Trader Wajib Tahu: 3 Mata Uang yang Bullish Di Tengah Perang Iran

Serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir bulan Februari 2026 telah memicu konflik bersenjata yang berdampak besar bagi pasar keuangan dunia. Harga minyak mentah dan komoditas energi lainnya melonjak pesat. Beragam indeks saham terkemuka tumbang, karena pelaku pasar mengalihkan modal ke instrumen keuangan yang dianggap lebih aman.

Mata Uang yang Bullish Di Tengah Perang Iran

Perang Iran juga berdampak besar di pasar Forex. Berdasarkan data pergerakan harga selama hampir satu bulan konflik berlangsung, hanya tiga mata uang yang bullish di tengah eskalasi konflik di kawasan Teluk ini.

  • Dolar AS (USD)

Indeks Dolar AS mengalami kenaikan lebih dari 2,6%, membukukan kinerja terbaiknya dalam satu tahun terakhir. Para trader menyukai mata uang karena statusnya sebagai safe haven, posisi Amerika Serikat sebagai negara eksportir energi, serta dominasi Dolar AS dalam perdagangan global. Semakin mahal harga minyak, semakin bullish pula dampaknya bagi Dolar AS.

  • Bitcoin (BTC)

Kurs BTC/USD melejit sekitar 10% pada awal konflik. Bitcoin juga sempat mengungguli beragam aset safe haven tradisional seperti Emas, karena banyak trader menganggapnya lebih likuid dan lebih mobile di tengah ketidakpastian geopolitik. Harga Bitcoin belakangan menurun kembali, tetapi masih berada dalam rentang yang terbentuk pada Februari.

  • Franc Swiss (CHF)

Franc Swiss menjadi pilihan favorit para trader dan investor Eropa, sehingga EUR/CHF mencetak rekor terendah sepanjang masa. Kurs USD/CHF juga merosot sampai level terendah sejak tahun 2011. Kendati demikian, otoritas setempat kemungkinan akan menghalangi apresiasi kurs Franc lebih lanjut agar tidak berdampak buruk bagi perekonomian Swiss yang berbasis ekspor.

Beberapa mata uang lain berpotensi bullish apabila konflik berlanjut lebih lama lagi. Contohnya, Yuan China yang diwacanakan Iran untuk menjadi mata uang alternatif USD dalam perdagangan minyak mentah dunia. Mata uang negara produsen minyak seperti Azerbaijan dan Kazakhstan juga berpotensi cuan. Namun, posisi masing-masing masih cenderung volatile saat ini.

Di sisi lain, mata uang negara-negara importir neto energi justru merosot tajam. Beberapa contohnya, Euro, Yen Jepang, Pound Sterling, Rupiah Indonesia, serta beragam mata uang negara berkembang lainnya.

Tagged With :

Leave a Comment