Strategi scalping (hit & run) adalah suatu teknik trading yang mengincar cuan dari aktivitas membeli lalu menjual saham dalam waktu singkat. Banyak orang tertarik untuk menggunakan strategi ini, karena dianggap dapat menghasilkan cuan dengan cepat. Namun, sebenarnya tak semua saham cocok untuk scalping.

Kesuksesan strategi scalping bergantung pada banyak prasyarat. Apabila salah satu prasyarat itu tak terpenuhi, trader kemungkinan bakal nyangkut pada tingkat harga saham yang tak diinginkan. Berikut ini tiga prasyarat utama bagi saham yang cocok untuk scalping:
- Saham harus memiliki likuiditas yang tinggi.
Likuiditas yang tinggi dapat dilihat dari entry bid dan offer yang melimpah setiap hari, sehingga kita mudah memeproleh penawaran pada harga yang kita inginkan. Saham berlikuiditas tinggi akan lebih mudah dijual daripada saham berlikuiditas rendah. Di sisi lain, saham berlikuiditas rendah berisiko susah dijual lagi meskipun kita sudah banting harga.
- Riwayat pergerakan harga saham harus menunjukkan fluktuasi harian yang cukup tinggi.
Apabila memantau harga-harga saham dalam sehari perdagangan bursa, kita akan menemukan adanya saham-saham yang cenderung flat dan fluktuatif. Harga saham yang flat itu paling-paling naik-turun kurang dari 10 poin dalam sehari, atau bahkan tak berubah sama sekali meski jumlah bid dan offer-nya banyak. Sedangkan harga saham yang fluktuatif dapat naik-turun antara puluhan hingga ratusan rupiah dalam sehari.
- Harga saham saat ini tidak boleh terlalu mahal.
Scalper mengincar keuntungan cepat dari beli lalu jual dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Namun, rentang pergerakan harian saham tentunya tak sebesar pergerakan saham dalam jangka panjang. Jadi, scalper cuma punya satu cara untuk meningkatkan profit: membeli dan menjual saham dengan jumlah lot yang banyak.
Semakin banyak jumlah lot per transaksi, semakin besar cuan yang dapat dibawa pulang. Dalam konteks ini, harga saham untuk scalping tidak boleh terlalu mahal.
Jadi, saham seperti apa yang cocok untuk scalping? Saham lapis dua (second liner) merupakan pilihan yang tepat untuk scalping dengan risiko relatif moderat. Saham lapis tiga (junk stock) memiliki volatilitas harga yang tinggi dan bisa menjadi sasaran scalping, tetapi risikonya lebih besar karena kemungkinan termasuk saham gorengan.
Bagaimana dengan saham blue chip? Apabila memiliki modal melimpah, tentu kita juga bisa scalping pada saham blue chip. Namun, hasil dari scalping pada saham-saham berharga mahal ini kemungkinan kalah dari hasil scalping pada saham second liner.
Tagged With : saham • scalping