Wall Street Ditutup Naik Tajam Menjelang Laporan Inflasi

Pada perdagangan Rabu (11/1/2023), indeks saham utama Wall Street berakhir naik tajam. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing berkontribusi pada kenaikan ini sebesar lebih dari 1 persen.

Investor optimistis menjelang laporan inflasi, yang dapat memberikan ruang bagi The Fed menahan kenaikan suku bunga yang selama ini dilakukan secara agresif.

Mengutip dari Reuters, Kamis (12/1), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 268,91 poin atau 0,8 persen menjadi 33.973,01, S&P 500 (.SPX) naik 50,36 poin atau 1,28 persen menjadi 3.969,61 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 189,04 poin atau 1,76 persen menjadi 10.931,67.

Indeks harga konsumen di AS tumbuh 6,5 persen dari tahun ke tahun. Angka tersebut moderat dari kenaikan 7,1 persen di bulan November.

Sementara itu, di antara sektor-sektor, real estate (.SPLRCR) dan consumer discretionary (.SPLRCD) adalah yang terkuat. Sedangkan Microsoft (MSFT.O), Amazon.com (AMZN.O) dan nama-nama pertumbuhan mega-cap lainnya memberi S&P 500 dorongan terbesar.

Sejauh ini, indeks utama mengalami kenaikan di tahun 2023 setelah turun tajam tahun lalu. Harapan bahwa The Fed dapat segera melonggarkan kenaikan suku bunga, telah mendorong pasar dalam beberapa sesi terakhir.

Tidak hanya itu, ketika komentar dari beberapa pejabat The Fed ikut mendukung pandangan bahwa bank sentral perlu tetap waspada. Hal ini dilakukan dengan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi.

“Investor mengantisipasi bahwa kita lebih dekat ke jeda daripada titik lain tahun lalu,” kata Jake Dollarhide, chief executive officer Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma. Ia mengatakan hal itu akan disambut baik oleh pasar.

Chief Executive Officer Longbow Asset Management, Jake Dollarhide mengungkapkan bahwa investor mengantisipasi lebih dekat untuk berhenti sementara ketimbang mencari titik lain dari tahun lalu. Ia menilai hal tersebut akan disambut baik oleh pasar.

“Setiap kali Anda mengalami penurunan tahun, tidak heran berkali-kali terjadi pembalikan pada awal tahun baru,” kata Dollarhide di Tulsa Oklahoma.

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabung (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Kamis (12/1). Kemarin, indeks saham ditutup melemah 38,046 poin (0,57 persen) ke 6.584,453.

Analis Sinarmas Sekuritas, Mayang Anggita, memperkirakan indeks saham gabungan menguji di level support 6.505 – 6.480 dan resistance di kisaran 6.750 – 6.783

“Tugas utama IHSG harus mampu menembus Resistance terdekat, yaitu Lower Channel merah di sekitar 6640 sebelum lanjut naik menuju Resistance MA10 dan MA20 di range 6750-6783,” kata Mayang, Kamis (12/1).

Mayang menyebut beberapa saham bluechip sudah dalam keadaan ter-discount. Jadi, para investor bisa manfaatkan momentum ini untuk Buy on Weakness.

Stay conservative. IHSG diprediksi masih cenderung volatile, bergerak konsolidasi di sekitar area Support ini,” ujarnya.

Mayang mengingatkan investor untuk memperhatikan indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) dan BI 7 Day Repo Rate (BI7DRR) untuk fluktuasi IHSG.

Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya, mengatakan perkembangan pergerakan IHSG hingga saat ini masih terlihat belum beranjak dari rentang konsolidasi wajarnya,

“Masih tercatatnya capital outflow secara ytd membuat IHSG cenderung bergerak melemah. Namun peluang koreksi dapat terus dimanfaatkan investor dengan target investasi jangka menengah – panjang, tentunya dengan pemilihan saham yang tepat dengan fundamental yang kuat,” katanya.

William merekomendasikan saham AKRA, CBP, BBCA, AALI, SMGR, TLKM, JSMR, ASRI.

 

 

Leave a Comment