3 Asas Penting Dalam Mengelola Modal Investasi Saham

Investor pemula sering menganggap bahwa investasi saham itu cukup setor modal, beli saham, lalu jual lagi untuk mendapatkan keuntungan. Padahal, praktek sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Dalam prosesnya, kita akan menghadapi fluktuasi harga saham, aksi goreng-menggoreng oleh bandar, ancaman delisting emiten, dan lain sebagainya.

Sebutlah misalnya Anda telah susah payah menyisihkan dana sebesar Rp100,000 setiap minggu untuk membeli saham favorit. Setelah terhimpun modal memadai, Anda kemudian membeli saham favorit sebanyak 200 lot pada harga Rp450 per lembar saham. Harapannya, harga akan naik menjadi Rp850 dalam tempo setahun, sehingga Anda bisa panen dividen sekaligus capital gain.

Tips Untung Dalam Saham Dengan Modal 100 Ribu Rupiah

Realitanya, Anda mengalami kecelakaan sebelum waktu satu tahun berlalu. Untuk membiayai opname rumah sakit, Anda perlu menjual saham lebih cepat. Padahal, harga saham saat itu sedang turun menjadi Rp350. Jelas sekali Anda terpaksa jual rugi. Meskipun harga saham tersebut benar-benar naik mencapa Rp850 tahun depan, Anda takkan bisa ikut menikmati cuan.

Untuk menanggulangi masalah-masalah seperti itu, maka kita perlu mengikuti sejumlah asas penting dalam mengelola modal investasi saham:

1. Hanya Gunakan Uang Dingin Sebagai Modal

Istilah “Uang Dingin” artinya dana yang tidak akan dimanfaatkan dalam waktu dekat dan bisa dikorbankan dalam kondisi rugi. Uang Dingin juga bukan dana darurat yang sewaktu-waktu perlu ditarik untuk memenuhi kebutuhan tak terduga.

Modal investasi saham haruslah uang dingin yang takkan dibutuhkan segera dan memang disiapkan untuk rencana jangka panjang Anda. Jadi, jangan investasikan uang belanja bulanan, dana cicilan KPR bulan depan, biaya SPP anak yang harus dibayar enam bulan mendatang, ataupun dana cadangan untuk kepentingan darurat keluarga. Lebih baik, investasikan pendapatan tak terduga seperti bonus mendadak dari kantor atau THR.

2. Jangan Menanamkan Modal Dalam Satu Saham Saja

Saat berinvestasi dalam satu saham, maka Anda menghadapi risiko rugi lebih besar ketimbang jika berinvestasi dalam beberapa saham sekaligus. Umpama saham favorit satu-satunya sedang minus dan Anda butuh uang mendadak, maka Anda terpaksa jual rugi. Namun, jika sudah berinvestasi dalam beberapa saham, maka hasilnya bisa jadi ada yang positif dan negatif. Seandainya kelak terpaksa jual mendadak, Anda bisa pilih saham mana yang sudah profit.

3. Jangan Pertaruhkan Kehidupan Anda Dalam Investasi Saham

Ada investor pemula yang langsung berniat untuk mengundurkan diri dari pekerjaan dan menyetorkan semua tabungan sebagai modal investasi saham. Ia mengira investasi saham bisa dijadikan pengganti pekerjaan kantoran biasa, dengan prospek pendapatan lebih besar. Padahal, ia keliru.

Investasi itu sejatinya merupakan aktivitas untuk menyiapkan dana ekstra bagi masa depan, bukan sumber penghidupan utama. Memang ada beberapa orang yang bisa menjadikan investasi sebagai pekerjaan, tetapi hal itu membawa konsekuensi beban mental besar. Orang yang memperlakukan investasi sebagai sumber pendapatan tambahan akan cenderung tetap tenang saat menyaksikan harga saham tumbang, tetapi orang yang menjadikannya profesi utama pasti akan panik kalau portofolio-nya memerah.

Faktanya, para investor kawakan memiliki aktivitas lain di samping investasi. Bisa jadi menulis buku, menjadi pembicara seminar, atau bahkan mengelola perusahaan sendiri. Mereka boleh jadi berdalih ingin memberikan sumbangsih bagi masyarakat, tetapi sesungguhnya mereka juga membutuhkan ketenangan batin dari eksistensi sumber pendapatan lain bagi penghidupan mereka.

Oleh karena itu, sebaiknya jangan mempertaruhkan semua tabungan Anda sebagai modal investasi dengan tujuan menjadikannya sebagai profesi utama. Lanjutkan saja pekerjaan harian Anda seperti biasa dan perlakukan profit investasi saham sebagai uang saku ekstra.

Tagged With :

Leave a Comment