Indeks utama Wall Street kembali anjlok pada penutupan perdagangan Selasa (3/3). Keputusan Bank Sentral AS atau The Fed untuk menurunkan suku bunga acuan menambah kekhawatiran tentang besarnya dampak virus corona bagi perekonomian.
The Fed menurunkan suku bunga acuan, Fed Fund Rate, sebesar 50 basis poin menjadi 1,0-1,25 persen. Keputusan ini diambil dalam pertemuan dadakan, di luar jadwal rapat dewan gubernur yang seharusnya 17-18 Maret mendatang.
Dilansir Reuters, Rabu (4/3), Dow Jones Industrial Average turun 2,94 persen menjadi berakhir pada 25.917,41 poin, sementara S&P 500 kehilangan 2,81 persen menjadi berakhir pada 3.003,37, dan Nasdaq Composite turun 2,99 persen menjadi 8.684,09.
Penurunan bunga acuan di luar jadwal itu menambah kekhawatiran investor terhadap perekonomian global virus corona. Meski sebenarnya pasar menghargai keputusan The Fed tersebut.
“Pemotongan suku bunga menggarisbawahi besarnya masalah yang dihadapi ekonomi global,” kata Peter Kenny, pendiri Kenny Commentary LLC dan Strategic Board Solutions LLC di New York.
“Biasanya, pasar akan menyambut penurunan suku bunga, dan mereka berharap untuk itu. Sekarang kita sudah mendapatkannya, pertanyaannya adalah, apa selanjutnya?” katanya.
Imbal hasil US Treasury tenor sepuluh tahun turun di bawah 1 persen, ini terjadi pertama kalinya karena investor gugup memindahkan uang dari pasar saham.
Indeks keuangan S&P anjlok 3,7 persen, mencerminkan adanya kesulitan di perbankan dalam menghasilkan keuntungan di tengah suku bunga rendah.
Aksi jual membuat S&P 500 turun sekitar 11 persen dari penutupan tertinggi pada 19 Februari. Semua sektor utama di S&P 500 jatuh, dengan indeks teknologi dan informasi merosot 3,8 persen. Apple dan Microsoft masing-masing turun 3,2 persen dan 4,8 persen.
Saham produsen peralatan kesehatan, Thermo Fisher Scientific, naik 1,8 persen setelah menawarkan USD 11,6 miliar kepada perusahaan pengujian genetik Jerman Qiagen. Pembuat masker pelindung, Alpha Pro Tech, melonjak hampir 20 persen.
Sebanyak 14,7 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, jauh lebih timggi dibandingkan dengan rata-rata 9,8 miliar saham selama 20 hari terakhir.