Usai Bos The Fed Sebut Inflasi Mereda, Wall Street Menguat

Setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyebut inflasi mulai mereda, pada perdagangan Rabu (2/2/2023),  Indeks utama Wall Street menguat. The Fed juga menaikkan target suku bunga sebesar 25 basis poin.

Dikutip dari Reuters (2/2), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 6,92 poin atau 0,02 persen menjadi 34.092,96. Sementara S&P 500 (.SPX) naik 42,61 poin atau 1,05 persen menjadi 4.119,21. Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 231,77 poin atau 2 persen menjadi 11.816,32.

S&P mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 25 Agustus 2022. Sementara Nasdaq membukukan penutupan tertinggi sejak September 2022.

The Fed mengatakan ekonomi Amerika Serikat (AS) menikmati pertumbuhan moderat lantaran pembuat kebijakan masih sangat memperhatikan risiko inflasi, karena berusaha untuk memperketat kondisi keuangan dan mengendalikan harga tinggi. Pasar telah memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga oleh Fed pada paruh tahun lalu.

Di Wall Street, saham AS berombak setelah pengumuman Fed tetapi reli dimulai setelah Jerome Powell menyebut inflasi mulai mereda dan proses disinflasi berada pada tahap awal.

“Reaksi pasar menyiratkan investor merasa kita jauh lebih dekat ke akhir inflasi ketimbang indikasi bahwa The Fed masih pada tahap tengah siklus pengetatan suku bunga,” kata kepala strategi investasi Sam Stovall di CFRA di New York.

Sebelum pengumuman kebijakan, data ekonomi memberikan gambaran beragam, dengan pasar ketenagakerjaan tetap kuat. Sementara aktivitas manufaktur terus melemah, menunjukkan kontraksi selama tiga bulan berturut-turut.

Investor telah melihat pasar tenaga kerja yang lebih lemah sebagai komponen kunci untuk menurunkan inflasi yang sangat tinggi.

Dolar AS terindikasi melemah 0,901 persen, melanjutkan lintasan pelemahannya dari empat bulan sebelumnya. Setelah komentar Powell, dolar AS melemah dan mencapai level terendah sejak akhir April.

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Kamis (2/2). Penurunan indeks saham ini terjadi setelah dirilisnya angka inflasi Januari 2023.

Analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, pada perdagangan hari ini Stochastic RSI cenderung melanjutkan penurunannya dari overbought area.

“IHSG diperkirakan terkonsolidasi di atas MA50 di 6.830. Sentimen eksternal yang dimaksud adalah ekspektasi perlambatan kenaikan The Fed Rate menjadi 25 bps di FOMC 2 Februari 2023,” kata Alrich dalam prediksinya, Kamis (2/2).

Alrich juga mengatakan ekspektasi bahwa ECB masih akan menaikkan suku bunga acuan secara agresif, mengingat inflasi di Euro Area masih bertahan di 9 persen yoy.

Inflasi di Indonesia melambat lebih dalam dari perkiraan ke 5,28 persen year on year (yoy) di Januari 2023 yang sebelumnya 5,51 persen yoy di Desember 2022. Nilai tukar rupiah tetap bertahan di bawah Rp 15.000 per USD hingga Rabu (1/2) sore,” ujar Alrich.

Alrich merekomendasikan pada saham-saham defisit, seperti MAPI, AKRA, ICBP, CPIN dan potensi buy on support di PGAS, INKP, INDF dan UNVR.

“Pelaku pasar juga dapat memperhatikan peluang bullish continuation pada ANTM dan MDKA,” ungkap Alrich.

Sementara itu Analisis Yugen Morning Bright William Surya mengatakan, usai rilis data perekonomian tingkat inflasi yang menunjukkan adanya deflasi, memberikan sentimen positif bagi pergerakan IHSG.

“Namun masih tercatatnya capital outflow secara ytd masih harus diwaspadai, sedangkan mulai rilisnya kinerja emiten full year 2022 turut memberikan sentimen pada pergerakan IHSG,” kata William.

William mengungkapkan beberapa waktu mendatang IHSG masih akan cenderung bergerak dalam rentang sideways dengan potensi kenaikan terbatas. Adapun beberapa saham yang direkomendasikan Ivan yaitu BBRI, JSMR, AKRA, ICBP, TBIG, HMSP, dan ASRI.

 

Leave a Comment