan dalam memilih saham yang benar-benar baik.
Tagged With : analisa fundamental • saham