Beberapa tahun yang lalu, kita mudah saja bertemu rekan kerja saat berjalan menuju ruang santai. Namun sekarang, banyak karyawan yang merindukan momen-momen kasual seperti itu. Bahkan, commuting jarak jauh dari rumah ke kantor terasa lebih sepi dibanding bekerja di kantor itu sendiri. Dan, ketika manusia jarang berinteraksi, maka kerjasama atau kolaborasi akan cenderung berkurang. Nah, bagaimana anda sebagai pemimpin dapat meningkatkan kerja sama tim di tengah-tengah dunia kerja yang semakin remote seperti saat ini?
Sesungguhnya, kerjasama telah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia kerja hybrid saat ini. Sebuah riset dari Codegiant menunjukkan bahwa 86% respondennya mengatakan bahwa kebanyakan kegagalan pekerjaan dipengaruhi oleh kerjasama yang buruk. Bahkan, ketika setiap orang mencoba bertemu secara virtual, maka hasilnya tidak begitu memuaskan. Siapapun yang pernah ikut konferensi digital pastinya menyadari hal itu.

Meningkatkan Kerjasama Tim di Lingkungan Hybrid
Seberapa sering peserta melihat emailnya? Sulit untuk berkonsentrasi atau merasakan komitmen yang sama selama kita melakukan interaksi secara online. Lalu, bagaimana anda mengatasi kesulitan-kesulitan kerjasama yang melekat pada sistem kerja hybrid dan bagaimana cara meningkatkan kerjasama tim anda?
Sediakan ruang dan waktu untuk membangun hubungan
Kerap kali, kita terperangkap dalam pemikiran bahwa setiap momen yang kita habiskan dengan rekan kerja dalam jarak jauh selalu berkaitan dengan pekerjaan. Kita mengakhiri percakapan ringan dengan alasan untuk meningkatkan efisiensi. Namun, hal itu sebenarnya kontraproduktif dengan apa yang semestinya dibutuhkan oleh sebuah tim. Untuk membantu karyawan anda mengatasi rasa kesepian dan keterasingan yang dirasakan oleh banyak pekerja, maka anda mesti menyediakan ruang baik mereka untuk bisa membaangun hubungan dengan orang lain sebagai individu.
Timm Urschinger, salah satu pendiri dan CEO LIVEsciences, sangat mempercayai perlunya membangun hubungan dalam dunia kerja. Berbicara tentang topik-topik yang tidak terkait dengan pekerjaan sebenarnya sangat penting, terutama bagi pekerja yang berada di tempat terpisah-pisah. Pembinaan tim dan waktu yang digunakan untuk berbicara hal-hal ringan sangat penting. Para pemimpin harus memahami hal ini, dan memastikan perusahaan menyediakan ruang dan waktu bagi karyawan untuk melakukan aktivitas kasual semacam ini.
Jika mungkin terasa aneh untuk mengatur jadwal coffee break secara online, cobalah sisihkan waktu 5-10 menit untuk berbicara hal-hal ringan di setiap rapat. Anda juga bisa menyediakan sesi AMA (Ask Me Anything) atau memperbolehkan peserta berbagai pemikiran dan pendapat secara spontan. Memuji dan menghargai kehidupan orang di luar pekerjaan sebenarnya sangat berguna untuk membangun ikatan yang positif. Ikatan semacam ini sangat penting untuk meningkatkan interaksi, loyalitas, kepercayaan, dan rasa betah karyawan.
Pastikan Semua Materi Mudah Didapatkan
Bagi karyawan yang bekerja dari rumah, kesulitan untuk mendapatkan materi terkait pekerjaan sangat mengganggu. Faktanya, sekitar 48% karyawan mengaku menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari informasi. Jadi, pastikan anda menyediakan sebuah hub atau channel khusus untuk berbagi pengetahuan dan berbagi file, sehingga karyawan bisa membukanya kapan saja mereka butuh.
Kata pentingnya di sini adalah hub. Dengan kata lain, cobalah untuk merampingkan penggunaan teknologi sebisa mungkin. Misalnya, mungkin anda tidak butuh lima sistem yang berbeda jika kelimanya tidak terintegrasi. Mungkin, satu atau dua sistem sudah cukup, asalkan bisa membantu semua orang untuk bekerja secara lebih efisien dan cerdas.
Tanpa strategi yang cerdas, bekerja dari rumah bisa memicu stress bagi karyawan. Semakin banyak friksi mereka rasakan, semakin tinggi kemungkinan mereka kehilangan semangat dalam bekerja. Untuk mencegah hal semacam ini, anda bisa berinvestasi pada teknologi seperti platform manajemen kerja kolaboratif dan software manajemen proyek yang bertujuan untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan karyawan dalam bekerja.
Sebarluaskan Tujuan Anda Secara Luas dan Spesifik
Apakah setiap orang di perusahaan mengetahui tujuan yang ingin anda capai dalam beberapa minggu atau beberapa bulan kedepan? Jika anda belum menyusun tujuan yang SMART (Specific, Measureable, Achievable, Relevant, dan Time-Bound) untuk setiap tugas atau proyek, maka mulailah dari sekarang. Begitu tujuan yang berorientasi SMART sudah tersedia, maka anda bisa menyampaikannya kepada tim.
Jika anggota tim memahami apa yang diharapkan dari mereka, maka mereka akan lebih bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya. Anda juga bisa melibatkan para anggota tim dalam proses pengambilan keputusan untuk meningkatkan kepercayaan, meningkatkan transparansi, dan menyamakan perilaku anggota tim. Berikan mereka peluang untuk berkontribusi dan mengubah aspek-aspek yang dianggap perlu untuk meningkatkan rasa memiliki di antaranya mereka.
Terakhir, upaya meningkatkan kerjasama tim harus dibarengi dengan adanya apresasi terhadap kolaborasi atau kerjasama yang dianggap sukses. Jika anda melibat ada perilaku tertentu yang dianggap baik dan mendukung pencapaian target perusahaan, maka anda perlu menyoroti dan mengapresiasinya. Karyawan akan lebih produktif dan puas ketika mereka merasa terhubung, dihargai, dan dilihat. Tingkat transparansi semacam ini akan menciptakan suatu budaya percaya dan bisa memotivasi karyawan untuk bekerja secara lebih dekat dengan tim lain.
Tagged With : manajemen bisnis