Pergerakan pasar saham Amerika Serikat (Wall Street) pada Kamis, 22 Mei, menunjukkan volatilitas dan penutupan bervariasi. Berikut adalah rincian penjelasannya:
Pergerakan Indeks Utama
- Dow Jones Industrial Average (.DJI): Turun tipis 1,35 poin menjadi 41.859,09.
- S&P 500 (.SPX): Melemah 2,60 poin atau 0,04 persen menjadi 5.842,01.
- Nasdaq Composite (.IXIC): Menguat 53,09 poin atau 0,28 persen ke level 18.925,74.
Secara keseluruhan, S&P 500 dan Dow Jones ditutup datar, sementara Nasdaq mencatatkan kenaikan tipis. Ini terjadi setelah ketiga indeks utama Wall Street sebelumnya mengalami penurunan harian terbesar dalam sebulan pada hari Rabu, 21 Mei.
Faktor Pendorong Pergerakan Pasar
Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi fluktuasi pasar pada hari tersebut:
- Penurunan Imbal Hasil Obligasi (Treasury) Pemerintah AS: Imbal hasil obligasi tenor panjang, khususnya obligasi acuan pemerintah AS bertenor 10 tahun, turun 5,4 basis poin menjadi 4,543 persen. Sebelumnya, imbal hasil ini sempat menyentuh level tertinggi sejak Februari, yang memicu kekhawatiran atas utang AS dan menekan pasar saham pada hari sebelumnya. Penurunan imbal hasil ini memberikan “ruang bernapas” bagi saham.
- Pengesahan RUU Pajak dan Anggaran oleh DPR AS: Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS yang dikuasai Partai Republik meloloskan RUU pajak dan belanja yang diajukan oleh Presiden Donald Trump dengan margin suara tipis. RUU ini, meskipun memenuhi janji kampanye Trump, diperkirakan akan menambah beban utang AS sebesar USD 3,8 triliun dalam 10 tahun ke depan. Meskipun ada kekhawatiran tentang utang, pengesahan ini tampaknya memberikan semacam kepastian bagi pasar, setidaknya untuk saat itu.
- Kekhawatiran Utang dan Defisit Anggaran AS: Meskipun ada pengesahan RUU, kekhawatiran terkait defisit anggaran AS tetap menjadi pendorong kenaikan imbal hasil obligasi sebelumnya dan masih menjadi perhatian investor.
- Dampak Tarif Impor Trump: Investor juga tengah mempertimbangkan dampak dari tarif impor yang diberlakukan Trump, termasuk potensi kenaikan harga barang konsumsi. Ketidakpastian dari kebijakan tarif dan pasar obligasi global disebut sebagai dua masalah utama yang dibenci pasar.
Kinerja Sektor dan Saham Individual
- Sektor yang Melemah: Delapan dari 11 sektor di indeks S&P 500 ditutup melemah. Sektor-sektor yang memimpin pelemahan adalah utilitas, kesehatan, energi, dan barang konsumsi primer.
- Sektor yang Menguat: Sektor yang mencatatkan kenaikan adalah barang konsumsi non-primer, layanan komunikasi, dan teknologi.
- Saham-Saham Penting:
- Saham pertumbuhan besar (megacap growth stocks) seperti Amazon dan Tesla menguat.
- Alphabet naik 1,3 persen setelah menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga bulan.
- Apple ditutup turun 0,36 persen.
- Snowflake melonjak lebih dari 13 persen setelah menaikkan proyeksi pendapatan produk.
- Analog Devices turun 4,6 persen meskipun hasil kuartalannya melampaui ekspektasi.
- First Solar (perusahaan energi surya) melemah 4,3 persen karena RUU pajak Trump diperkirakan akan menghapus sejumlah subsidi energi hijau.
Data Teknis dan Volume Perdagangan
- Rasio Saham Turun vs. Naik di NYSE: Jumlah saham yang turun di NYSE melebihi yang naik dengan rasio 1,17:1.
- Level Tertinggi/Terendah Baru:
- NYSE: 68 saham mencetak level tertinggi baru dan 99 mencetak level terendah baru.
- S&P 500: Mencetak empat rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan sembilan rekor terendah baru.
- Nasdaq Composite: Mencatatkan 49 tertinggi baru dan 109 terendah baru.
- Volume Transaksi: Mencapai 16,09 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata harian 17,56 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.
Secara keseluruhan, pasar Wall Street pada 22 Mei menunjukkan bagaimana interaksi antara kebijakan pemerintah (RUU pajak), pergerakan imbal hasil obligasi, dan kekhawatiran ekonomi makro (utang dan tarif) menciptakan lingkungan perdagangan yang kompleks dan fluktuatif bagi investor.