Pada tanggal 5 Agustus, pasar saham utama Amerika Serikat atau Wall Street ditutup di zona merah. Kondisi ini berlawanan dengan pasar saham Eropa dan Asia yang justru mencatatkan kenaikan. Penurunan di AS disebabkan oleh beberapa faktor utama, yaitu:
- Data Ekonomi AS yang Lebih Lemah: Data aktivitas sektor jasa AS pada Juli hampir tidak mengalami pertumbuhan atau stagnan. Permintaan baru menurun, lapangan kerja berkurang, dan biaya input meningkat tajam, mencapai tingkat tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir. Data ekonomi yang lemah ini memicu kekhawatiran akan perlambatan ekonomi di AS.
- Ketidakpastian Kebijakan Tarif: Data ekonomi yang lemah ini juga menambah ketidakpastian mengenai dampak dari kebijakan tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Trump terhadap pelaku usaha.
- Hasil Penutupan Indeks:
- Dow Jones turun 0,15%.
- S&P 500 melemah 0,3%.
- Nasdaq terkoreksi 0,43%.
Kondisi Pasar Lainnya
Selain pasar saham, ada beberapa pergerakan penting di instrumen keuangan lainnya:
- Obligasi AS: Imbal hasil obligasi AS sempat tertekan, namun kembali pulih. Imbal hasil obligasi bertenor 2 tahun naik 3,9 basis poin menjadi 3,72%.
- Dolar AS: Dolar AS terpantau menguat tipis.
- Emas: Harga emas berbalik menguat.
- Minyak: Harga minyak turun untuk hari keempat berturut-turut, akibat kekhawatiran permintaan global dan lonjakan pasokan dari OPEC+.
- Data Ekonomi Asia: Berbeda dengan AS, data dari Jepang dan Tiongkok menunjukkan sektor jasa mereka tetap kuat. Indeks manajer pembelian (PMI) layanan di Jepang mencapai level tertinggi sejak Februari, sementara di Tiongkok, aktivitas sektor jasa tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari setahun.
Sentimen Investor: Antara Berita Buruk dan Peluang Pemangkasan Suku Bunga
Meskipun data ekonomi AS yang lemah menimbulkan kekhawatiran, di sisi lain, data tersebut juga meningkatkan optimisme investor mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
- Menurut CME Fedwatch, peluang The Fed untuk memangkas suku bunga pada bulan September naik tajam menjadi 94% dari sebelumnya 63% di akhir Juli.
- Investor kini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali hingga akhir tahun.
- Pernyataan dari strategis Jefferies, Mohit Kumar, merangkum dilema ini: “Pertanyaannya adalah apakah berita buruk (perlambatan ekonomi) itu berita buruk atau kabar baik (The Fed bergerak menuju penurunan suku bunga).”
Selain itu, ada juga kekhawatiran mengenai politisasi kebijakan suku bunga setelah muncul kabar bahwa Presiden Trump berencana menunjuk seseorang untuk posisi gubernur The Fed dalam waktu dekat. Investor juga masih menantikan laporan keuangan kuartal II dari beberapa perusahaan besar seperti Walt Disney dan Caterpillar.