Goldman Sachs: Perang Harga Bisa Bikin Minyak Jadi 20 Dolar Saja

Kabar komoditas minyak semakin memburuk. Wabah virus Corona telah membuat proyeksi permintaan minyak anjlok karena ditutupnya berbagai jalur penerbangan dan perjalanan jalur lain di berbagai kota di seluruh dunia. Proyeksi penurunan permintaan ini dihadapkan pada potensi surplus pasokan melimlah, karena OPEC Plus gagal mencapai kesepakatan untuk memangkas kuota produksi masing-masing negara anggota.

Sengketa antara Arab Saudi dan Rusia, dua negara produsen terbesar diantara anggota OPEC Plus, berujung pada kolaps-nya pasar minyak hari Senin ini (9 Maret 2020). Harga minyak Brent maupun WTI ambruk lebih dari 30 persen, lantaran Arab Saudi mengumumkan akan memberikan diskon terbesar dalam 20 tahun terakhir bagi pembeli minyak-nya mulai bulan April mendatang.

Harga minyak mentah Brent dan WTI telah pulih perlahan saat memasuki perdagangan sesi New York. Akan tetapi, keduanya masih tenggelam dalam rekor harga terendah dalam empat tahun belakangan ini. Minyak mentah WTI diperdagangkan pada harga USD33.67 per barel, sedangkan Brent diperdagangkan sekitar USD36.45 per barel.

Perang Harga Bisa Bikin Minyak Jadi 20 Dolar Saja

Para analis memprediksi situasi akan semakin suram dalam beberapa waktu ke depan. Pasalnya, perang harga ini berbarengan dengan kemerosotan permintaan pasar akibat wabah virus Corona. Bahkan, analis dari Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah Brent bisa jatuh hingga mendekati USD20 per barel.

Tim analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Damien Courvalin memangkas proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal kedua dan ketiga tahun 2020 menjadi hanya USD30 per barel. Proyeksi harga untuk WTI pada kuartal kedua diturunkan jadi USD29 per barel, sedangkan kuartal ketiga ambruk ke USD28 per barel.

“Pasar minyak sekarang dihadapkan pada dua kejutan bearish yang sangat tidak menentu, dengan hasil jelas berupa aksi jual (dan penurunan) harga yang tajam,” kata Courvalin. Lebih jauh lagi, ia menilai tingkat harga minyak yang terlampau rendah kelak akan menciptakan “stress keuangan akut dan penurunan produksi” bagi produsen minyak shale dan pihak-pihak lain yang memproduksi minyak dengan biaya tinggi.

Baca Juga:   Investasi Minyak Jangka Panjang Bukan Pilihan Cemerlang

Harga saham perusahaan-perusahaan migas serta ETF bidang energi mengalami kemerosotan massal dalam perdagangan hari ini. Perang harga juga memperburuk kondisi pasar komoditas global, sehingga berimbas negatif bagi outlook ekonomi negara-negara yang mengandalkan pendapatan dari sektor ekspor.

Tagged With :

Leave a Comment