Perusahaan Cina developer properti yang sedang terlibat hutang, Evergrande gagal melunasi kewajibannya minggu ini. Berita ini nyaris tidak begitu kentara karena kebanyakan institusi terkait masih tutup mulut. Pada minggu lalu, Fitch Ratings mengatakan bahwa Evergrande belum mengkonfirmasi pembayaran kewajiban hutangnya yang terakhir, sehingga menimbulkan kredit macet. Saham pengembangan diperdagangkan dengan harga 1% lebih rendah. Sementara itu, indeks komposit di Shanghai turun 0.2%.
Berita bahwa Evergrande gagal membayar hutang-hutangnya sudah mulai muncul ke permukaan pada musim panas lalu, ketika pemerintah Cina memperketat regulasi tentang real estate. Pengetatan regulasi ini diambil pemerintah karena para investor khawatir dapat merembes ke perekonomian China. Perusahaan ini memiliki total hutang $300 milyar, di mana $19 milyar adalah obligasi yang didominasi Dollar AS.

Mengapa Evergrande Gagal?
Hingga Senin minggu lalu, Evergrande tetap berusaha membayar bunga hutang-hutangnya agar tetap bisa beroperasi. Menurut Alicia-Herrero, seorang pakar ekonomi Natixis untuk wilayah Asia-Pasifik, mengatakan bahwa masalah Evergrande ini disebut kegagalan teknis yang sudah berlangsung lama, namun tidak ada yang menyatakannya secara jelas. Berita-berita seputar kegagalan perusahaan untuk melunasi kewajiban finansialnya telah beredar sejak beberapa bulan lalu. Meski demikian, belum ada informasi yang terkonfirmasi tentang statusnya.
Pemerintah China juga tidak memperjelasnya karena tidak ada tekanan untuk melakukan hal tersebut. Menurutnya, perusahaan agensi harus memberikan dorongan. Memang, sejumlah investor melakukannya, namun tidak ada yang mau memberi label Evergrande bankrut, karena mereka tidak ingin menanggung konsekuensinya. Setiap orang berusaha meningkatkan apa yang bisa mereka dapatkan. Tidak ada investor yang ingin kehilangan investasinya di perusahaan real estate raksasa tersebut.
Jika perusahaan dinyatakan gagal alias ‘default’ maka harga sahamnya pun akan turun. Tentunya investor tidak menginginkan hal ini. Karena tidak adanya label ‘default’, perusahaan ini tetap bisa melakukan restrukturisasi hutang-hutangnya dengan biaya yang lebih rendah. Misalnya, S&P Global Ratings tidak memberikan pernyataan apapun pada hari Jumat lalu. Menurut laporan CNBC pada hari Selasa, kegagalan sepertinya tidak bisa dielakkan oleh Evergrande. Namun, tidak ada perwakilan perusahaan yang bersedia memberikan komentar terkait hal ini.
Pernyataan ‘default’ oleh Fitch didasarkan pada asumsi perusahaan ini bahwa ada dua cicilan bunga yang tidak dibayar sebelum masa tenggang berakhir pada hari Senin lalu. Kegagalan untuk membayar cicilan bunga ini menurunkan grade Evergrande ke kategori ‘restricted dedault.’ Artinya, perusahaan developer ini sebenarnya belum menghentikan operasinya, dan apalagi memulai prosedur formal seperti pengajuan bankrut. Sejauh ini, semua pihak terkait sepertinya masih tutup mulut, sehingga belum ada kepastian yang dapat dipegang.
Tidak Ada Ungkapan Evergrande Gagal
Keheningan seputar permasalahan Evergrande ini muncul ketika pihak berwenang di China memberikan pernyataan publik pada minggu lalu bahwa sedang ada upaya untuk mengatasi permasalahan yang dialami perusahaan pengembang ini. Pada tanggal 3 Desember lalu, Evergrande yang terdaftar di Bursa Efek Hongkong memperingatkan bahwa perusahaan tersebut tidak bisa menjamin apakah mereka akan bisa melunasi tanggung jawab finansialnya dan berencana untuk terlibat aktif dengan kreditor luar negeri untuk program restrukturisasi hutang.
Menurut pihak perusahaan, secara total ada $260 juta tuntutan pembayaran dari kreditor. Masih di hari yang sama, Pemerintah Daerah di Propinsi Guangdong (di mana perusahaan pengembang ini didirikan) mengatakan bahwa pihak pemerintah daerah telah mengadakan pertemuan dengan pendiri Evergrande, Xu Jiayin. Pemerintah setempat juga mengaku telah mengirimkan sekelompok pakar ke perusahaan tersebut untuk melakukan supervisi terkait manajemen resiko.
Kepala Bank of China Yi Gang, dalam sebuah pidatonya pada hari Kamis lalu, mengatakan bahwa situasi yang dialami Evergrande adalah suatu ‘event pasar,’ yang bisa diatasi dengan prinsip-prinsip dan hukum pasar. Menurut pandangan mereka, situasi Evergrande sebenarnya merupakan hal baik, karena mau idak mau perusahaan harus melalukan restrukturisasi terhadap hutang-hutangnya.
Bagaimana Jika Evergrande Gagal?
Real estate adalah sektor yang dipantau sangat ketat, karena industri real estate beserta industri terkait lainnya berkontribusi terhadap seperempat dari perekonomian China. Hal yang lebih penting lagi bagi perekonomian China adalah kemampuan perusahaan ini untuk menyelesaikan apartemen-apartemen yang sudah terjual kepada konsumen, namun masih dalam proses pengerjaan. Harapannya, dengan bantuan Beijing, akan ada dampak jangka panjang terhadap perekonomian China. Jika tidak, justru yang terjadi adalah kejut yang tajam di sektor properti, akibat permasalahan yang dialami perusahaan properti ini.
Di sisi pasar uang, spillover (kebocoran) cenderung terbatas, karena hutang-hutang Evergrande umumnya dipegang oleh para investor kelas atas. Oleh sebab itu, restrukturisasi menjadi hal penting. Sejak bulan September, pasar uang China telah diramaikan dengan potensi kegagalan (default) perusahaan raksasa ini. Arus kas perusahaan sedang mengalami tekanan besar. Sebelumnya, dua anak perusahaan milik Evergrande Group juga gagal melunasi kewajiban finansialnya.
Tagged With : berita bisnis