The Fed Naikkan Suku Bunga, Wall Street Melemah

Pada perdagangan hari Kamis (3/11/2022), indeks saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah sesi keempat berturut-turut. Hal itu karena rilis data ekonomi tetap memprediksi bank sentral AS Federal Reserve atau The Fed akan terus menaikkan suku bunga lebih lama dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Mengutip Reuters, Jumat (4/11), Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 146,51 poin atau 0,46 persen menjadi 32.001,25. S&P 500 (.SPX) kehilangan 39,8 poin (1,06 persen) ke 3.718,89, dan Nasdaq Composite (.iXIC) turun 181,86 poin atau 1,73 persen menjadi 10.342,94.

Rilis data ekonomi pada hari Kamis menunjukkan pasar tenaga kerja tetap menguat, meskipun ada perbedaan laporan bahwa pertumbuhan di sektor jasa melambat di Oktober, yang menjaga The Fed tetap agresif untuk menaikkan suku bunga.

Menyusul pernyataan Federal Reserve pada hari Rabu (2/11), komentar Ketua The Fed Jerome Powell tentang gegabah untuk menghentikan kenaikan suku bunga menyeret saham AS lebih rendah seperti imbal hasil obligasi dan dolar AS naik hingga hari Kamis ini.

“Bertahun-tahun lalu, peran The Fed adalah menjaga keseimbangan dalam perubahan yang sulit. Anda ingin ekonomi melambat untuk menjaga inflasi agar tak lepas kendali, tetapi ingin pendapatan yang cukup dalam mendukung harga saham,” ujar pekerja di Cherry Lane Investments di New Vernon, RIck Meckler.

Para pelaku pasar terbagi antara potensi menaikkan 50 basis poin (bps) dan 75 bps pada bulan Desember. Suku bunga the Fed akan mencapai puncak minimal 5 persen, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya di kisaran 4,5 persen sampai 4,75 persen.

Investor akan mencermati laporan non farm payrolls yang akan dirilis pada Jumat (5/11) untuk melihat kenaikan suku bunga the Fed berdampak pada perlambatan ekonomi.

Berdasarkan Refinitiv, dengan sekitar 80 persen perusahaan S&P 500 melaporkan pendapatan, prediksi tingkat pertumbuhan adalah 4,7 persen atau naik sedikit dari 4,5 persen pada awal Oktober.

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (4/11). Pada perdagangan hari Kamis (3/11), IHSG ditutup menguat pada 18,88 poin (0,27 persen) ke level 7.034,57.

Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia, Dennies Christopher mengatakan, IHSG ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya karena didorong oleh musim rilis kinerja emiten kuartal III 2022 dan beberapa yang merencanakan pembagian dividen interim.

Dia melihat pergerakan cenderung terbatas karena tekanan bursa saham global setelah kenaikan suku bunga The Fed.

“IHSG diprediksi melemah. Secara teknikal candlestick membentuk lower high dan lower low mengindikasikan potensi pelemahan namun dengan rentang yang cukup terbatas dengan support terdekat pada MA5 dan MA20,” kata Dennies dalam analisisnya, dikutip Jumat (4/11).

Dennies memperkirakan IHSG resistance di level 7.068-7.103 dengan support di level 6.927-6.980. Menurutnya, hari ini IHSG masih ditopang oleh rilis kinerja kuartal III 2022, serta rencana pembagian dividen interim beberapa emiten.

Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya mengatakan, akhir pekan pertama bulan November ini IHSG masih terlihat berada dalam rentang konsolidasi. Dia memprediksi IHSG berpotensi tertekan pada perdagangan hari ini dengan pergerakan berada di rentang 6.954-7.172.

“Pola sideways dengan potensi tekanan yang masih terlihat besar, saat ini ditopang oleh laporan kinerja emiten yang diharapkan dapat memberikan sentimen positif sehingga dapat menopang pergerakan IHSG hingga beberapa waktu mendatang, hari ini IHSG berpotensi tertekan,” ujar William.

Beberapa saham yang direkomendasikan William hari ini di antaranya HMSP, WIKA, WTON, ASRI, UNVR, ICBP, BBCA, BBNI, dan ASII.

 

Leave a Comment