Barangkali Anda pernah mendengar seorang rekan atau seorang pakar keuangan mengatakan bahwa emas bukan investasi. Menurut mereka, membeli emas perhiasan itu termasuk aktivitas konsumtif belaka, sedangkan emas batangan atau koin merupakan representasi gengsi atau upaya untuk menyimpan kekayaan bagi anak cucu saja. Jika ingin investasi emas, maka semestinya membeli saham emiten emas atau trading Gold. Benarkah demikian?

Makna investasi berhubungan dengan aktivitas menanamkan sejumlah uang sekarang agar uang tersebut berkembang menjadi lebih banyak lagi di masa depan dan nilainya tidak berkurang akibat inflasi. Dengan demikian, sebenarnya aktivitas apapun yang memungkinkan kita untuk mendapatkan uang lebih banyak dari sejumlah uang tertentu saat ini, merupakan aktivitas investasi.
Berdasarkan definisi investasi itu, banyak hal termasuk di dalamnya. Seorang filateli yang mengoleksi perangko langka untuk dijual lagi. Seorang investor saham yang membeli saham BBRI hari ini agar mendapatkan dividen tahun depan. Seorang ibu rumah tangga yang membeli emas Antam sebanyak 10 gram untuk diwariskan kepada anak-anak kelak. Mereka semua berinvestasi.
Meski demikian, setiap aset investasi memiliki karakteristik berbeda. Berdasarkan risikonya, kita dapat mengelompokkan aset investasi menjadi tiga:
- Aset investasi yang mampu memberikan imbal hasil jauh lebih tinggi dan benar-benar terbukti tumbuh melampaui laju inflasi, tetapi berisiko tinggi. Contohnya saham dan forex.
- Aset investasi yang memberikan imbal hasil hanya sedikit lebih tinggi dari inflasi, tetapi risikonya lebih terkendali. Contohnya obligasi, dan reksa dana.
- Aset investasi yang jauh lebih aman, tetapi menawarkan imbal hasil sedikit dan pertumbuhannya hanya selaras dengan inflasi saja (bukan lebih tinggi daripada inflasi). Contohnya emas dan deposito berjangka.
Untuk aset yang masuk dalam kelompok ketiga ini, banyak orang memperdebatkan apakah statusnya investasi atau bukan. Mengapa demikian? Karena pertumbuhan nilainya seringkali hanya selaras dengan inflasi. Umpama Anda membeli emas hari ini seharga Rp700.000 per gram lalu menjualnya tahun depan seharga Rp725,000 per gram, maka keuntungan nominal Rp25,000 itu bisa jadi hanya sekedar angka. Secara riil, kenaikan Rp25,000 itu kemungkinan hanya sebanding dengan laju inflasi saja, atau cuma sedikit lebih tinggi. Kenaikan harga emas hanya berupa angka (nominal) semata. Kekayaan Anda memang tidak berkurang selama jangka waktu setahun, tetapi itu tak lantas berarti Anda jadi semakin kaya.
Pemilihan aset investasi sebaiknya sesuai dengan target atau tujuan Anda. Apabila Anda ingin menjadi semakin kaya di masa depan, maka pilihlah aset investasi seperti saham, forex, obligasi, dan reksa dana. Aset-aset itu memiliki potensi untung sangat besar, walaupun ada risiko uang Anda bisa hangus apabila terjadi kerugian. Namun, jika Anda hanya berkeinginan untuk melindungi kekayaan saja, maka emas merupakan pilihan yang lebih tepat. Anda tak mungkin kehilangan uang hingga bangkrut saat berinvestasi emas, meskipun keuntungannya juga takkan membuat Anda jadi miliuner.
Tagged With : forex • harga emas • investasi emas • reksadana • saham