Saham-saham Paling Mahal di Bursa Efek Indonesia

Pernahkah Anda mendengar istilah saham sultan? Julukan itu lahir sebagai sebutan bagi beberapa saham dengan nilai nominal paling mahal di Bursa Efek Indonesia (IDX). Tapi, emiten mana sajakah yang tergolong saham paling mahal ini dan bagaimana prospeknya?

Saham termahal di Indonesia adalah saham PT Gudang Garam (GGRM). Harga sahamnya mahal dan jumlah saham beredar cukup banyak, sehingga emiten ini juga tercatat sebagai salah satu saham dengan kapitalisasi terbesar. Di belakang GGRM ada saham-saham bank BCA (BBCA) yang dinobatkan sebagai salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara beberapa waktu lalu. Kemudian ada pula United Tractors (UNTR) dan banyak lagi.

Cara Menghasilkan Uang Dari Reksa Dana

Secara urut, berikut ini sepuluh (10) saham paling mahal tersebut dan harga saham masing-masing berdasarkan penutupan terakhir:

  1. PT Gudang Garam (GGRM): Rp 54.175 per lembar
  2. PT Bank Central Asia (BBCA): Rp 32.650 per lembar
  3. PT United Tractors (UNTR): Rp23.475 per lembar
  4. PT Indocement Tunggal Prakasa (INTP): Rp11.800 per lembar
  5. PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP): Rp10.100 per lembar
  6. PT Semen Indonesia (SMGR): Rp9550 per lembar
  7. PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP): Rp9500 per lembar
  8. PT Indo Tambangraya Megah (ITMG): Rp8200 per lembar
  9. PT Unilever Indonesia (UNVR): Rp8200 per lembar
  10. PT Indofood Sukses Makmur (INDF): Rp7200 per lembar

Beragam industri terwakili dalam daftar tersebut, tetapi bidang paling menonjol adalah sektor barang konsumsi (Consumer Goods) yang mencakup GGRM, ICBP, UNVR, dan INDF. Sektor ini juga cukup tahan banting. Meskipun sempat terjungkal berbarengan dengan saham sektor-sektor lainnya akibat pandemi COVID-19 pada awal tahun, tetapi lebih cepat bangkit kembali. Permintaan terhadap barang-barang konsumsi dianggap cukup stabil dibandingkan sejumlah sektor lain seperti properti dan tambang.

Nah, apakah Anda tertarik untuk mengoleksi salah satunya? Yang perlu diperhatikan, harga saham mahal belum tentu memiliki prospek paling menguntungkan. Kita tetap perlu menganalisis saham tersebut untuk memeriksa apakah posisi harga saat ini masih undervalued atau sudah overpriced. Jika ingin investasi jangka panjang, investor saham perlu memastikan pula apakah emiten rajin membagikan dividen dalam jumlah besar setiap tahunnya.

Tagged With :

Leave a Comment