Apakah Toko Offline Masih Relevan di Era Perkembangan e-Commerce?

Di era di mana jutaan orang berbelanja online, dan penjualan e-commerce meningkat secara dramatis, muncul pertanyaan apakah toko offline masih relevan? Banyak orang berpendapat bahwa toko offline tidak lagi penting. Namun, sejumlah pakar justru tidak setuju. Mengapa? Ya, dengan toko offline, banyak biaya tambahan yang harus dikeluarkan sebuah perusahaan, seperti sewa gedung toko dan gaji karyawan.

Apakah Toko Offline Masih Relevan Saat Ini?

Namun, banyak yang percaya bahwa toko offline masih perlu dipertimbangkan, di tengah eskalasi transaksi berbasis online. Jika anda bertanya apakah toko offline masih relevan di era modern ini, maka ada beberapa alasan untuk mempertimbangkannya:

apakah toko offline masih relevan

Orang Lebih Menyukai Pengalaman 360 Dibanding Transaksi Semata

Ketika orang tahu betul-betul apa yang mereka inginkan saat berbelanja online, mereka akan berusaha menemukannya dan menyelesaikan transaksi. Namun, tidak sedikit yang mengembalikannya kemudian dan mengorbankan penjual (yang harus menawarkan layanan return gratis agar mampu bersaing). Jika anda kerap berbelanja online, anda pasti tahu bahwa ribuan barang tertinggal dikeranjang tanpa pernah diselesaikan transaksinya. Biasanya, yang dirugikan adalah penjual, karena peluang terjualnya produk tersebut di hari yang sama menjadi hilang.

Ketika berbelanja di toko, konsumen bisa menanyakan hal-hal seputar produk kepada tenaga penjual yang terlatih. Konsumen bisa mendapatkan bantuan secara personal dan bisa bertanya sepuas mungkin. Ketika berbelanja pakaian, konsumen tidak hanya bisa bertanya. Mereka bahkan bisa dibantu memasangkan zipper di belakang gaun, misalnya atau mencobakan perhiasan.

Berbelanja di toko memungkinkan konsumen mencoba dan mengalami berbagai hal yang tidak terbatas jumlahnya, tanpa harus repot mengembalikan barang melalui kurir dan semacamnya. Apa yang mereka beli memang sudah diseleksi dan dicobakan. Misalnya di toko perangkat elektronik, pembeli bisa melihat, menyentuh, dan mencobakan fungsi perangkat elektronik tersebut. Bahkan, pembeli bisa mendapat informasi bagian mana yang perlu diperbaiki jika tidak berfungsi.

Memberikan Pengalaman Sensorik

Sudah berapa kali anda memesan sesuatu secara online, dan ternyata setelah diterima barang yang dipesan tidak sama dan aromanya tidak seperti yang anda harapkan? Ketika konsumen berbelanja dari platform online, ada kemungkinan gaun cantik yang anda lihat dan anda beli dikirim dengan sistem dropship dari pabrik berkualitas rendah. Kain yang digunakan juga tidak sehalus yang anda harapkan, dan bahkan bisa menimbulkan iritasi kulit.

Contoh lain bisa dilihat pada saat berbelanja produk perlengkapan rumah. Bisa jadi ada aroma plastik yang kuat sehingga anda harus membiarkannya selama sehari sebelum digunakan. Sebaliknya, saat berbelanja di toko, konsumen bisa melihat, menyentuh, dan mencium aroma benda tersebut sebelum memutuskan untuk membeli atau tidak.

Keuntungan dari Impulse Shopping

Berbelanja online bisa jadi lebih hemat dan membutuhkan waktu lebih sedikit bagi konsumen yang misinya adalah menemukan dan membeli produk tertentu yang dibutuhkan. Namun, pemilik toko atau karyawan toko offline bisa mendapatkan keuntungan dari sifat impulsif seorang konsumen dengan menempatkan produk di tempat yang sesuai, sehingga konsumen merasa membutuhkan benda tersebut dan membelinya. Atau, toko juga bisa menawarkan diskon khusus untuk pembelian dua produk atau lebih. Akibatnya, konsumen bisa saja berbelanja lebih banyak daripada yang direncanakan sebelumnya.

Misalnya, ketika anda ingin membeli gaun dan gaun tersebut dipajang dan dihiasi kalung cantik, dan kemudian anda mencobanya dan  karyawan toko menawarkan sepatu yang cocok untuk pasangannya, mungkin saja anda akan membeli lebih dari rencana, bukan? Demikian juga dengan toko seni dan kerajinan. Bayangkan anda ingin membeli cat, namun saat di toko anda melihat koleksi kuas, kanvas, dan warna-warna cat yang cantik, dan dipajang  di tempat yang sesuai, bisa saja anda membawa pulang banyak produk, bukan?

Lebih Cocok untuk Pengusaha Tipe Ekstrovert

Keberhasilan sebuah usaha juga sangat bergantung dengan kenapa anda memutuskan untuk memulainya. Demikian juga dengan tipe kepribadian anda. Bagi pengusaha tipe introvert, bisnis online mungkin pilihan yang pas. Namun bagi tipe ekstrovert yang lihai meyakinkan orang lain untuk membeli produk dan jasanya, tidak ada yang bisa menggantikan percakapan dan sosialisasi yang berlangsung di toko.

Ketika konsumen merasa cocok dengan karyawan atau pemilik toko yang melayaninya dengan antusias, bisa jadi mereka tertarik untuk datang kembali ke toko tersebut dan berbelanja lebih banyak lagi. Kenapa? Karena mereka merasa bahwa waktu dan energi yang mereka habiskan untuk datang ke toko tidak terbuang sia-sia.

Apakah anda masih bertanya apakah toko offline masih relevan atau tidak di era e-commerce ini? Perlu diingat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang suka bersosialisasi dan menjalin hubungan. Salah satu kunci kebahagiaan adalah mengenal lebih banyak orang dan menjalin hubungan baik. Bagi banyak orang, toko retail alias toko online memberi mereka peluang untuk bersosialisasi, terutama jika mereka sudah mengenal orang-orang di toko yang sering mereka kunjungi.

Tagged With :

Leave a Comment