Lingkungan kerja digital yang sedang marak akhir-akhir ini bisa dikatakan belum mengenal apa itu internet atau intranet 20 tahun yang lalu. Serangkaian alat komunikasi memungkinkan kita untuk bekerja dari mana saja sepanjang terdapat Wi-Fi atau paket internet. Ini adalah eranya bagi para pekerja noamden, di mana CEO bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan karyawannya, atau era di mana angkatan kerja produktif bisa bereksperimen dengan jumlah hari kerja yang lebih singkat.
Meski demikian, para pemimpin yang memperkenalkan software lingkungan kerja digital yang baru masih dihadapkan dengan sejumlah rasa takut. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasi di Forbes menunjukkan bahwa lebih 60% dari 34.000 lebih karyawan yang disurvey mengaku bahwa teknologi di lingkungan kerja berjalan terlalu cepat. Penelitian yang sama juga menemukan kalau lebih separuh responden mengaku khawatir kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi di lingkungan kerja. Ketakutan tersebut berasal dari kurangnya keahlian.

4 Tantangan Yang Dihadapi Lingkungan Kerja Digital
Hasil penelitian di atas menunjukkan kalau aplikasi lingkungan kerja masih harus bekerja keras untuk meningkatkan produktivitas melalui otomatisasi, meningkatkan partisipasi karyawan yang bekerja jarak jauh, dan mengadopsi budaya kerja secara konsisten. Berikut adalah beberapa tantangan yang harus dijawab agar lingkungan kerja digital berjalan efektif:
Prioritas Terhadap Kesehatan Mental
Kesehatan mental menjadi salah satu prioritas dalam membangun lingkungan kerja yang sehat. Kesehatan mental terbangun dengan dukungan alat untuk mengelola beban kerja untuk memastikan kalau karyawan tidak kehabisan energi setiap harinya. Oleh sebab itu, kesehatan mental ditempat kerja sangat penting bagi karyawan, sehingga mereka bisa menentukan prioritas dalam bekerja, dan tim manajemen harus memastikan bahwa pekerjanya tidak menanggung beban yang terlalu berat.
Pekerjaan digital tidak akan pernah berakhir. Kru konstruksi bisa berdiri dan memuji proyek yang baru diselesaikan; pengacara bisa menutup sebuah kasus, dan guru bisa menyuruh siswanya pulang setelah kelas berakhir. Namun, pekerja digital tidak pernah berhenti. Selalu saja ada email yang harus dikirim, kampanye yang harus diselesaikan, atau serangkaian kode yang harus ditulis. Akibatnya, pekerja digital beresiko lebih tinggi mengalami kelelahan.
Manajemen dapat mempertimbangkan tool atau alat yang membantu pekerja dalam mengelola tugas-tugasnya. Dengan demikian, mereka masih memiliki keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaannya.
Meningkatkan Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu tantangan terbesar dalam lingkungan kerja digital. Sulit membayangkan bagaimana komunikasi di lingkungan digital bisa berlangsung layaknya di kantor biasa. Ada beberapa alat komunikasi yang bisa dimanfaatkan. Misalnya, daripada berdiskusi melalui email atau chat, komunikasi via webcam atau teleconference akan terasa lebih akrab. Sayangnya, teknologi yang ada belum sepenuhnya mendukung.
Sebenarnya, teknologi terbaru seperti Virtual Reality (VR) di Facebook atau hologram diilai lebih menjanjikan untuk menciptakan komunikasi yang lebih akrab antara pekerja jarak jauh. Jika teknologi VR ini diaplikasikan di ruang teleconference, tentu suasananya akan berbeda.
Tantangan teknologi di atas, pada kenyataannya, masih dipersulit dengan tantangan dari aspek sosial. Suasana akrab dalam hubungan interpersonal di kantor tentu sulit diwujudkan dalam dunia digital. Ini adalah tantangan yang masih harus dijawab di masa depan untuk menciptakan lingkungan kerja digital yang menyenangkan.
Desentralisasi Semua Proses
Salah satu kelemahan dari lingkungan kerja berbasis digital adalah bahwa penyelesaian beberapa tugas dasar bisa saja lebih lama. Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan tool yang bisa menyatukan semua proses, dan membuatnya lebih sederhana. Contohnya adalah proses pengajuan cuti yang tentunya berlaku untuk semua karyawan.
Dengan sistem yang desentralistik, karyawan bisa mengakses pelayanan dari tim manajemen tanpa membutuhkan banyak waktu. Selain itu, jika semua proses didigitalisasi, maka kontrol manajerial justru semakin terbangun. Misalnya, penggunaan anggaran, izin cuti, dan segala sesuatunya tercatat dengan baik. Dengan demikian, setiap orang bisa bekerja secara cepat dan efisien, namun anda tidak membahayakan keamanan bisnis.
Mengukur Produktivitas Secara Adil
Salah satu fokus dalam membangun lingkungan kerja digital adalah retensi dan pertumbuhan karyawan. Perusahaan dapat menggunakan semacam aplikasi untuk menjajaki jumlah jam kerja karyawan dan tugas-tugas yang diselesaikan dari jarak jauh. Namun, tentunya diperlukan cara yang lebih efisien untuk mengukur produktivitas karyawan dari jarak jauh serta memberi reward yang layak atas kinerja mereka.
Sekali lagi, penggunaan alat-alat dan teknologi digital memberi banyak peluang bagi perusahaan untuk mengukur keluaran (output) masing-masing karyawan serta memperoleh gambaran berbasis data. Dengan demikian, mereka bisa meningkatkan produktivitas karyawan dengan cara memberi insentif bagi mereka yang memiliki keahlian.
Keempat tantangan dalam menciptakan lingkungan kerja digital yang kondusif, produktif, dan komunikatif di atas tentunya masih bisa dipadukan dengan strategi lain. Misalnya, terlalu banyak aplikasi dan terlalu sering log-in ke akun email akan menyita banyak waktu kerja karyawan. Jadi, harus tetap ada strategi yang bisa memungkinkan karyawan untuk bekerja secara efisien.
Tagged With : edukasi bisnis • Manajemen Usaha