-
Wall Street ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (13/11) akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi serta pandangan yang tidak seragam di antara pejabat Federal Reserve terkait kesehatan ekonomi AS.
Penurunan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam lebih dari sebulan. -
Tiga indeks utama kompak merosot:
-
S&P 500 turun 1,66% ke 6.737,49.
-
Nasdaq anjlok 2,29% ke 22.870,36, menjadi yang paling parah karena tertekan saham teknologi.
-
Dow Jones merosot 1,65% ke 47.457,22.
-
-
Aksi jual dipicu anjloknya saham raksasa teknologi dan AI, terutama Nvidia, yang merosot 3,6%. Saham-saham AI lainnya turut tertekan, menandakan sikap investor yang lebih berhati-hati terhadap valuasi tinggi sektor ini.
-
Ekspektasi pemangkasan suku bunga semakin menipis seiring komentar pejabat Federal Reserve yang menyoroti:
-
Kekhawatiran inflasi yang mungkin tidak bersifat sementara.
-
Stabilitas pasar tenaga kerja setelah dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.
-
Peluang pemangkasan suku bunga Desember kini hanya 50:50, menunjukkan ketidakpastian tinggi.
-
-
Sikap berhati-hati The Fed ditegaskan oleh tokoh pasar seperti Jake Dollarhide, yang menyebut bahwa baik melakukan pemangkasan maupun tidak, keduanya merupakan keputusan dengan tingkat risiko tinggi bagi bank sentral.
-
Tekanan besar pada saham-saham teknologi:
-
Tesla turun 6,6%.
-
Broadcom turun 4,3%.
-
Koreksi ini menggambarkan adanya rotasi sektor dari saham pertumbuhan (growth stocks) ke saham nilai (value stocks).
-
-
Disney menjadi salah satu saham yang mengalami penurunan paling tajam, jatuh 7,8%, dipicu indikasi konflik dengan YouTube TV terkait distribusi kanal kabelnya.
-
Sebaliknya, Cisco Systems mencatat kenaikan 4,6%, didorong peningkatan proyeksi laba dan permintaan kuat terhadap perangkat jaringan.
-
Dari 11 sektor utama S&P 500, 9 sektor melemah. Sektor yang paling terpukul:
-
Konsumen diskresioner turun 2,73%.
-
Teknologi informasi turun 2,37%.
-
-
Meskipun pasar melemah tajam pada Kamis, Dow Jones sempat mencetak rekor tertinggi pada Selasa dan Rabu. Lonjakan tersebut dipicu rotasi investor dari saham teknologi ke sektor kesehatan, yang dianggap lebih defensif di tengah ketidakpastian.
-
Situasi pasar juga diperburuk oleh berakhirnya penutupan pemerintahan AS selama 43 hari, yang sebelumnya menghambat publikasi data ekonomi penting dan menambah ketidakpastian investor.