Membangun Kepercayaan Diri Dalam Berbisnis di Tengah Ketidakpastian

Dengan tingkat inflasi yang mencatatkan rekor baru di beberapa negara, terlihat jelas bahwa tim pemimpin mesti memprioritaskan upaya untuk menjalankan bisnis di tengah ketidakpastian. Pastinya, tidak mudah membangun kepercayaan diri dalam berbisnis di tengah ketidakpastian. Di awal-awal terjadinya pandemi, para pengusaha dan pemimpin bisnis menjadi tidak tenang. Pandemi yang terjadi telah menimbulkan kerusakan yang signifikan dalam perekonomian, dan dampaknya diyakini akan tetap ada setidaknya hingga satu dekade ke depan.

Sejumlah pertanyaan mungkin muncul di benak anda. Misalnya, jika kita memang telah melihat kekacauan pasar, bisakah kita mengatasi ketidakpastian selanjutnya menggunakan pendekatan yang sama? Di tengah masyarakat yang semakin cepat berubah, bagaimana bisnis mestinya menyesuaikan diri? Muncul juga pertanyaan tentang secepat apa dan separah apa potensi perlambatan ekonomi yang diakibatkannya.

membangun kepercayaan diri dalam berbisnis

Berbagai kondisi yang tidak pasti tersebut memicu rasa takut dan panik. Tentunya, tidak mudah memimpin usaha di tengah ketidakpastian. Bahkan para pemimpin yang sebelumnya merasa percaya diri dengan kemampuannya membuat keputusan kini dihantui keraguan. Sebuah studi menemukan bahwa organisasi, lembaga, atau usaha yang siap menghadapi ketidakpastian dalam perekonomian biasanya memiliki dua karakteristik pokok: Mereka memiliki tingkat maturitas digital yang tinggi, dan mereka memiliki agenda keberlanjutan yang sudah canggih.

Bagaimana Membangun Kepercayaan Diri Dalam Berbisnis di Segala Kondisi?

Maturitas digital tidak hanya tentang teknologi dan data, namun juga berkaitan dengan budaya. Para pemimpin yang merasa siap menghadapi ketidakpastian dalam perekonomian kemungkinan memiliki budaya yang menekankan inovasi, eksperimentasi, dan keberanian mengambil resiko. Organisasi semacam ini tidak takut gagal, belajar dari kesalahan, dan cepat menyesuaikan diri untuk mencoba dan menerima solusi-solusi baru. Beberapa poin berikut mungkin relevan dengan anda:

Mengapa Kesatupaduan dan Budaya menjadi Kunci Kepercayaan Diri Pemimpin

Untuk membangun kepercayaan diri dalam berbisnis di tengah ketidakpastian, maka sebagai pemimpin, anda mesti fokus pada dua hal penting:  kesatupaduan dan budaya. Kesatupaduan (kohesi) adalah kemampuan untuk menyesuaikan organisasi dengan serangkaian tujuan jangka panjang. Di sisi lain, budaya merupakan norma, nilai, dan perilaku yang menentukan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut.

Model bisnis yang kohesif memiliki tujuan yang jelas dan kemauan untuk menyesuaikan diri di lingkungan yang terus berubah. Model semacam ini diperlukan untuk membangun suatu budaya yang sesuai dengan identitas bisnis dan tujuaan anda. Misalnya, perusahaan anda bisa memilih memberi penekanan khusus pada transparansi dan akuntabilitas. Anda juga bisa memberi pengakuan dan penghargaan secara rutin kepada karyawan terbaik yang bisa mencapai, dan apalagi melampaui, targetnya. Cobalah lakukan hal-hal berikut:

  • Dorong dan berikan apresiasi terhadap eksperimentasi. Berikan penghargaan kepada karyawan yang berani mengambil resiko dan belajar dari kesalahannya, meskipun hasilnya tidak selalu seperti harapan;
  • Ciptakan ruang yang aman untuk perbedaan pendapat. Karyawan mestinya bisa berbagi pendapat dan menantang asumsi yang ada tanpa rasa takut dikucilkan. Hal ini bisa dilakukan melalui rapat rutin, sesi feedback, atau survei terhadap karyawan.
  • Dorong kolaborasi. Jika ada lebih banyak peluang untuk tim lintas-fungsi bekerja sama dalam proyek atau inisiatif tertentu, maka hal itu bisa menghilangkan perbedaan pendapat dan perspektif.
  • Berikan teladan. Sebagai pemimpin, anda mesti menjadi teladan yang menunjukkan perilaku untuk dicontoh karyawan anda. Memimpin dengan teladan memberi dua manfaat sekaligus: membantu karyawan baru memahami budaya kerjanya secara lebih baik dan sekaligus mendorong pertumbuhan tim sesuai dengan nilai-nilai yang dianut di perusahaan.
Budaya dan Peluang Digital

Transformasi digital bukan hanya tentang teknologi. Revolusi digital mengharuskan adanya perubahan mendasar pada pola pikir dan budaya organisasi. Artinya, anda harus mampu mengadopsi cara kerja baru, bereksperimen dengan peluang-peluang baru dan memberdayakan karyawan untuk membangun rasa memiliki terhadap proses digital mereka.

Anda mungkin merasa bahwa perubahan lingkungan digital dalam bekerja membutuhkan waktu. Namun, merubah pola pikir (mindset) merupakan faktor yang sangat penting jika anda ingin meninggalkan kebiasaan. Rasa takut terhadap ketidakpastian kerap menjadi penghambat bagi perusahaan untuk mengoptimalkan potensinya.

Daripada memandang teknologi digital baru sebagai ancaman, semestinya anda mendekatinya dengan pola pikir yang berorientasi untuk tumbuh: fokus pada manfaatnya. Ambil langkah-langkah kecil. Diskusi dengan mentor, dan dapatkan pelatihan dan sumber daya yang relevan. Pelihara perilaku positif sepanjang proses yang anda lalui, dan dorong semua anggota tim untuk berbuat sama.

Keberlanjutan untuk Kesuksesan Jangka Panjang

Keberlanjutan bukan lagi semata-mata sesuatu yang baik bagi perusahaan, namun merupakan suatu keharusan untuk menjamin kesuksesan jangka panjang. Dengan memprioritaskan keberlanjutan, para pemimpin bisa mengurangi dampak terhadap lingkungan, dan bisa memberi nilai bagi seluruh pemangku kepentingan. Anda bisa meningkatkan reputasi brand dan menarik perhatian orang-orang berbakat, investor, dan konsumen.

Misalnya, keberlanjutan bisa dicapai melalui inovasi secara terus-menerus dan menyelesaikan masalah konsumen. Jika muncul kebutuhan baru, maka anda bisa mencari cara baru untuk berinovasi dalam melayani konsumen, misalnya, dengan membangun aplikasi. Gunakan pendekatan baru. Demikianlah anda bisa membangun kepercayaan diri dalam berbisnis di segala kondisi.

Tagged With :

Leave a Comment