Faktor Ini Bisa Bikin Harga Minyak Makin Murah Tahun 2019

Harga minyak mentah (Crude Oil) telah merosot kembali, setelah sempat mencetak puncak tertinggi tahun ini pada pertengahan April 2019. Posisi harga crude tipe West Texas Intermediate (WTI) telah tumbang hingga USD56.92 per barel, sementara tipe Brent sudah mencapai USD68.51 per barel. Padahal, pada tahun 2011, harga masing-masing sempat mencapai lebih dari USD100 per barel. Mengapa harga minyak makin murah, padahal komoditi ini termasuk sumber daya tak terbarukan yang semestinya makin lama makin langka?

3 Cara Investasi Minyak Mentah Di Indonesia

Selama ini, salah satu alasan bagi kenaikan harga minyak mentah adalah konflik geopolitik, khususnya di daerah Timur Tengah dan negara-negara produsen minyak utama lainnya. Apabila ditilik dari aspek ini saja, maka harga minyak seharusnya tetap tinggi, karena ketegangan antara Arab Saudi (yang didukung Amerika Serikat) versus Iran justru makin memanas dalam beberapa bulan terakhir, setelah AS membatalkan kesepakatan damai secara sepihak dan Iran bersiap-siap mengaktifkan kembali program nuklirnya.

Meski demikian, ternyata ada faktor lain yang lebih memengaruhi harga minyak di balik layar. Hal penting yang jarang disoroti ini adalah soal penggunaan teknologi tinggi dalam eksploitasi minyak yang mengakibatkan penurunan biaya produksi dan peningkatan output dalam waktu lebih singkat. Situasi tersebut terutama terjadi di Amerika Serikat, dimana eksplorasi minyak shale telah mengakibatkan peningkatan produksi secara signifikan.

Saat ini, produsen minyak memanfaatkan beragam teknologi digital dan robotika untuk menekan biata produksi. Hal ini meningkatkan efisiensi produksi perusahaan-perusahaan migas, tetapi jadi membatasi harga minyak di tengah suplai yang semakin membanjir. AS bahkan sukses merebut tahta produsen minyak terbesar di dunia dari tangan Rusia berkat eksplorasi dan eksploitasi shale yang biayanya relatif lebih murah.

Baca Juga:   Analisa Harian yang Wajib Dilakukan Setiap Trader Forex

Hal itu telah disinggung oleh sejumlah pengamat pasar, termasuk analis dari Morgan Stanley. Morgan Stanley mengumpamakan pasar minyak saat ini dengan situasi pasar tembaga dan aluminium. Minyak mentah itu seperti tembaga yang produksinya makin lama makin mahal. Kelangkaan sumber daya alam itu membuat perusahaan-perusahaan merambah wilayah yang semakin lama semakin berisiko tinggi. Namun, minyak shale justru mirip dengan alumunium. Persediaan minyak shale amat melimpah, sehingga biaya produksi jadi jatuh seiring dengan peningkatan teknologi yang digunakan. Sebagaimana saat ini dapat disaksikan, harga alumunium telah menurun terus selama satu abad terakhir, sedangkan harga tembaga justru lebih volatile dan siklikal.

Karena kontribusi shale yang makin besar dalam pasar minyak mentah global, maka pasar minyak semakin menyerupai pasar alumunium. Dengan kata lain, menurut Morgan Stanley, ada ambang batas atas tertentu bagi harga minyak dalam jangka menengah. Hal ini juga membatasi ruang OPEC Plus untuk menaikkan produksi, sehingga kemungkinan pembatasan output negara-negara anggota OPEC Plus bakal diberlakukan hingga beberapa tahun ke depan.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar