Scalping adalah gaya trading yang mengincar profit dalam waktu sesingkat-singkatnya. Trader yang menggunakan strategi ini biasanya berupaya mendulang profit dalam waktu beberapa menit atau beberapa jam saja, sehingga sering dijuluki “copet”. Profit dari tiap transaksi berjumlah sangat kecil, tetapi trader berupaya melaksanakan transaksi sebanyak mungkin seperti pepatah “sedikit demi sedikit menjadi bukit”.
Dengan berbekal strategi teruji, scalping dapat menjadi gaya trading saham yang menguntungkan. Namun, berapa modal untuk scalping dalam saham?

Modal untuk mulai trading saham secara teoretis sangatlah murah. Kita bisa membeli saham beberapa lot hanya dengan modal Rp100 ribu saja. Namun, scalping dengan modal Rp100 ribu tidak akan menghasilkan laba yang bermakna.
Contoh: Seorang trader A melakukan scalping pada saham ERAA saat berada pada harga Rp380 per lembar. Dengan modal Rp100 ribu, ia dapat membeli saham ERAA sebanyak 2 lot saja. Umpama saham ERAA meningkat 10 poin dari Rp380 ke Rp390 dalam satu sesi dan ia mampu menjualnya pada tingkat harga tersebut, maka ia hanya akan memperoleh untung sebesar Rp10*100 lembar saham*2 lot, yaitu Rp2000 (belum dipotong pajak dan fee broker).
Kita harus mempertimbangkan biaya trading saham dan jerih payah menganalisis pasar. Juga perlu mempersiapkan dana cadangan untuk trading lagi jika salah prediksi dan mengalami kerugian atau saham nyangkut. Oleh karena itu, dana sebesar Rp100 ribu saja tidak cukup untuk menjadi modal scalping.
Jadi, berapa modal untuk scalping dalam saham yang sebenarnya? Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya tergantung pada saham-saham seperti apa yang ingin di-scalping.
Apabila seorang trader ingin scalping pada saham-saham lapis dua dan tiga seperti ERAA, maka ia kemungkinan hanya butuh sekitar Rp50juta atau Rp100 juta. Namun, trader yang ingin scalping pada saham blue chip akan membutuhkan dana dua atau tiga kali lipat lebih besar.
Di saat yang sama, trader harus menyisihkan sejumlah dana sebagai “modal untuk belajar”. Scalping bukanlah suatu strategi trading yang mudah bagi pemula, sehingga kita harus selalu siap untuk belajar terlebih dahulu –dan siap untuk menanggung kerugian selama masa belajar.
Tagged With : trading saham