Bagaimana Menjadi Pemimpin Yang Lebih Baik Selama Krisis? Part 2

Ketangguhan seorang pemimpin benar-benar diuji di saat krisis. Pada post sebelumnya, dibahas beberapa cara menjadi pemimpin yang lebih baik ketika perusahaan atau organisasi sedang menghadapi masalah atau krisis. Yang paling utama adalah memberikan informasi yang akurat dan up-to-date kepada karyawan. Tidak perlu menyembunyikan fakta kalau perusahaan sedang menghadapi masalah. Selain itu, pastikan seluruh elemen di perusahaan mengetahui setiap perkembangan yang terjadi. Jangan membuat karyawan anda merasa asing dengan menyembunyikan fakta yang terjadi.

Selanjutnya adalah memberikan pengakuan atau penghargaan terhadap para pemimpin kecil yang muncul di tengah karyawan. Ini adalah salah satu cara mendorong munculnya para pemimpin baru di organisasi anda. Sebagai seorang pemimpin, berikan mereka sebuah peran, sehingga mereka bisa menumbuhkan rasa memiliki. Saat dihadapkan pada krisis, ada beberapa hal yang perlu anda ingat, yakni:

menjadi pemimpin yang lebih baik 2

  • Dengan adanya visi perusahaan, orang-orang di perusahaan anda bisa tetap fokus pada hal-hal prioritas;
  • Adanya sebuah peran khusus membantu karyawan anda lebih mandiri dan dapat menyumbangkan solusi, ide, dan keahliannya secara aktif;
  • Ketika rasa memiliki tertanam pada pekerjaan seseorang, karyawan bisa mempertahankan motivasi di seluruh tahapan dalam melalui krisis tersebut.

Berdayakan para pembuat kebijakan di level bawah ini sebisa mungkin. Pastikan mereka mengetahui apa yang harus ditingkatkan, kapan, dan kepada siapa.

‘Gunting Pita Merah’ dan Kurangi Gesekan

Tidak ada ruang atau waktu untuk berdebat berkepanjangan selama masa krisis. Salah satu prioritas utama pemimpin selama krisis mestinya adalah membatasi gesekan yang bisa terjadi. Titik gesekan bisa muncul di mana saja, namun pemimpin harus bisa mengambil keputusan secara cepat. Dengan membangun dan mendorong semangat kepemimpinan pada diri masing-masing karyawan, pemimpin perusahaan dapat mengurangi birokrasi dengan memiliki sekelompok kecil pemimpin tim sebagai pengambil keputusan.

Baca Juga:   Tips Mudah Menghitung Keuntungan Bisnis

Sebagai seorang pemimpin, anda tidak harus benar-benar memiliki indra keenam dalam mengelola krisis secara efektif. Namun, yang anda butuhkan untuk menjadi pemimpin yang lebih baik adalah keahlian sebagai berikut:

  • Menyusun daftar prioritas. Anda tentunya tidak ingin karyawan membuang-buang waktu dan energi melakukan hal-hal yang salah, bukan? Buat daftar prioritas di awal-awal krisis, pastikan semua anggota tim berada di frekuensi yang sama, dan sisakan sedikit ruang untuk perubahan rencana seiring berjalannya waktu;
  • Berikan kebebasan bagi seluruh pengambil kebijakan di garda terdepan. Mungkin, anda akan melihat sedikit banyaknya kesalahan yang dibuat anggota tim, namun ini adalah bagian yaang tidak bisa dielakkan selama proses penanganan krisis.
  • Prioritaskan mengambil keputusan yang dampaknya paling kecil. Jujur saja, keputusan yang salah (terutama yang dibuat di bawah tekanan) bukanlah hal yang jarang terjadi di masa krisis. Itulah sebabnya,, anda disarankan membuat keputusan yang dampaknya tidak terlalu besar terlebih dahulu. Kemudian, bergerak perlahan untuk keputusan yang dampaknya besar. Dengan demikian, anda dan karyawan bisa mendapatkaan pemahaman yang realistis tentang apa yang penting dan apa yang dipertaruhkan pada setiap keputusan yang diambil.
Jangan  Mengabaikan Empati

Entah di masa krisis atau tidak, seorang pemimpin harus tetap memiliki empati. Di masa krisis, karyawan dan perusahaan justru semakin membutuhkan anda, dibanding keadaan normal. Di masa sulit, menjaga orang-orang anda adalah salah satu hal terpenting yang bisa anda lakukan. Kepemimpinan di masa krisis tidak hanya membutuhkan empati bagi orang-orang yang terdampak, namun juga membutuhkan kemampuan untuk menemukan sumber masalah dengan mengajukan pertanyaan yang tepat kepada orang yang tepat dan di waktu yang tepat.

Baca Juga:   Tanpa Biaya Pemasaran Bisnis: Bagaimana Usaha Anda Berjalan?

Empati sama artinya menyampaikan kepada karyawan “Saya peduli dengan kebaikan kalian,” namun juga memastikan bahwa mereka tidak memandangnya sebagai kelemahan dari sisi anda. Karyawan akan lebih berkomitmen kepada perusahaan jika mereka merasa tidak diperlakukan sebagai mesin saja. Empati membuat anda mampu merespon dengan baik terhadap kebutuhan tim secara terbuka.

Namun, tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana bersikap empati sekaligus memastikan bahwa tujuan-tujuan tim dapat dicapai dengan baik. Berikut adalah beberapa tips untuk membantu anda menyeimbangkan sisi empatik dengan sisi manajerial:

  • Membangun budaya pengakuan yang kuat. Pengakuan (sekecil apapun itu) dapat memberikan dampak yang luar biasa terhadap semangat karyawan anda. Khususnya di masa-masa krisis, bahkan ucapan “terima kasih” yang sederhana bisa berdampak besar terhadap semangat kerja mereka.
  • Lakukan evaluasi informal setiap minggu. Buat jadwal pertemuan setidaknya 5 menit dengan karyawan anda setiap minggunya. Buat rapat-rapat tersebut lebih personal dengan mengundang mereka untuk mendiskusikan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pastikan bahwa diskusi tersebut mencakup aspek personal dan profesional, sehingga anda bisa mendapatkan gambaran lengkap tentang kesehatan mental mereka.
  • Mulai advokasi untuk menyusun tujuan yang realistis dan standar produktivitas. Menghadapi krisis tidak hanya menghambat kesejahteraan anda sendiri, namun juga karyawan anda. Kelelahan, stress, dan cemas adalah hal biasa di masa krisis. Sebagai seorang pemimpin, anda bertanggung jawab menciptakan suatu lingkungan yang positif, di mana karyawan merasa mereka diperlukan.

Sebenarnya, masih ada beberapa strategi untuk menjadi pemimpin yang lebih baik di masa krisis. Dapatkan pembahasannya pada post berikutnya.

Tagged With :

Leave a Comment