Cara Analisis Saham Perbankan yang Perlu Diketahui Investor

XM broker promo bonus

Tahukah bahwa cara analisis saham perbankan itu berbeda dengan cara analisis saham dari sektor lain? Banyak investor pemula mengira kita cukup memeriksa parameter-parameter rasio keuangan biasa seperti Price-to-Book Value (PBV), Price-to-Earning Ratio (PER), dan sejenisnya. Padahal, ada lebih banyak faktor yang perlu diperhitungkan agar analisis saham perbankan kita menghasilkan penilaian yang lebih akurat.

Bank Pertahankan Suku Bunga Deposito Tinggi Tahun 2019 Ini

Berikut ini tiga aspek unik yang wajib diperiksa saat kita menganalisis saham perbankan:

  • Kategori Bank

Pengelompokan bank di Indonesia sebelumnya menggunakan kriteria BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha), tetapi baru-baru ini diubah oleh OJK menjadi KBMI (Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti). KBMI membagi bank dalam 4 kategori, yaitu KBMI 1 untuk bank dengan modal inti sampai Rp 6 triliun, KBMI 2 untuk bank dengan modal inti Rp 6 triliun sampai Rp 14 triliun, KBMI 3 untuk bank dengan modal inti Rp 14 triliun sampai dengan Rp 70 triliun, dan KBMI 4 untuk bank dengan modal inti lebih dari Rp 70 triliun.

Bank-bank yang masuk dalam KBMI 4 merupakan bank-bank terbesar, mampu mengendalikan rasio kredit macet, memiliki jaringan nasional dan ketahanan modal yang kuat. Semakin rendah kategori KBMI, biasanya fundamental bank juga semakin lemah dan cakupan jaringan atau layanannya semakin sempit. Selain itu, ada pula kategori bank digital yang lebih unik.

Bank digital saat ini masih termasuk bisnis rintisan (startup), sehingga umumnya belum mampu menghasilkan laba sebaik bank-bank yang sudah mapan. Tapi banyak investor meyakini potensi perkembangan bank digital sangat besar berkat jaringan layanannya yang tak terbatas via internet, serta operasionalnya tak membutuhkan modal sebesar bank biasa.

  • Kemampuan Bank Menghasilkan Laba

Investor biasanya menggunakan rasio seperti Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Tapi, kedua parameter ini saja kurang memadai untuk analisis saham perbankan. Kita juga perlu menengok rasio-rasio Net Interest Margin (NIM) dan Current Account/Saving Account (CASA).

Baca Juga:   Wall Street Melesat, Investor Menanti Hasil Putaran Kedua di Georgia

NIM dihitung dari selisih antara jumlah bunga yang diterima bank dari para peminjam dan jumlah bunga yang diberikan kepada nasabah. NIM mewakiliki profitabilitas perbankan, dan berfungsi mirip dengan Net Profit Margin (NPM) pada perusahaan non-bank.

Rasio CASA menunjukkan persentase dana yang disimpan di bank dalam bentuk current account dan saving account (tabungan). Bank hanya perlu membayar bunga rendah untuk rekening-rekening seperti ini, sehingga rasio CAS yang tinggi merupakan kabar baik bagi bank.

  • Risiko yang Ditanggung Bank untuk Menghasilkan Laba

Kredit macet dan kredit bermasalah termasuk beberapa risiko bisnis bank terbesar. Untuk itu, kita perlu menengok rasio Non-Performing Loan (NPL). NPL semakin rendah, semakin baik. Bank Indonesia dan OJK juga bisa menentukan rasio NPL yang direkomendasikan bagi setiap kategori bank yang berbeda-beda demi menjaga kelancaran sistem perbankan Indonesia.

Investor juga perlu memeriksa ketahanan modal perbankan, antara lain dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR). Rasio ini dihitung dari ketersediaan modal bank yang dibagi dengan pinjaman yang disalurkannya. CAR yang semakin tinggi, maka semakin baik.

Data-data seperti ini biasanya terlampir dalam laporan keuangan tahunan atau kuartalan yang diterbitkan oleh semua emiten perbankan di Indonesia. Dengan memeriksa data-data di atas, kita dapat berinvestasi pada saham perbankan secara lebih bijak. Bank yang bagus dan layak investasi semestinya memiliki laba yang bertumbuh, rasio NPL yang rendah,serta CASA dan CAR yang tinggi.

Tagged With :

Leave a Comment