Indeks utama Wall Street kembali anjlok pada penutupan perdagangan di awal pekan ini. Langkah Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan hingga nol persen dinilai memicu kekhawatiran meningkatnya kerusakan ekonomi akibat meluasnya virus corona.
Dilansir Reuters, Selasa (17/3), Dow Jones Industrial Average turun 2.120,11 poin atau 9,14 persen menjadi 21.065,51, indeks S&P 500 kehilangan 233,51 poin atau 8,61 persen menjadi 2.477,51 dan Nasdaq Composite turun 710,35 poin atau 9,02 persen menjadi 7.164,52.
The Fed memangkas suku bunga acuan secara darurat menjadi 0-0,25 persen, lebih cepat dibandingkan jadwal pertemuan dewan gubernur pada 17-18 Maret mendatang. Bank Sentral AS itu pun berencana melakukan stimulus quantitative easing senilai USD 700 miliar.
Investor khawatir tentang efektivitas kebijakan The Fed itu bisa mengurangi kerusakan ekonomi dari penyebaran covid-19.
“Ini adalah jenis krisis yang berbeda. Suku bunga yang lebih rendah tidak akan menciptakan permintaan ketika orang-orang di rumah,” kata Solita Marcelli, wakil kepala investasi untuk Amerika di UBS Global Wealth Management.
“Tapi ini tidak berarti apa yang dilakukan Fed itu sia-sia. Suku bunga yang lebih rendah adalah prasyarat untuk kebijakan lain. Jadi saya pikir ini harus dilakukan, tetapi bisa dimengerti bagaimana pasar bereaksi,” lanjutnya.
Wall Street merosot 11,4 persen di awal sesi atau kehilangan USD 2 triliun. Bahkan ukuran ketakutan investor Wall Street melonjak 21,15 poin menjadi 78,98.
Perdagangan di tiga indeks utama itu sempat dihentikan selama 15 menit tak lama setelah pembukaan, karena indeks S&P 500 anjlok lebih dari 8 persen, melewati ambang batas 7 persen.
Saham keuangan yang sensitif terhadap suku bunga, jatuh lebih dari 11 persen, memimpin penurunan di antara sektor-sektor S&P lainnya. Sektor ini juga berada di bawah tekanan setelah bank-bank besar AS menghentikan pembelian kembali saham mereka.
Saham energi juga turun tajam bersamaan dengan turunnya harga minyak.
Indeks teknologi S&P pun turun lebih dari 9 persen. Apple Inc (AAPL.O), Microsoft Corp (MSFT.O), dan Facebook Inc (FB.O) termasuk di antara penurunan saham terbesar di S&P 500.
Pasar saham dinilai harus tetap terbuka, meskipun di luar banyak spekulasi bahwa pemerintah mungkin akan menutup bursa efek AS untuk menghentikan jatuhnya harga saham.
Nike Inc (NKE.N), Lululemon Athletica Inc (LULU.O) dan Under Armour Inc (UAA.N) mengatakan bahwa mereka akan menutup toko di AS dan beberapa toko lainnya, menyeret indeks ritel S&P 500 turun tajam.
Indeks maskapai pun merosot setelah United Airlines Holdings Inc (UAL.O) membukukan pendapatan yang jauh lebih rendah dari sebelumnya, yakni USD 1,5 miliar pada Maret 2020.