Tertekan Perbaikan Tenaga Kerja AS, Wall Street Anjlok Lebih dari 1 Persen

Pada perdagangan Kamis (5/1/2023), Indeks saham utama Wall Street tercatat anjlok. S&P 500 (.SPX) turun 1,2 person, Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 1 persen, dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 1,5 persen.

Merosotnya tiga indeks utama Wall Street karena tertekan perbaikan data tenaga kerja di Amerika Serikat. Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP pekan lalu menunjukkan kenaikan jumlah pekerja swasta di AS yang lebih tinggi daripada perkiraan pada Desember. Laporan lain memperlihatkan klaim pengangguran mingguan turun pekan lalu.

Kumpulan data lain menunjukkan penurunan moderat dalam lowongan pekerjaan AS. Meski pasar tenaga kerja yang kuat biasanya akan disambut sebagai tanda kekuatan ekonomi, investor saat ini melihatnya sebagai alasan Fed mempertahankan suku bunga tinggi.

“Sangat jelas bahwa kabar baik di pasar tenaga kerja berarti kabar buruk bagi pasar saham. Data menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja sangat tangguh,” kata Kepala Strategi Pasar Ameriprise di Tory Michigan, Anthony Saglimbene, kepada Reuters, Jumat (6/1).

Di sisi lain, China tiba-tiba mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di negaranya di tengah naiknya kasus COVID-19. Pelonggaran aktivitas masyarakat ini diharapkan bisa menggerakkan ekonomi China agar bisa mengimbangi perlambatan ekonomi di dalam dan luar negeri.

“Tapi, di luar keterbukaan China, investor cenderung tetap relatif defensif dan mungkin obligasi underweight dan saham dan cukup netral pada komoditas,” kata Mitra pengelola di SPI Asset Management, Stephen Innes.

Pengumuman tersebut membuat saham di Asia mulai naik, dipimpin indeks Hang Seng (HSI) di Hong Kong yang mencatatkan level tertinggi selama enam bulan. Kenaikan paling besar dari saham konsumen.

Mata uang China, Yuan, juga naik 0,11 persen ke posisi 6.880. tertinggi selama 4,5 bulan dan mendongkrak mata uang negara lain seperti Baht Thailand.

“Pembukaan kembali China berdampak besar … di seluruh dunia,” kata Ahli strategi investasi di DBS Bank di Singapura, Joanne Goh, karena tidak hanya mendorong pariwisata dan konsumsi tetapi juga dapat meredakan beberapa krisis rantai pasokan yang terlihat selama tahun lalu.

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari Jumat (6/1). Pada perdagangan Kamis (5/1), IHSG ditutup melemah 159,39 poin (2,34 persen) ke level 6.653,841.

Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang memperkirakan resistance di 6.780, sedangkan support di posisi 6.600.

“Waspadai critical support level 6.600 di perdagangan Jumat. IHSG berpotensi membentuk through, jika pelemahan tertahan pada kisaran level tersebut,” tulis Alrich dalam risetnya, Jumat (6/1).

Sebaliknya, lanjut Alrich, pelemahan masih dapat berlanjut apabila IHSG breaklow 6.600 tersebut. IHSG tertekan pelemahan harga komoditas energi di perdagangan Rabu (4/1).

Akan tetapi, harga minyak rebound 0,5 persen di Kamis sore (5/1) dan harga gas rebound lebih dari 1 persen di waktu yang sama. Kondisi ini mungkin meredam aksi jual pada saham energi di Jumat (6/1).

“Dengan demikian, pelemahan IHSG juga diperkirakan lebih terbatas di Jumat. Selain itu, mayoritas indeks regional ditutup menguat di Kamis, berlawanan dengan IHSG,” katanya.

Alrich memproyeksi kondisi ini berpotensi meredam tekanan jual IHSG di akhir pekan ini. Sementara itu, Analis Sinarmas Sekuritas, Mayang Anggita mengatakan IHSG menghadapi uji Support pada titik previous Low di angka 6642.

“Level ini menjadi krusial untuk dijaga, sebelum melanjutkan pelemahan menuju support selanjutnya di range 6.505-6.480,” tuturnya.

Menurut Mayang, para pemodal bisa fokus pada pergerakan harga per satuan saham, dan memanfaatkan momentum ini untuk lakukan buy on seakness atau tunggu di sekitar area support.

Kemudian, Alrich merekomendasikan pelaku pasar dapat mencermati potensi rebound pada MIKA, SSMS, BBTN dan MAPI, serta peluang speculative buy di BBCA, BBRI dan BBRI.

 

Leave a Comment