Harga Minyak Mentah Merosot 12 Dolar Akibat Wabah Virus Corona

Saat wabah virus Corona mulai merebak pada awal bulan Januari 2020, banyak analis telah mengutarakan kekhawatiran mengenai potensi dampak negatifnya terhadap harga minyak mentah. Kekhawatiran itu kini mulai terealisasi seiring dengan penyebaran wabah dan dampak ekonominya yang semakin meluas. Kejatuhan harga minyak bahkan lebih parah daripada estimasi para pakar sebelumnya.

Harga Minyak Mentah Merosot 12 Dolar Akibat Wabah Virus Corona

Harga minyak mentah tipe West Texas Intermediate (WTI) telah anjlok dari harga pembukaan USD61.23 per barel ke harga penutupan USD51.58 pada bulan Januari lalu. Penurunan harga minyak terus berlanjut hingga jatuh lagi ke rekor terendah USD49.31 beberapa hari lalu. Harga minyak acuan ini jeblok nyaris 12 Dolar AS dalam tempo hampir dua bulan, sekaligus mencetak fluktuasi paling buruk sejak awal tahun 2019.

Harga minyak mentah tipe Brent tak kalah tragis-nya. Brent tumbang dari kisaran USD66.98 per barel pada awal Januari hingga rekor terendah USD53.55 pada bulan Februari ini. Total kemerosotan harga bahkan nyaris mencapai 14 Dolar AS dalam kurun waktu tersebut.

Kekhawatiran utama yang mendorong aksi jual WTI dan Brent di pasar komoditas bersumber dari fakta bahwa China merupakan salah satu konsumen minyak mentah terbesar dunia. Terhentinya aktivitas ekonomi di China dan berbagai negara lain akibat wabah virus Corona, dipastikan akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap minyak mentah.

“Kita tak boleh meremehkan disrupsi ekonomi, karena penyebaran wabah dahsyat bisa memicu kejatuhan aktivitas bisnis secara masif di seluruh dunia dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Stephen Innes, seorang pakar strategi pasar dari AxiCorp.

Di sisi lain, OPEC plus gagal menyepakati pembaruan kuota minyak dalam pertemuan terakhir mereka. Negara-negara produsen minyak lain pun terus menggelontorkan output ke pasar tanpa upaya untuk mengeremnya sama sekali. Data jumlah sumur pengeboran di AS (oil rig count) pekan lalu naik lagi menjadi 679 unit, rekor tertinggi sejak pertengahan Desember 2019.

Baca Juga:   Dasar-Dasar Trading Minyak Untuk Pemula

Dalam situasi seperti ini, trader dan investor perlu mewaspadai kemungkinan terlahirnya limpahan surplus inventori minyak seperti beberapa tahun lalu. Surplus semacam itu bukan hanya akan menekan harga minyak mentah dalam jangka pendek, tetapi juga bakal menghambat potensi kenaikan harga hingga 1-2 tahun ke depan.

Tagged With :

Leave a Comment