Bukan sebuah rahasia jika korban terbanyak dari pandemi adalah para pemilik usaha kecil. Namun hingga saat ini, dampak sesungguhnya dari pandemi terhadap perekonomian belum bisa diukur secara pasti. Biz2Credit baru-baru ini mempublikasikan hasil penelitian Small Business Inflation Study yang menganalisis pendapatan dan pengeluaran di lebih dari 140.000 usaha kecil di Amerika Serikat, sejak bulan Januari 2019 hingga Oktober 2022. Jika anda ingin tahu seperti apa dampak inflasi terhadap usaha kecil setelah pandemi berakhir, maka pembahasan berikut pastinya menarik bagi anda.
Dampak Inflasi Terhadap Usaha Kecil Setelah Pandemi
Penelitian yang dilakukan Biz2Credit tersebut mengidentifikasi tiga fase yang berbeda untuk melihat apakah terdapat perbedaan pendapatan dan pengeluaran pada usaha kecil:

- Fase Pra-Pendemi Hingga Kwartal I Tahun 2022
- Fase gelombang awal pandemi Covid-19 sebelum vaksinasi massal pada Kwartal I tahun 2021, ketika penghasilan maupun pengeluaran usaha kecil turun secara tajam;
- Fase ketiga, setelah dimulainya pemulihan usaha kecil secara perlahan dan parsial setelah pendapatan mencapai batas terendah di Kwartal I Tahun 2021 hingga Kwartal 2 Tahun 2022. Inflasi berlanjut hingga fase ketiga ini.
Penelitian tersebut menemukan bahwa sebelum Covid, pengeluaran usaha kecil jauh lebih terkendali dibanding pendapatannya. Namun, setelah pemulihan pasca-vaksinasasi dan masuknya periode inflasi, khususnya di Tahun 2021 dan 2022, margin usaha kecil tergerus secara signifikan. Usaha kecil harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan penjualan dan untuk mengumpulkan penghasilan. Hal ini dipersulit lagi dengan realita bahwa harga-harga semakin meningkat secara signifikan dalam satu setengah tahun terakhir.
Alasan kenaikan harga yang teridentifikasi, antara lain: naiknya harga gas dan minyak bumi, masalah rantai pasok, dan kenaikan upah. Banyak perusahaan tidak mampu menemukan tenaga kerja, dan kalaupun ada, biayanya jauh lebih tinggi dibanding Tahun 2019. Masalah ini semakin pelik karena ketika seorang pemilik usaha membutuhkan modal, mereka harus membayar suku bunga yang jauh lebih tinggi pula dibanding masa sebelum pandemi. Pasalnya, Federal Reserve terus menaikkan suku bunga sebagai upaya untuk mengendalikan inflasi.
The Fed menaikkan suku bunga beberapa kali dalam setahun terakhir. Selama satu dekade terakhir, angkanya telah mendekati nol. Saat ini, pembiayaan menjadi jauh lebih mahal dibanding di masa lalu. Alhasil, para pemilik usaha harus menghadapi realita tersebut. Untuk pertama kali sejak Tahun 2008, para pemilik usaha menghadapi suku bunga di atas 10%, meski sedikit bervariasi antar lembaga finansial.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi ini sangat menyulitkan para pemilik usaha kecil, bukan hanya karena berkurangnya permintaan terhadap produk dan jasa dari konsumen, namun juga karena suku bunga yang terus meningkat. Kredit yang tersedia di masa-masa perlambatan ekonomi hadir dengan suku bunga yang jauh lebih tinggi.
Hasil Studi Tentang Dampak Inflasi Terhadap Usaha Kecil
- Di fase Covid pra-vaksinasi, rata-rata pengeluaran bulanan usaha kecil jatuh sekitar 21%, dari hampir $14.000 di Kwartal I Tahun 2020 menjadi kurang dari $11.000 pada Kuartal 3 Tahun 2020. Perilaku para pelaku usaha kecil di fase inflasi pasca-vaksinasi jauh berbeda dari fase sebelum vaksinasi.
- Di fase pra-vaksinasi (Kwartal I hingga Q3 Tahun 2020), usaha kecil umumnya melakukan pemotongan biaya secara besar-besaran sebagai antisipasi terhadap turunnya pendapatan, di mana nilai uang per transaksi pengeluaran turun sebesar 14% dan jumlah transaksi turun rata-rata 8% pada masa itu.
- Di masa pemulihan pasca-vaksinasi (Kwartal I hingga Kwartal 3 Tahun 2022) yang merupakan periode inflasi tinggi, usaha kecil umumnya mengalami tekanan aliran kas ketika mereka berusaha mempertahankan aktivitas usaha di tengah tingginya inflasi. Jadi, nilai dollar per transaksi turun 12% dan jumlah transaksi meningkat 9%. Perubahan perilaku ini mencerminkan perlunya bagi para pelaku usaha kecil untuk mengendalikan arus kas, dengan membatasi aliran uang keluar saat inflasi melambung tinggi.
- Selama periode inflasi tertinggi, rata-rata pengeluaran bulanan usaha kecil turun sekitar 5%, dari $11.401 di Kwartal I Tahun 2022 menjadi $10.884 di Kwartal 3 Tahun 2022;
- Ketika inflasi semakin cepat, konsumen juga semakin tertekan karena harga-harga yang naik. Di masa pemulihan pasca-vaksinasi, pendapatan usaha kecil mulai meningkat, bahkan lebih cepat dibanding inflasi. Namun pada Kwartal 2 Tahun 2022, pendapatan turun di bawah rata-rata inflasi triwulanan.
- Hal ini mungkin mencerminkan menurunnya kapasitas usaha kecil untuk mengendalikan harga akibat kenaikan harga lainnya, dan implikasinya terhadap usaha mereka di Tahun 2023 ternyata sangat besar.
Periode inflasi dievaluasi dalam konteks situasinya yang berbeda-beda akibat pandemi Covid-19. Setelah vaksinasi massal pada Kwartal I Tahun 2021, perekonomian mulai memasuki masa pemulihan, melalui kombinasi antara pasar tenaga kerja yang kuat dan meningkatnya pengeluaran di pihak konsumen dan bisnis, setelah penghematan besar-besar selama pandemi. Namun, perekonomian juga mengalami berbagai hambatan rantai pasok global yang dipengaruhi oleh pandemi Covid-19.
Tagged With : manajemen bisnis • Usaha Kecil Menengah