Saham Perusahaan Teknologi Dominasi Pasar Saham di AS

Berita tentang pandemi covid-19 belumlah menggembirakan. Fakta ini terjadi di seluruh dunia. Pandemi gelombang kedua terjadi di negara-negara yang pada awalnya telah melaporkan penurunan kasus. Kondisi ini dinilai akan kembali membahayakan perekonomian, terutama di negara yang kembali melakukan lockdown. Sementara itu, pasar saham terus bergerak. Bagi banyak orang, hal ini terlihat kontra-intuitif. Perkembangan saham terlihat cukup meyakinkan di beberapa sektor, terutama saham di perusahaan-perusahaan berbasis teknologi. Bahkan, saham perusahaan teknologi dinilai menjadi penggerak utama pasar saham saat ini.

Saham Perusahaan Teknologi Menjadi Penggerak Pasar di AS?

Seperti diketahui, imbauan untuk menjaga jarak dan bekerja dari rumah membuat banyak perusahaan memanfaatkan teknologi, terutama video conference, untuk berkomunikasi, rapat virtual, webinar, dan sebagainya. Pandemi covid-19 telah menjadi pusat segalanya. Namun ternyata, masalah kesehatan yang telah memicu krisis perekonomian di seluruh negara ini justru memberi keuntungan bagi saham perusahaan teknologi.

saham perusahaan teknologi

Covid-19 dianggap sebagai penggerak aktivitas perdagangan di pasar saham sejak bulan Februari. Di awal krisis ini, ada proyeksi yang mengatakan bahwa shut-down perekonomian akan memangkas aktivitas perekonomian dan pasar surat berharga akan menderita. Itulah yang terjadi pada bulan pertama. S&P mengalami penurun hingga 35% dari akhir Februari ke bulan Maret.

Saat ini, kasus Covid-19 masih terjadi di Amerika Serikat. Mungkin saja, para investor berfikir bahwa akan penjualan saham besar-besaran akan terjadi kembali seperti halnya di bulan Maret. Skenario seperti ini mungkin saja terjadi. Namun sepertinya, para investor mulai mencari sektor yang aman dan dinilai berpotensi besar untuk memberikan hasil yang positif. Investasi kini banyak diarahkan ke sektor yang dinilai paling aman. Salah satunya adalah saham di perusahaan yang bergerak di bidang teknologi.

Di masa lalu, ketika investor merasa khawatir, mereka biasanya akan memilih memindahkan investasi mereka ke asset yang dinilai aman. Salah satu pilihannya adalah obligasi pemerintah (Treasury bond). Ketika pemerintah memutuskan untuk menurunkan suku bunga bang dan investor beralih ke asset yang aman, tidak mengherankan jika obligasi pemerintah selama 20 tahun telah mengalami kenaikan hingga 24% sampai saat ini.

Saham Perusahaan Teknologi Menunjukkan Kinerja Positif

Seperti diketahui, Federal Reserve (the Fed) telah menyuntikkan uang triliyunan dollar ke pasar finansial Amerika Serikat. Tidak heran jika kebijakan ini membuat para investor khawatir akan terjadinya devaluasi nilai Dollar Amerika Serikat dan terjadinya aliran dana investasi ke emas. Pasalnya, ETF emas justru mengalami kenaikan hingga 18% per tahun saat ini.

Memang, saham dan obligasi pemerintah kerap mengalami apresiasi (kenaikan) selama periode ketidakpastian dalam perekonomian. Namun, satu hal yang tidak diperkirakan adalah besarnya aliran dana investasi di pasar saham terkait dengan pandemi covid-19. Perusahaan-perusahaan yang berkinerja baik di lingkungan virtual justru menerima banyak aliran investasi dan penurunan harga sahamnya juga tidak begitu signifikan. Hal yang sama juga terjadi pada perusahaan yang menjual barang-barang kebutuhan pokok.

Beberapa contoh, saham Apple, AAPL, turun -0,2%, saham Microsoft, MSFT, turun -0.5%, dan saham Amazon, AMZN, turun -1,3%. Demikian juga dengan Google dan beberapa perusahaan besar lainnya di Nasdaq, NDAQ, naik +1.1%. Sebaliknya, Nasdaq 100 ETF, yang juga dikenal sebagai QQQ, justru menunjukkan kenaikan mencapai 20% pertahun. Ini menunjukkan bahwa ETF merupakan salah satu investasi pengaman di pasar saham saat ini.

Di sisi lain, ETF di S&P 500 justru mengalami penurunan hingga 12% per tahun. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan aliran dana investasi bergerak di luar siklus, tidak lagi mengalir ke perusahaan yang memberikan pelayanan langsung kepada konsumen secara tradisional. Karena saham perusahaan teknologi dengan kapitalisasi besar mendominasi indeks pasar saham belakangan ini, dampaknya secara keseluruhan adalah penurunan S&P 500, meskipun tidak begitu besar. Lagipula, mayoritas saham memang mengalami penurunan pada tahun ini.

Saham Perusahaan Teknologi dan Saham Defensif

Satu fakta lagi yang terungkap dari indeks pasar saham setelah pandemi covid-19 ini adalah bahwa saham defensive (defensive stocks) ternyata didominasi oleh perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan dasar, pelayanan kesehatan, dan kebutuhan pokok. Intinya adalah: meskipun kasus Covid-19 kembali mengalami kenaikan, termasuk di Amerika Serikat, bukan berarti pasar saham mengalami depresiasi secara materil. Sebaliknya, jika Covid-19 membuat dana investasi mengalir ke saham perusahaan teknologi terbesar, yang memang mendominasi indeks utama di pasar saham, maka kita tentunya akan melihat apresiasi indeks di lingkungan yang lebih luas.

Lalu, apa yang akan terjadi jika pandemi ini berkurang? Outcome pasar yang diharapkan mulai dari semester kedua tahun ini adalah adanya terobosan baru tentang vaksinasi Covid-19, atau pengobatan untuk covid-19, atau keduanya. Jika salah satu atau keduanya terwujud, maka diperkirakan gap kinerja antara perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor terkait covid-19 akan semakin mengecil. Banyak saham  yang diperdagangkan dengan valuasi yang cukup menarik, terutama saat krisis mulai reda.

Tagged With :

Leave a Comment