Ketika kita memasuki tahun ketiga masa pandemi ini, terlihat jelas bahwa ada begitu banyak elemen dari proses bisnis yang bisa dirubah. Selama perjalan pandemi ini, ekspektasi masyarakat sudah berubah, baik di dalam maupun di luar. Menurut The People Space, organisasi umumnya mulai menyadari bahwa fokus hanya memaksimalkan keuntungan jangka pendek bukanlah langkah yang tepat. Pendekatan berorientasi manusia dalam bisnis mulai mendapatkan perhatian khusus.
Menempatkan manusia (baik itu konsumen, pemasok, atau karyawan) di posisi pertama menjadi elemen strategi bisnis yang sangat penting saat ini. Hal ini masuk akal. Perusahaan bisa melihat langsung dampak emosional dari upaya menempatkan konsumen dan karyawan sebagai prioritas pertama.

Lalu, apa itu pendekatan berorientasi manusia dalam bisnis? Pendekatan ini mengacu kepada para pemimpin yang mengutamakan perhatian terhadap anggota timnya. Bahkan, perhatian kepada tim lebih diutamakan daripada konsumen, pemegang saham, dan bahkan keuntungan perusahaan sendiri. Perhatian yang dimaksud lebih dari sekedar menyediakan snack gratis atau meja footsal di ruang istirahat. Namun, idenya adalah bahwa pengalaman karyawan sejalan dengan pengalaman konsumen.
3 Pendekatan Berorientasi Manusia Dalam Bisnis
Karyawan yang bahagia akan menghasilkan konsumen yang bahagia. Strategi ini juga berguna untuk menarik dan mempertahankan karyawan berbakat, yang justru menjadi isu tersendiri di era new normal, ketika banyak karyawan di seluruh dunia justru terlibat dalam gerakan Great Resignation.
Namun, kebanyakan perusahaan tidak memiliki kantong yang cukup dalam untuk bersaing dengan perusahaan raksasa seperti Apple, dalam menawarkan opsi-opsi harga produk. Lalu, apa lagi yang tersisa bagi perusahaan ini? Bagaimana perusahaan bisa menerapkan pendekatan pendekatan berorientasi manusia dalam bisnis ini?
Berikan Nilai Tambah pada Lingkungan Kerja
Inti dari pendekatan yang berorientasi manusia adalah menciptakan budaya yang sarat makna dan nilai. Salah satu cara paling mendasar untuk melakukannya adalah percaya kepada kemampuan anggota tim anda, berikan mereka otonomi lebih, akuntabilitas, dan tanggung jawab lebih. Hal ini akan membuat mereka merasa lebih berharga karena kepercayaan yang lebih tinggi dan adanya dorongan terhadap kreativitas mereka.
Pada saat ini, terutama setelah kebanyakan karyawan sudah mencoba rasanya bekerja dari rumah, perlu bagi perusahaan untuk memberikan dukungan terhadap lingkungan kerja hybrid dan fleksibel. Bagi perusahaan yang menerapkan sistem kerja jarak jauh secara penuh, maka para pemimpinnya harus mengetahui kesulitan yang lazim terjadi, misalnya saat berkomunikasi melalui video call dalam waktu lama. Perlu diketahui bahwa ada istilah “Zoom Fatigue” dalam penggunaan video call. Oleh sebab itu, panggilan video yang tidak penting mesti dihilangkan, dan rekan kerja juga harus menghargai waktu para anggota timnya.
Terlepas dari desain tempat kerja, sebaiknya setiap pemimpin melakukan pengecekan secara teratur terhadap kesehatan anggota timnya. Setiap orang pernah melalui hari-hari buruk. Pada saat itu, para pemimpin harus memberikan dukungan yang dibutuhkan dan strategi mengatasi masalah sesuai tekanan yang sedang dihadapi.
Cari Cara untuk Memenuhi Kebutuhan Karyawan
Bagi pemimpin yang menerapkan pendekatan berorientasi manusia dalam bisnis, pengalaman karyawan lebih penting dari elemen-elemen budaya kantor, ruang kantor itu sendiri, maupun teknologi. Ketika karyawan benar-benar merasa diperhatikan, secara alamiah mereka akan tetap setia kepada pimpinannya. Tentunya, kebutuhan dasar mereka harus dipenuhi terlebih dahulu, namun sayangnya, terlalu banyak pimpinan tidak menawarkan tunjangan yang memadai bagi karyawannya.
Untungnya, ada banyak pilihan bagi para pemimpin perusahaan saat ini. Misalnya adalah Andrea DuVall (salah satu pendiri Mother Earth Food), sebuah perusahaan pengiriman produk pertanian organik lokal. Andrea DuVall menggunakan sebuah jejaring barter antara usaha-usaha kecil untuk memperdagangkan produk segar organik miliknya demi menyediakan tunjangan bagi karyawan, yang disebut ReSource Network.
ReSource Network adalah sebuah platform yang memungkinkan pekerja paruh waktu dan usaha kecil untuk meneruskan layanan kredit satu sama lain. Jejaring ini juga memungkinkan para pelaku bisnis untuk memperdagangkan barang dan jasanya masing-masing. DuVall berkeinginan untuk menyediakan opsi-opsi layanan kesehatan alternatif bagi karyawannya, bukan hanya cuti sakit. Timnya bisa memilih dari serangkaian layanan yang ada, seperti akunpuntur, pihat, dan sebagainya sesuai keinginan dan layanan yang paling sesuai untuk mereka.
Utamakan Kepuasan Karyawan
Seperti dibahas di atas, pendekatan berorientasi manusia dalam bisnis mengutamakan kepuasan karyawan sebagai upaya untuk mengurangi gesekan. Banyak organisasi menyusun peta jalan pengalaman karyawan untuk membangun budaya organisasi yang baik dan memastikan bahwa setiap karyawan merasa dihargai, merasa penting, merasa didengar, dan merasa dihormati. Dalam budaya ini, tidak ada lagi mentalitas “mereka vs kita.”
Itulah sebabnya kenapa para pemimpin didorong untuk mengambil peran dalam mempertahankan hubungan dan kepercayaan setiap elemen di dalam organisasi. Saat ini, strategi kepemimpinan mulai beralih di seluruh dunia, yakni kepemimpinan yang lebih mencerminkan ekspektasi karyawannya, terutama selama masa pandemi.
Itulah 3 pendekatan berorientasi manusia dalam bisnis yang bisa diterapkan perusahaan. Intinya, pendekatan ini menempatkan karyawannya sendiri sebagai prioritas utama, kemudian diikuti elemen-elemen lain.
Tagged With : manajemen bisnis • Manajemen Usaha