Sebagian pemula mengira bahwa ketika bursa saham jatuh, harga emas ikut-ikutan turun. Padahal, realitanya belum tentu demikian. Ada masa-masa ketika harga emas bergerak searah dengan saham, tetapi ada masanya pula keduanya bergerak ke arah yang berlawanan.
Coba perhatikan grafik di bawah ini. Grafik candlestick menunjukkan pergerakan XAU/USD (harga emas spot internasional) dalam rentang waktu bulanan. Sedangkan garis oranye menunjukkan pergerakan IHSG dalam periode yang sama.

Harga emas spot internasional dalam periode 2017-2019 punya tendensi bergerak searah dengan IHSG. Tapi keduanya mulai berlawanan dalam periode berikutnya. Ketika IHSG tertekan akibat merebaknya pandemi COVID-19 pada paruh pertama tahun 2020, harga emas justru meroket.
Secara teoritis, asumsi dasar ekonomi menyebutkan bahwa kinerja saham dan harga emas sejatinya berlawanan. Mengapa demikian? Banyak investor menganggap emas sebagai pelindung kekayaan (safe haven) di tengah gejolak pasar, sehingga harga emas malah cenderung membaik ketika saham jatuh -dan harga emas cenderung melemah ketika saham melambung-.
Apabila teorinya demikian, lantas mengapa ada masa-masa ketika harga emas dan saham bergerak searah? Karena investor besar biasanya hanya benar-benar memburu emas saat kondisi krisis. Pada masa-masa fluktuasi pasar normal, mereka lebih suka mempercayakan modalnya pada aset-aset investasi yang lebih produktif seperti saham dan obligasi.
Emas tidak menghasilkan bunga maupun imbal hasil rutin seperti dividen saham, sehingga keuntungannya hanya bersumber dari pertumbuhan harga yang bersifat pasif. Latar belakang ini membuat investor cenderung mengalokasikan sedikit modalnya ke dalam emas. Bahkan kebanyakan pakar menyarankan agar membatasi investasi emas dalam kisaran 10-15% portofolio saja, sedangkan sebagian besar modal disalurkan ke aset-aset lain.
Situasi unik ini menjadikan bursa saham dan pasar emas belum tentu saling memengaruhi, jika tak terjadi krisis ekonomi. Keduanya juga memiliki faktor penggerak masing-masing. Bursa saham sangat terpengaruh oleh kondisi makro, pertumbuhan ekonomi, serta kebijakan pemerintah. Sedangkan harga emas serupa dengan komoditas lainnya, yakni pergerakannya lebih terpengaruh oleh perkembangan permintaan (supply) dan penawaran (demand) atas logam mulia di pasar.
Tagged With : emas • logam mulia • saham