Setelah Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) masih mencatatkan inflasi yang tinggi, 6,4 persen secara tahunan (year on year/yoy), Wall Street ditutup variatif pada perdagangan Selasa (14/2/2023) waktu setempat.
Berdasarkan data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja, secara bulanan, inflasi di Januari 2023 naik 0,5 persen. Angka ini di atas konsensus pasar yakni 0,4 persen (secara bulanan) dan 6,2 persen (yoy).
Mengutip Reuters, Rabu (15/2), S&P 500 turun 0,03 persen menjadi 4.136,17 dan Dow Jones Industrial Average turun 0,46 persen menjadi 34.089,4 poin. Sedangkan Nasdaq menguat 0,57 persen pada 11.960,15 poin. Sejauh ini, S&P 500 naik sekitar 7 persen di tahun 2023.
Indeks harga konsumen AS yang terus meningkat karena orang Amerika dibebani oleh biaya sewa rumah yang lebih tinggi. Ini bakal bikin Bank Sentral AS, Federal Reserve (Fed) berpeluang menaikkan lagi suku bunga acuan demi melawan inflasi.
“Inflasi tetap tinggi meski tampaknya melambat. Melihat indeks harga hari ini, saya pikir ada sedikit aksi ambil untung karena kinerja yang kuat tahun ke tahun,” ujar Kepala Strategi Ekuitas di US Bank Wealth Management Minneapolis Terry Sandven.
Pelaku pasar memperkirakan, setidaknya suku bunga naik 25 basis poin lagi dua kali tahun ini. Suku bunga diprediksi mencapai titik puncak 5,28 persen pada Juli mendatang.
Kekhawatiran investor bertambah usai pernyataan hawkish Kepala Fed Richmond Thomas Barkin dan Dallas Lorie Logan. Barkin mengatakan Fed perlu memprioritaskan menahan inflasi daripada risiko pertumbuhan ekonomi AS.
Data Wall Street membuat optimisme pada awal tahun ini, ditopang saham-saham tumbuh yang sempat tertekan di tahun lalu karena Fed menaikkan suku bunga secara agresif untuk mengendalikan harga.
Reli sempat terhenti minggu lalu, menyusul pasar tenaga kerja yang ketat dan komentar hawkish dari pembuat kebijakan Fed. Investor mencermati data penjualan ritel Januari hari Rabu sebagai pertimbangan belanja di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi.
MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat pada perdagangan Rabu (15/2). Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (14/2), IHSG berakhir di zona hijau atau menguat 0,60 persen di level 6941.855.
Analisis Bina Artha Sekuritas, Ivan Rosanova, memprediksi IHSG akan menguji zona resisten di level 6.962-6.968 karena ditutup tipis di atas 6.938 sebagai resisten terdekat dan mengisyaratkan kelanjutan tren naik jangka pendek.
“Kenaikan di atas 6968 mestinya menjadi permulaan dari wave c. Level support IHSG berada di 6872, 6807 dan 6760, sementara level resistennya di 6968, 7000 dan 7064. Berdasarkan indikator MACD menandakan momentum bullish,” tutur Ivan dalam risetnya.
Saham yang direkomendasikan Ivan adalah ADRO. Menurutnya, ADRO bergerak di bawah garis SMA-10 dan masih berpeluang untuk menguji zona support 2.650-2.680 sebagai target wave ( c )dari 4 menurut analisis Fibonacci Projection.
“Berdasarkan indikator MACD dalam kondisi netral. Hold atau akumulatif beli pada rentang harga 2650-2700 dengan target harga terdekat di 3000,” ungkap Ivan.
Selain itu, Ivan juga merekomendasikan untuk Hold saham ASII. Sebab, ASII akan meneruskan tren turun menuju 5.325 jika menembus ke bawah 5525.
Dalam prediksinya, Ivan juga mengatakan ASII melayang di bawah garis SMA-10 dan tetap berada pada koreksi jangka pendek dengan potensi penurunan di 5525 sebagai target ideal wave (b).
“Berdasarkan indikator MACD menandakan momentum bearish. Hold atau Accumulative Buy pada rentang harga 5450-5550 dengan target harga terdekat di 5900,” ungkapnya.