Ketiga indeks utama Wall Street anjlok pada penutupan perdagangan di penghujung pekan lalu. Angka pengangguran di AS yang melampaui level krisis menjadi perhatian investor ketimbang stimulus fiskal lanjutan.
Dilansir Reuters, Senin (10/8), Dow Jones Industrial Average turun 75,26 poin atau 0,27 persen menjadi 27.311,72, indeks S&P 500 kehilangan 12,31 poin atau 0,37 persen menjadi 3.336,85, dan Nasdaq Composite turun 139,64 poin, atau 1,26 persen menjadi 10.968,43.
Saham perusahaan teknologi, yang sebelumnya mampu memacu reli Wall Street sejak Maret, kali ini justru membukukan penurunan terbesar dan menyebabkan Nasdaq turun lebih dari 1 persen.
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan, jumlah pekerja di AS, tak termasuk di sektor pertanian, meningkat 1,7 juta pekerja di Juli 2020. Angka ini melambat jika dibandingkan kenaikan pada bulan sebelumnya sebanyak 4,8 juta pekerja.
Sementara tingkat pengangguran juga naik menjadi 10,2 persen di Juli. Tingkat pengangguran ini di atas level puncak krisis keuangan global 10,0 persen. Angka pengangguran tersebut juga naik hampir tiga kali lipatnya dibandingkan sebelum pandemi di Februari sebesar 3,5 persen.
AS merupakan salah satu negara yang telah masuk ke jurang resesi di tahun ini akibat pandemi COVID-19. Ekonomi AS terkontraksi atau minus 32,9 persen (yoy) secara tahunan pada kuartal II 2020. Ini merupakan penurunan terburuk sepanjang sejarah. Sebelumnya di kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi AS juga telah minus 5 persen (yoy).
Meski demikian, belum ada keputusan mengenai stimulus tambahan bagi para pengangguran maupun korban PHK di AS. Padahal, stimulus sebesar USD 600 per minggu tersebut telah berakhir pada 31 Juli.
Presiden Trump ingin stimulus lanjutan tersebut sebesar USD 300 per minggu, ditambah USD 100 per minggu dari pemerintah negara bagian AS.
Namun, Demokrat berpendapat tunjangan pengangguran seharusnya masih USD 600 per minggu, karena banyak perusahaan yang masih merugi. Sementara Partai Republik menilai, USD 600 per minggu terlalu ‘murah hati’ yang nantinya justru menjadi disinsentif karena para pengangguran menjadi malas mencari kerja.
Di sisi lain, 82 persen perusahaan di S&P 500 telah melaporkan kinerjanya di kuartal II. Hasilnya, rata-rata pendapatan perusahaan mencapai 22,5 persen, di atas ekspektasi para analis.
T-Mobile US Inc melonjak 5,8 persen karena penambahan pelanggan telepon bulanan lebih dari perkiraan dan mengatakan telah melampaui saingannya, AT&T Inc, sebagai penyedia nirkabel terbesar kedua di AS. Saham T-Mobile mencatatkan kenaikan terbesar pada indeks layanan komunikasi S&P.
Sementara itu, Uber turun 5,92 persen, karena permintaan perjalanan yang masih sedikit, padahal permintaan pengantar makanan naik dua kali lipatnya.
Trump pada Kamis malam lalu mengumumkan larangan transaksi AS dengan aplikasi pesan singkat asal China, WeChat, dan aplikasi berbagi video TikTok.
Sebagai tanggapan, China mengatakan perusahaan tersebut mematuhi hukum AS dan memperingatkan Washington harus “menanggung konsekuensi” dari tindakannya.
Tencent Music Entertainment Group yang terdaftar di New York, yang dipisahkan dari pemilik WeChat Tencent Holdings Ltd pada 2018, turun 4,38 persen. Sementara Facebook Inc melonjak 1,80 persen.
Microsoft Corp, yang berusaha untuk membeli izin operasional TikTok di AS, turun 2,14 persen. Saham China yang terdaftar di AS seperti Baidu Inc, Alibaba Group Holding dan JD.com Inc juga turun hingga 2,85 persen.