Apa Maksudnya “Sell on May and Go Away” dalam Saham?

Sejak awal bulan Mei 2021, kinerja IHSG terus-menerus jatuh bangun. Sebagian orang menganggapnya sebagai realita yang selaras dengan siklus musiman “Sell on May and Go Away”, sehingga mereka ikut-ikutan jual sejumlah isi portofolionya dan menunda beli saham lagi. Tapi, apakah benar demikian?

Pertama-tama, kita perlu memahami apa maksudnya “Sell on May and Go Away” itu. Fenomena ini awalnya terdeteksi di Wall Street, berdasarkan buruknya kinerja historis sejumlah saham dalam periode enam bulan antara Mei-Oktober dibandingkan dengan kinerja enam bulan berikutnya antara November-April. Asumsinya, jumlah partisipan pasar yang lebih sedikit selama libur musim panas akan membuat pasar menjadi lebih bergejolak dan berisiko lebih tinggi.

Apa Maksudnya Sell on May and Go Away dalam Saham

Investor yang ingin mengikuti siklus ini akan melepas saham-saham mereka pada bulan Mei atau paling lambat akhir musim semi, kemudian berinvestasi lagi pada bulan November atau pada pertengahan musim gugur. Investor di negara-negara lain, seperti Indonesia, sering meneladani mereka karena tren bursa saham global memang biasanya berkiblat pada Wall Street.

Sejumlah investor menilai strategi ini lebih menguntungkan daripada menahan dana di pasar saham terus sepanjang tahun. Tapi, ada dua argumen yang membantah keyakinan tersebut, yakni:

  1. Data indeks Dow Jones antara 1950-2013 memang menunjukkan bahwa return pada periode Mei-Oktober itu lebih rendah daripada return pada periode November-April. Namun, data sejak tahun 2013 menunjukkan bahwa pola musiman ini sudah tidak berlaku lagi. Dengan kata lain, orang yang menjual saham-sahamnya pada bulan Mei justru mungkin kehilangan kesempatan untuk mendulang profit.
  2. Kinerja portofolio para investor yang berorientasi jangka panjang (“buy-and-hold strategy”) tidak akan terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga saham jangka pendek. Bagi mereka, strategi terbaik tetaplah mempertahankan saham selama kondisi fundamental perusahaan masih baik.

Nah, setelah mengetahui semua ini, apakah Anda akan mengikuti jejak mereka-mereka yang berlomba-lomba jual saham pada bulan Mei? Ataukah Anda justru akan mengambil kesempatan saat penurunan harga saham untuk serok bawah? Ataukah mungkin mengabaikan saja semua ini dan tetap fokus pada strategi investasi pribadi yang telah ditentukan? Pilihannya ada di tangan Anda sendiri.

Tagged With :

Leave a Comment