Pada Kamis (21/8), bursa saham Amerika Serikat, atau yang biasa disebut Wall Street, mengalami penurunan. Ada dua alasan utama di balik pelemahan ini:
- Kekhawatiran Pidato Ketua The Fed: Investor khawatir pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell di simposium ekonomi Jackson Hole pada hari Jumat (22/8) akan bernada “hawkish” atau cenderung agresif. Artinya, pidato tersebut berpotensi mengindikasikan bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga. Kekhawatiran ini muncul meskipun data pasar tenaga kerja terbaru menunjukkan adanya sedikit pelemahan.
- Laporan Keuangan Walmart yang Mengecewakan: Kinerja kuartalan dari raksasa ritel Walmart yang tidak sesuai harapan juga menekan sentimen pasar. Meskipun perusahaan menaikkan proyeksi penjualan dan laba tahunan, mereka gagal memenuhi ekspektasi laba kuartalan dan memperingatkan adanya kenaikan biaya akibat tarif. Saham Walmart anjlok sebesar 4,5% dan menjadi salah satu faktor utama yang menyeret sektor ritel dan pasar secara keseluruhan.
Dampak dan Reaksi Pasar
Penurunan ini tercermin pada tiga indeks utama Wall Street:
- Dow Jones Industrial Average (.DJI): Turun 0,34%
- S&P 500 (.SPX): Turun 0,40%
- Nasdaq Composite (.IXIC): Turun 0,34%
Pasar sangat sensitif terhadap pernyataan The Fed karena suku bunga memiliki pengaruh besar terhadap biaya pinjaman, investasi, dan profitabilitas perusahaan. Spekulasi mengenai kebijakan suku bunga menyebabkan investor melakukan aksi “ambil untung”, yaitu menjual saham untuk mengamankan keuntungan sebelum potensi gejolak pasar.
Menurut data LSEG, peluang The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada September turun tajam menjadi 79% dari 99,9% pada minggu sebelumnya. Ini menunjukkan adanya keraguan di kalangan investor mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Selain faktor-faktor di atas, berikut adalah poin-poin penting lainnya dari situasi pasar saat itu:
- Volume Perdagangan: Volume perdagangan pada hari Kamis (21/8) tercatat tipis, jauh di bawah rata-rata harian. Volume yang rendah ini bisa memperbesar volatilitas atau gejolak pasar setelah pidato Powell.
- Kondisi Ekonomi Campuran: Ada laporan yang menunjukkan bahwa aktivitas bisnis meningkat, namun pada saat yang sama, ada juga kekhawatiran mengenai pasar tenaga kerja dan biaya yang lebih tinggi akibat tarif. Situasi ekonomi yang tidak seragam ini membuat keputusan The Fed semakin sulit.
- Kinerja Sektor: Sembilan dari sebelas sektor di indeks S&P 500 melemah. Sektor consumer staples (barang konsumsi pokok), yang di dalamnya terdapat Walmart, menjadi sektor yang paling terpukul.
- Saham Teknologi: Penjualan saham teknologi yang sempat terjadi di awal minggu mulai mereda, namun saham-saham besar seperti Nvidia, Meta, Amazon.com, dan Advanced Micro Devices masih bergerak melemah karena kekhawatiran tentang valuasi yang terlalu tinggi dan intervensi pemerintah.
- Saham Lain: Saham perusahaan kosmetik Coty juga anjlok 21,4% setelah memproyeksikan penurunan penjualan.
Secara keseluruhan, pasar pada hari itu berada dalam mode “risk-off”, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi sambil menunggu kejelasan dari pidato Ketua The Fed yang akan datang.